Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Seusai Mengenal Penjaga Tangga
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 25 Maret 2002
Pada suatu hari, dalam sebuah mimpi, seorang perempuan muda yang sedang melakukan penyucian kesadaran dan hati menemukan dirinya tiba di dalam sebuah rumah berwarna gading. Namanya juga mimpi, rumah itu berdiri sendiri dan melayang di atas awan.
Tampaknya, rumah itu asrama bertingkat. Perempuan-perempuan sebayanya lalu-lalang di setiap koridor. Wajah mereka bersih, berbaju putih, dan berkerudung tak bersela. Tidak tampak sesuatu pun pada wajah mereka selain dahi yang putih, rata, dan memantulkan cahaya, sementara perempuan pemimpi itu sendiri berkulit coklat dan berbusana gading.
Di situ, cahaya begitu sempurna sehingga tak pernah ada malam pengganti siang. Tidak juga ada panas pengganti dingin, tak ada gelap, apalagi pekat. Dan sholat ditegakkan melebihi bilangan kewajiban, di dalam maupun di luar mukena.
Hanya, di ruang tengah rumah itu, ada sebuah tangga utama. Dan di balik tangga yang semestinya merupakan sisi gelap yang terhalang, juga tak ada kegelapan, tetapi perempuan itu melihat seseorang.
Terkejutlah perempuan itu karena ternyata orang di balik tangga itu adalah laki-laki. Dia sendirian. Tubuhnya sehitam arang, kurus kering, kulit bertatah tulang, hanya berbalut selembar kain tak bersulam, dan berambut ikal hitam legam, panjang kusut tak terawat. Kediriannya mengingatkan perempuan itu kepada para pejalan spiritual yang berlebihan, yang rela berhari-hari tidak makan sampai tidur di atas paku hanya untuk merasakan setitik cahaya keilahian.
”Kau, siapa ?” perempuan itu tidak bisa tidak bertanya.
”Aku adalah ‘yang terlarang’ di rumah besar ini karena rumah ini sesungguhnya hanya untuk perempuan. Tetapi, aku tidak punya tempat lain. Aku di sini karena tugas utamaku adalah menjaga supaya jika ada anak tangga yang rapuh, maka tidak usah ada yang terperosok jatuh. Aku tidak boleh beringsut terlalu jauh karena rumah ini adalah sumber cahaya.”
”Kau kurus sekali. Dipanmu pun tak beralas sama sekali. Kenapa mereka tidak memberimu cukup makan atau kenyamanan sebagai tanda terima kasih?”
Lelaki itu memicingkan mata.
”Mereka tidak tahu karena mereka memang tidak diciptakan untuk bergulat dalam laguna tahu dan tidak tahu. Mereka bahkan tidak pernah tahu kehadiranku. Mereka diciptakan untuk beribadat. Hanya itu ….”
Pening kepala perempuan itu. Ia pun pamit dan mencari sebuah kamar untuk beristirahat. Tetapi tiba-tiba saja, dari balik jendela kamarnya, dilihatnya sebuah ruangan lain terbakar. Ia melihat sepintas lelaki itu berkelebat sendirian di antara api, lalu lenyap dalam kobaran. Entah ia penyebab atau penyelamat. Tetapi, duka yang kuat menyebabkan perempuan itu meloncat dari pembaringan.
”Hei, ada ruangan yang terbakar, dan seseorang berada di tengah api!”
Tetapi, semua wajah putih itu hanya tercengang.
”Api? Di sini tidak pernah ada api. Di sini tidak pernah ada bencana ….”
Dan perempuan itu terduduk dan mengerang tercekik kesendirian.
”Kalian tidak tahu …, ” dan tangisnya pun makin menjadi. ”Kalian memang tidak pernah akan tahu ….”
Mimpi itu berakhir. Perempuan itu terbangun dengan air mata yang masih menggenang. Mimpi itu mungkin hanya bunga tidur. Tetapi, mimpi itu seperti bercerita tentang rumah kedirian, yang di dalamnya ia berkenalan dengan sisi paling tersia-sia, yang ternyata, amat bermakna.
Perempuan itu pun bergumam, ”Tuhan, terima kasih telah Kauciptakan aku tidak sebagai malaikat atau setan, tetapi sebagai manusia yang bergulat dari kedunguan, kepada pengenalan yang sejati.”

Comments»
Mbak MRA, saya penggema mbak sejak mulai kuliah di Bdg 10 tahun yg lalu. Saya minta izin untuk pasang link-nya ya. Thx.
kalau saya, biarlah saya link di hati saja…