Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Yang Pasti
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 21 Oktober 2002
Saya bukan ahli hukum Islam. Tetapi, yang saya tahu, secara umum, salah satu cara mencapai keadilan adalah dengan adanya kepastian hukum. Dalam konteks ini, ahli hukum Islam Australia, Jamila Hussein, menyimpulkan bahwa dalam beberapa aspek, hukum Islam memiliki kelebihan justru karena dilindungi dari perubahan yang mendasar. Ia lebih menjamin kepastian hukum, dan karenanya, adil.
Pertanyaannya, jika hukum Islam itu adil, bagaimana praktiknya?
Dengan asumsi bahwa hubungan antarmanusia ditentukan oleh hubungan antara manusia dengan Pencipta, para ahli agama Islam telah berusaha merumuskan dasar-dasar berhubungan dengan Sang Pencipta yang harmonis. Intinya adalah bahwa zat-Nya mahatunggal dan tidak boleh dipertanyakan, bahwa Ia menciptakan segala sesuatu pastilah bukan untuk kesia-siaan, dan bahwa adalah hak-Nya untuk diprasangkai dengan baik.
Mendekatkan diri kepada-Nya adalah proses tanpa akhir untuk tidak hanya tahu, tetapi juga mengenal kehendak-kehendak-Nya, dan memenangkan kehendak-Nya dari kehendak diri sendiri. Singkatnya, hukum Islam itu adil karena menjamin kepastian hukum. Dan untuk membuat keadilan hukum Islam itu bersinar dalam kenyataan, kehendak-Nya harus menang dari kehendak manusia. Jelas? Mohon maaf, bagi saya belum.
Pengeboman di Bali itu kehendak siapa? Jika bukan kehendak-Nya, mengapa yang hancur adalah daerah wisata yang dipenuhi oleh orang-orang yang akrab dengan barang-barang yang diharamkan oleh agama, seperti minuman beralkohol dan babi? Jika kehendak-Nya, mengapa bom itu membuat kematian itu begitu mengerikan, dengan ekonomi nasional Indonesia dan wajah ramah dan santun pemeluk Islam Asia Tenggara sebagai taruhan? Diam-diam, saya sendiri bertanya dalam hati, bagaimanakah perasaan pengebom setelah bom itu meledak? Bagaimana mungkin ia bisa makan dan tidur enak setelah membunuh ratusan turis yang tidak tahu apa-apa dan membuat pemeluk Islam yang juga tidak tahu apa-apa menjadi kambing hitam? Tidak pernahkah terpikir dalam benaknya, seandainya ia adalah orang-orang yang terkorbankan itu? Satu hari setelah peristiwa Bali, sebuah radio terkemuka Australia mewawancarai seorang warga negaranya yang beragama Islam keturunan Lebanon.
Pertanyaannya dipenuhi paranoia seseorang yang baru terluka, yang dengan kritis berusaha meyakinkan bahwa tidak ada gunting yang akan menusuk punggung di balik selimutnya yang nyaman. Ketika dengan tenang, orang Lebanon itu menjawab bahwa ia meletakkan nasionalismenya sebagai orang Australia lebih tinggi daripada kelibanonannya, dan ia meletakkan keislamannya lebih tinggi daripada nasionalismenya, serta-merta ia disembur dengan prasangka bahwa ia akan segera bergabung dengan aksi terorisme internasional sebagai bagian dari solidaritas agama. Syukurlah orang Lebanon itu dengan bijak mengklarifikasi bahwa di dalam hukum Islam, ada jihad, tetapi tidak ada teror. Jihad adalah etika berperang, dan di dalamnya, membunuh penduduk sipil yang tidak tahu apa-apa itu diharamkan. Pewawancara itu pun melunak.
Kehendak siapa pengeboman Bali itu? Kehendak jaringan teroris internasional, kaki tangan Tommy Suharto, gerakan separatis nasional, atau justru Amerika sendiri? Jika alasan pengeboman itu adalah untuk menegakkan keadilan-Nya dan menegakkan kehendak-Nya, alasan itu adalah alasan paling naif yang pernah saya dengar. Tetapi, tidak ada sesuatu pun yang berjalan di luar kekuasaan-Nya, itu juga betul. Jadi, saat ini, tidak ada yang pasti. Hanya, cahaya kebijakan orang Lebanon itu, itu pasti.

Comments»
no comments yet - be the first?