Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)
Sopan Santun
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 15 September 2003
Sopan santun sesungguhnya adalah suatu tata tingkah laku yang amat populis. Semua orang tahu, memiliki pengalaman mengenainya, dan menyukainya. Mungkin, memang perlu menjadi ahli filsafat etika dulu untuk menjelaskan sopan santun sebagai sebuah konsep nilai. Tetapi, bukankah dipahami atau tidaknya sebuah nilai tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang bisa menerangkan nilai itu sampai mulutnya berbusa-busa?
Biarpun mungkin hanya sedikit orang yang bisa menjabarkan sopan santun itu apa, tetapi hampir semua orang memahami cara berlaku sopan dan santun, atau paling tidak, bagaimana positifnya perasaan yang timbul ketika seseorang diperlakukan dengan sopan lagi santun.
Sopan santun bukan sebuah ideologi, yang memerlukan konseptualisasi, pembahasaan atau bahkan pemaksaan untuk bisa ditegakkan. Begitu seseorang sadar bahwa ada orang lain di sampingnya, tentu ia akan mulai membangun interaksi dengan orang lain itu seperti dia ingin diperlakukan oleh orang lain tersebut. Ia adalah nilai alamiah yang dibutuhkan setiap orang untuk dapat hidup berdampingan secara nyaman dan tenteram.
Karena sopan santun juga merupakan nilai yang natural, ia bukan nilai yang mesti dijabarkan panjang-lebar di buku-buku dan didiskusikan di seminar-seminar tingkat tinggi. Ia bagian dari situasi keseharian. Ketinggian nilainya terangkum dalam hal-hal kecil, seperti suara merendah yang disampaikan seorang anak kepada orang tuanya atau anggukan kepala seorang murid kepada gurunya.
Jika hendak diperluas, sopan santun juga menyangkut etika antara orang-orang yang tidak mengenal secara pribadi, tetapi harus berinteraksi di tempat umum. Kebiasaan untuk tidak menyerobot antrean, meminta maaf jika menyenggol secara tidak sengaja dalam kerumunan, sampai kesadaran untuk menaati peraturan, adalah perluasan dari nilai sopan-santun dilembagakan, baik sebagai kebiasaan maupun norma-norma hukum.
Kondisi yang diciptakan oleh sopan santun dalam arti luas ini, tentu adalah ketenteraman. Konflik pun diselesaikan dengan dialog dan keterbukaan, dan bukannya aksi saling memperdaya, saling berteriak, atau bahkan gontok-gontokan.
Ketika seorang teman saya yang sudah lama bermukim di luar negeri bertanya, betulkah bangsa kita ini masih bisa disebut sebagai bangsa yang sopan lagi santun, saya terperangah. Untuk tersenyum kepada orang asing dan berulang membungkuk-bungkukkan badan di hadapan atasan, saya yakin bahwa kita adalah ahlinya. Setiap hari raya pun, anggota keluarga yang lebih muda pasti mencium tangan anggota keluarga yang lebih tua.
Tetapi, mari Anda datang ke kota saya, Bandung, yang belum semetropolis Jakarta. Naiklah angkot. Jika Anda sedang apes, mungkin Anda mengalami hal-hal buruk seperti saya. Ketika itu saya sedang naik angkot jurusan Cicaheum untuk turun di Terminal Cicaheum. Ketika angkotnya sepi penumpang, sang sopir memarahi tujuan saya yang terlalu jauh.
Cobalah datang ke pusat kota. Hitung berapa kali Anda disenggol orang tanpa rasa bersalah. Masih untung jika dompet Anda tidak ikut lenyap. Jangan tanya ketidaksopanan lain yang lebih kompleks seperti mencuri kesempatan orang lain dengan sogokan, atau memasukkan uang rakyat ke kantong sendiri, yang kini masih membudaya.
Saya tiba-tiba tersadar bahwa saya tidak lagi mengerti, sopan-santun itu apa. Ketika kebebasan bertindak hanya berarti peluang untuk tidak terikat oleh nilai apa pun, mungkin, kesantunan yang tersisa dan masih bisa diupayakan hanyalah marah, dengan cara yang elegan.

Comments»
[...] Artikel blog yang berjudul Sopan Santun dan tertulis karya penulis kolom, Miranda Risang Ayu, dimuat pula di harian Republika tahun 2003. Di situ sedikit terjawab pertanyaan saya mengenai apakah itu sopan santun. Memang pengertian sopan santun sulit untuk diartikan apalagi kalo didiskusikan mungkin terjadi perdebatan yang panjang, seringkali sopan santun sebagai norma menjadi ‘grey area’ yang tercampur dengan norma hukum bahkan norma agama (walaupun mungkin poin2 norma sopan santun terbentuk dari norma agama). [...]
Artikelnya saya link ya! bagus lho
ho,,,,
,,
,,
,,