Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)
Surti
Posted in Cerpen , trackbackMiranda Risang Ayu
Cerpen, Jurnal Ulumul Qur’an, 1991
Namanya Surti, kelahiran Dusun Pucung, Gunung Kidul. Ia biasa bangun sebelum matahari terbit dan membantu simboknya mengangkut hasil huma tumpangsari ke petak jualan di pasar Trowono. Waktunya memasak bekatul agak siang, sebelum bapaknya pulang bercocok tanam. Bersama simboknya, ia juga biasa membuat lauk sejenis urap. Kadang-kadang dengan daun pepaya, daun singkong atau jagung dari samping rumah saja. Atau ditambah ikan asin lima puluh rupiahan segenggam jika simboknya dapat uang berlebih. Dua hari sekali ia mencuci pakaian, berendam sekaligus memandikan kerbaunya di cekungan tadah huan, sekitar tiga kilometer dari gubuknya.
Wajah Surti manis dan kulitnya sawo matang. Tubuh Surti mungil dan ramping, tampat gesit bertahan didup di antara batu-batu kerakal yang selalu kurang air itu. Seorang mahasiswa yang sering mengunjungi dusunnya pun tertarik dan melamarnya. Karena ia sudah akil balig dan mahasiswa itu sendiri amat baik di mata warga sedusun, lamarn itu disetujui dan pernikahan pun dilangsungkan.
Tetapi memang Surti dari dusun Pucung, Gunung Kidul. Di rumah kontrakan suamninya di Yogya, ia tetap bangun jauh sebelum matahari terbit untuk mencucui piring dan menyapu. Setelah suamninya mengajari membaca, mengaji dan menyusun menu, Surti pun membuka-buka koran, menjahit baju-baju longgar panjang dan masak berbagai resep kumpulannya. Tiap kali suamninya menulis sampai larut, ia selalu menyiapkan kopi ekstrak dan makanan kecil buatannya sendiri. Dan tiap kali suaminya pulang kuliah, dalam lemari telah menanti tumpukan kaus oblong dan sarung yang masih hangat. Ketika suaminya akhirnya usai kuliah dan selain menulis memutuskan untuk menjadi pekerja tetap pada sebuah lembaga swadaya masyarakat di Bandung, ia hanya perlu memfasihkan bahasa Indonesianya serta sedikit menghafalkan kata-kata Sunda untuk menawar di pasar. Selebihnya, walaupun kini ia telah menempati rumah cicilan mungil serta direcoki oleh kehidupan baru di dalam rahimnya, ia tetap menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cekatan dan tanpa banyak bicara.
Padahal, seharusnya seorang ibu hamil tidak terlalu lelah. Kerja harus dikurangi atau bahkan dihentikan. Karena, bisa saja kaki jadi bengkak, pusing berat, atau bahkan keluar darah dari rahim.
Tetapi Surti terlalu percaya kepada kehidupan untuk cepat khawatir kena sakit ini atau itu. Kalaupun kakinya bengkak, ya diselonjorkan ke atas bantal saja. Kalau pusing berat, ya berbaring saja. Dan, kalau sampai ada pendarahan, ya panggil becak dan ke puskemas saja. Kalau sampai keguguran? Oh, Surti sering melihat ibu-ibu di dusunnya keguguran. Sakitnya seharian, punggungnya rasa terbakar, dan setelah gumpal-gumpal darahnya keluar, nyerinya masih sering kambuh sampai berbulan-bulan. Biasanya mereka minum jamu. Ada yang sembuh tetapi ada juga yang mati. Ya kalau sudah begitu…, bagaimana Gusti Allah saja. Surti yakin bahwa semuanya pasti berakhir. Kalau berakhir dengan menyenangkan ya baik. Kalau tidak menyenangkan, ya dengan berakhir itu sendiri itu sudah baik.
Suaminya menganjurkan Surti untuk ikut pengajian dan arisan ibu-ibu di sekitar rumah.
“Akrab dengan tetangga itu baik,” kata suaminya. “Paling tidak, kamu tidak bosan menunggu saya pulang kerja.”
Dan Surti pun ikut. Bukan karena bosan, tetapi karena itu saran suaminya yang diyakini baik juga buat dirinya. Mulai minggu itu, setiap malam Jumat Surti menutupkan kain sampai ke mata kaki untuk mengaji dari rumah ke rumah, dan setiap Sabtu siang di awal bulan ia pun menyempatkan diri berkumpul lagi untuk arisan.
Selang dua bulan, Surti telah bertambah fasih membaca Al-Qur’an. Kumpulan resep masaknya berlipat dan ia pun mendapat pinjaman beberapa buku petunjuk perawatan bayi. Vitamin dan telur ayam kampung setengah matang mengisi jadwal hariannya.
Tetapi, ketika ia merasa bahagia dengan kehamilannya yang semakin tua, sapaan-sapaan seperti, “Kasihan, capai ya?” atau, “Wah, siap-siap repot lho…,” datang juga dari berbagai jurusan. Dan, ketika pembicaraan tentang gaji suami, televisi dan kulkas baru ternyata berulang setiap kali pertemuan berlangsung, Surti pun merasa lebih layak jika ia hadir sekali-sekali saja, dengan diam dan ulasan senyum saja.
Tetapi ternyata bagi ibu-ibu itu Bandung adalah kota yang panas, berdebu dan menjengkelkan. Bulan bukan cakram putih di langit malam tetapi hanya huruf-huruf kalender. Dan ulat tak bebulu yang kerap digoreng Surti di dusunnya dulu ternyata bisa membuat orang pingsan ketakutan. Surti pun tidak bisa lagi tersenyum.
“Tetapi kamu ‘kan sudah hafal beberapa ayah panjang sekarang?” Surti Diam.
“Lama-lama juga kamu teribasa.” Surti menggeleng.
“Jika saya percaya kepadamu?” Surti menggeleng lagi.
“Mas, saya lebih suka mengaji dengan Mas saja. Atau jalan-jalan sore, duduk-duduk di teras, baca, atau apa sajalah yang semacam itu.”
“Sendirian?”
“Ya, sendirian saja.”
Suaminya meletakkan sendok.
“Kenapa?”
“Susah rasanya mengikuti pembicaraan ibu-ibu itu,” suara Surti tertelan. Suaminya menyandarkan punggung mengusap muka. Sejenak ia termangu-mangu.
“Kamu memang harus sabar jadi istri orang seperti saya, Ti. Mungkin, suatu hari nanti, saya bisa bekerja untuk dapat televisi, kulkas, mobil, dan semacamnya. Tetapi, belum saat-saat ini.”
Lelaki itu memandang Surti dengan wajah seorang terdakwa, yang sebetulnya sulit dibedakan dengan ekspresinya dulu ketika masih sering mengikuti demonstrasi mahasiswa. Ya, coba lihat, aku yang sendirian ini, yang ingin mengabdi kepada kemanusiaan sepenuh-penuhnya sampai tidak pernah dimengerti, bahkan oleh istri sendiri.”
Jari Surti memilih ujung serbet.
“Ya, ibu-ibu itu memang sering bincang-bincang soal begituan, Mas. Tetapi saya tidak suka …”
“Tentu saja, Surti. Tidak enak membicarakan sesuatu yang kita tidak mungkin meilikinya. Saya mengerti.”
“Bukan!” tiba-tiba suara SUrti meninggi. “Saya ‘kan istrimu.”
“Yah,” keluh lelaki itu. “Justru itu. Kamulah yang sebetulnya paling berhak menuntut semua itu dari saya. Jika kamu ragu-ragu atau merasa tidak layak, sayalah yang akan menuntut diri sendiri demi hakmu.”
Surti tertegun. Apa ini? Seumur hidupnya, ia hanya tahu bahwa penuntut itu adalah tengkulak dan tukang kredit, yang amat dibencinya, yang pernah hampir mencekik bapak dan simboknya. Tetapi, kini ia harus menjadi sesuatu yang dibencinya bagi orang yang paling dicintainya?
Surti ingin menangis sekeras-kerasnya. Biar runtuh keangkuhan suaminya. Biar hancur kemanjaan ibu-ibu tetangganya. Biar … biar mampis semua yang membingungkannya. Runtuh, hancur dan mampuslah!
Tetapi, Surti hanya berdiri dan mulai membereskan piring. Akrab dengan tetangga itu baik. Akrab dengan tetangga itu baik.
“Ti, makanmu ‘kan belum selesai?”
Surti diam saja. Hanya diangkatnya tumpukan piring dan digegaskannya langkah. Sampai di depan lemari dapur ia berhenti.
Akrab dengan tetangga itu baik. Akrab dengan tetangga itu baik.
“Aku ingin shalat,” desisnya seorang diri. Basah.
Maret 1991

Comments»
waah…
Subhanalloh…