jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Yahudi

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 17 Juni 2002

Yahudi adalah salah satu bangsa yang diisyaratkan dalam kitab suci lebih dari satu agama, baik secara positif maupun negatif. Nabi-nabi sebelum Rasulullah berasal dari bangsa Yahudi. Tetapi, dalam Al Qur’an Yahudi juga disebut-sebut telah mengkhianati satu janji humanistik terindah kepada Allah untuk tidak menumpahkan darah, mengusir, dan menciptakan permusuhan untuk saling menguasai di antara saudara-saudara mereka, yang pada hakekatnya adalah diri mereka sendiri (QS 2 : 84-85).

Ketika perang dunia kedua, migrasi bangsa berhidung mancung dan berambut coklat terang ini telah menjadikan mereka sasaran kemarahan yang paling sadistik dari para kulit putih berambut pirang Eropa yang tengah yang terpojok oleh rasa terancam mereka sendiri baik secara politik, ekonomi, maupun budaya.

Kini, sebaliknya, Yahudi adalah bangsa yang dapat memandang tumpahnya darah anak-anak Palestina yang memprotes senapan mereka dengan katapel di daerah sengketa Palestina dan Israel, dengan dingin-dingin saja. Dengan kekuatan berpikirnya yang melegenda, bangsa ini dapat menetralisasi kekerasan yang ditimbulkan oleh muntahan senapannya sendiri dengan aksi proyeksi yang mencengangkan sekaligus mendirikan bulu roma hati nurani, kalau bulu roma macam ini ada.

Beberapa gadis Yahudi, dengan senyum ”inosennya”, mempromosikan gerakan anti kekerasan terhadap anak-anak dengan menyebarkan pamflet berjudul,Hentikan kekerasan terhadap anak-anak dengan mengirimkan anak-anak di bawah umur ke medan peperangan.

Seorang anak kecil protes kepada ibunya, ”Ibu, saya tidak tahan dengar cerita anak laki-laki Palestina yang tewas diberondong peluru tentara Yahudi. Mengapa, sih, rebutan tanah bisa bikin semua bapak mati sampai anak-anak mereka harus ikut mati seperti itu? Siapakah Yahudi itu?”

Terpojok oleh pertanyaan sederhana, tetapi cerdas itu, sang ibu menjawab, ”Yahudi adalah orang-orang yang pintar berselisih.”

Jika mereka tercipta sebagai ahli perselisihan, boleh jadi itu benar. Musa yang menentang Firaun adalah salah satu ahli berontak paling luhur dalam sejarah. Para filosof skeptis berlogika kritis didominasi oleh orang-orang Yahudi. Tetapi, pembunuh paling berdarah dingin, yang tega memproyeksikan kesalahannya kepada korbannya sendiri, juga adalah keparat Yahudi.

”Bu,” kata anak kecil itu lagi. Ia anak berkulit sawo matang yang baru masuk ke dalam kelas mulitkultur. ”Di kelas saya yang baru, banyak orang kulit putih berambut kuning. Lalu, saya punya teman baru yang amat baik dan membantu. Namanya James. Dia berambut coklat dan berhidung mancung. Ayahnyakah yang menembak anak Palestina itu?”

Dan ibu itu menjawab dengan agak putus asa, ”Mungkin dia baik seperti Nabi Musa. Ibu kira, Yahudi itu bukan orang, tapi perilaku. Dua temanmu berambut pirang yang bertengkar tanpa ada yang mau mengalah sebelum berdarah itu lebih cocok punya bapak yang menembak anak Palestina itu.

Menjadi sekualitas para nabi atau menjadi keparat karena perselisihan, bukankah itu juga masalah pilihan eksistensial kita di hadapan-Nya?

Comments»

1. papabonbon - Fri, 2 Feb 2007

mbakyu miranda,

jikalau mmang perilakunya yg dibenci, kenapa suku bangsa atau etnisnya yg disebut sebut. sebagai seorang doktor ilmu hukum, mbakyu mestinya bisa membedakan hal tersebut.

mohon maaf jika tidak berkenan di hati.



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.