jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Teguh

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 13 Januari 2003

Teguh namanya. Ia salah seorang anak di Kampung Pasirlayung, Padasuka Atas, Kabupaten Bandung. Tiga tahun yang lalu, anak itu sering bermain di samping rumah-rumah mentereng yang baru didirikan di pinggir kampung itu, ketika anak-anak lain sebayanya sedang sibuk belajar di sekolah. Di antara teman-temannya yang juga jarang masuk sekolah, ia pun jarang mandi. Saya mengenalnya pertama kali ketika ia dihindari oleh kawan-kawan mainnya gara-gara ada koreng bekas gatal di tangannya.

Ketika itu, Teguh tidak sekolah bukan karena tidak mau, tetapi tidak bisa. Biaya SPP yang terutang terlalu banyak sudah cukup membuatnya enggan bertemu dengan gurunya. Teguh juga jarang mandi bukan karena dia tidak suka mandi. Rumahnya terletak di daerah perbukitan kerakal yang minim air di musim kemarau. Jika pun orang tuanya memiliki air, itu didapat dari menimba dua ember air yang harus dipikul dengan susah-payah dari sumber air di lembah ke rumahnya. Air itu tentu saja lebih baik digunakan untuk minum dan memasak. Untuk mencuci, ibunya harus turun lebih jauh lagi ke kali; kali yang cokelat tidak hanya oleh tanah, tetapi juga oleh sampah dan kotoran manusia.

Di kali itu Teguh biasa mandi untuk terlihat cukup bersih, tanpa mempedulikan bakteri lain menempel di kulitnya. Mandi dengan sabun antikuman tentu terlalu mewah baginya. Jadi, Teguh hanya mandi seadanya sekali-sekali saja. Jika kuman dan frekuensi mandi yang rendah itu kemudian membuat badannya gatal-gatal, ya digaruk saja.

Di benak Teguh kecil ada tekad yang membaja untuk membantu orang tuanya mencari uang. Hanya apa daya, usianya belum lagi sepuluh tahun. Maka, ketika teman-teman sepenanggungannya hanya berlari dari rumahnya untuk menghindar dari kekurangan biaya hidup, Teguh punya solusi. Dicarinya kawat buangan dan kaleng bekas. Ditusuknya beberapa potongan kaleng itu dengan kawat, dan ketika karyanya itu digoyang, jadilah alat musik “kecek-kecek” untuk bernyanyi di lampu merah.

Beberapa teman saya, yang masih membiarkan hangat di hatinya menyala, nelangsa melihat keteguhannya. Ia tidak sempat menikmati membaca, menulis, dan berhitung di saat yang seharusnya dia sudah lancar mengarang atau perkalian. “Teguh tidak mau sekolah,” kata kawan-kawannya.

Tetapi, ketika suatu kali acara sosial gratis dari dan untuk anak-anak kampung itu diadakan dan ia diajak untuk mempertunjukkan kreativitasnya, dikeluarkannya “kecek-kecek”-nya dan didendangkannya sebuah lagu dangdut dengan percaya diri. Ketika ditanya, apakah ia sebetulnya ingin sekolah. Dengan singkat, datar, tetapi penuh tekanan, dijawabnya, “Mau!” Ketika itu, dengan sukarela, beberapa teman saya akhirnya dapat mengajarinya membaca, menulis, berhitung, dan membuatnya tidak malu untuk bersekolah lagi. Saya ingat air mata yang keluar begitu saja ketika kali pertama sebelum ia berangkat sekolah lagi, dengan seragam bekas yang sudah didapatnya, ia khusus datang kepada teman-teman saya hanya untuk berkata bungah, “Kak, saya akan sekolah.”

Kini, tiba-tiba saya mendengar nama itu lagi, hanya untuk sebuah kabar bahwa kini ia sudah tidak sekolah lagi. Teguh bahkan sudah hilang, seperti ditelan bumi. Dengan menulis tentangnya izinkan saya berangan-angan, moga-moga Teguh yang hilang adalah salah satu penjual koran ini, lalu Tuhan tiba-tiba mengetuk hatinya untuk membaca kolom ini, hingga Sang Duka masih bisa melihatnya tersenyum karena, sungguh, ia sebetulnya masih diingat dan disayang. Jika putus asa sudah pasti dosa, semoga Tuhan masih mengampuni angan-angan saya. **

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.