jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Totoro

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 17 Nopember 2003

Anak tertua saya yang sudah mulai memasuki usia pra remaja minta izin untuk bermalam di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Rupanya ia telah mulai menemukan kegelisahannya sebagai seorang manusia muda, yang mendambakan persahabatan esensial dengan dirinya sendiri.

Ketika baru masuk sekolah dasar, ia sering melihat orang-orang dewasa di sekitarnya menikmati keterlibatan dalam lingkaran pengajian dan zikir. Ia bertanya, mengapa keterlibatan itu tampak begitu mengasyikkan. Lalu saya menjawab, karena semuanya ingin melihat Allah.

Lalu ia bertanya lagi, bagaimana Allah bisa dilihat. Dan saya katakan bahwa Allah hanya bisa dilihat oleh mata hati, dan lingkaran pengajian dan zikir itu adalah cara agar mata hati setiap orang bisa terbuka kepada-Nya.

Lalu, malam pun mengabadi, ketika dengan mata kanak-kanaknya yang membesar, bocah 6 tahun itu berkata, ” Bu, nanti, saya juga ingin melihat Allah.”

Untuk niatnya yang indah itu, saya hanya bisa mengatakan, bahwa melihat Allah adalah seperti merasakan hadirnya Sang Sahabat Sejati. Tetapi, adik-adiknya rupanya agak berbeda. Memang, tidak ada anak kecil yang hidup di kota kini betul-betul steril dari layar televisi, bukan?

Untuk menghindari perilaku adiktif bertelevisi, adik-adiknya saya biasakan untuk menonton film pinjaman yang sudah jelas temanya. Dan, mereka pun kini memiliki sebuah film kartun favorit produksi Jepang, dengan ikon seekor makhluk raksasa bernama Totoro.

Totoro adalah makhluk misterius. Ia tinggal di dalam hutan di samping rumah dua kakak-beradik yang masih kecil. Ketika ibu kedua anak kecil itu harus dirawat di rumah sakit, ayah mereka terpaksa menjadi orang tua tunggal untuk beberapa waktu.

Ada saat-saat ketika rumah mungil itu kosong dari orang dewasa, karena sepulang kerja, ayah mereka harus menjenguk ibu mereka dulu dan baru pulang larut malam. Film ini jadi mengharukan karena berkisah tentang usaha kedua anak kecil itu untuk bertahan dalam kesendirian yang menggentarkan. Kesendirian, yang justru selalu memanggil Totoro datang.

Totoro bertubuh setinggi beruang, dengan mata kecil polos penuh persahabatan. Ketika kedua anak itu kehujanan malam-malam menunggu ayah mereka pulang di pemberhentian bus, Totoro datang membawakan payung. Ketika tanaman mereka hampir mati, Totoro datang di lubuk malam dan membuat tanaman segar kembali.

Ketika siang hari anak-anak itu kesepian, Totoro pun mengajak mereka masuk ke dalam guanya yang asri dan sunyi, dan membiarkan mereka merasakan perutnya yang tambun sebagai bantal tidur siang. Dan, ketika mereka amat ingin ikut ayahnya menjenguk ibunya yang sakit, Totoro mengajak mereka terbang dengan gasing di kakinya, menyapa bintang-bintang, menengok ibunya dari ketinggian. Menariknya, hanya kedua anak itu yang dapat melihat Totoro.

Adalah semangat cinta yang putih, usaha, dan kepolosan anak-anak itulah yang membuat Totoro datang. Totoro mungkin hanya bentuk proyeksi dari kekuatan manusia-manusia lemah seperti kedua anak kecil itu. Tetapi, ia adalah sebentuk pertolongan yang hadir dari arah yang tidak pernah disangka-sangka, ketika malam telah terlalu gulita menyelimuti kesadaran.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan ini, bersama anak-anak saya yang masih kecil, saya jadi punya harapan sederhana. Semoga Allah mau menghadirkan kehangatan senyum Totoro, yang selalu menghidupkan malam dengan pertolongan. Melihat Allah adalah perjalanan pendewasaan spiritual yang amat panjang. Tetapi, bukankah semesta ini dipenuhi contoh-contoh kasih-sayang-Nya?

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.