Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Selamat Lebaran
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 09 Desember 2002
Akhirnya bulan pembakar dosa itu usai juga. 1 Syawal seyogianya menjadi puncak kebahagiaan lahir dan batin karena seorang muslim baru melewati peperangan terbesar yang biasanya paling dihindari, yakni peperangan melawan diri sendiri. Karenanya, selamat berbahagia, dan maafkan saya.
Sebagian besar komunitas muslim di negara bagian New South Wales Australia, tempat saya menetap sementara, merujuk kepada masjid terbesar di situ yang menggelar sholat Idul Fitri pada 5 Desember 2002. Jadi, hari terakhir Ramadhan adalah Rabu 4 Desember 2002.
Hari itu kemudian tercatat sebagai hari yang menyedihkan bagi penduduk Sydney. Ketika itu, matahari musim panas memang sudah empat hari menyingsing. Hari itu adalah hari puasa terpanjang dalam bulan puasa kali ini, yakni dari pukul empat kurang lima menit dini hari hingga pukul delapan kurang lima menit malam. Tetapi, itu masih ditambah dengan panas udara kering sore hari yang amat tidak lazim, yang kemudian diketahui sebagai akibat dari kebakaran besar hutan semak yang terjadi di pinggir kota itu.
Logika tradisional tentu langsung mengaitkan bencana itu dengan tanda kekuasaan-Nya. Mungkin itu adalah peringatan terhadap sebagian kecil penduduk Sydney yang tidak peduli lagi akan eksistensi Tuhan, atau mereka yang menuduh semua muslim sebagai kelompok aliran sesat yang doyan terorisme. Wallahu’alam.
Yang pasti, panas hari itu sungguh membuat saya sujud gentar mengingat pembakaran suci oleh-Nya, dan bersyukur ketika bulan pembakaran dosa itu selesai juga. Saya tidak tahu apakah diri saya yang fana ini sudah gosong luluh lantak seperti semak belukar itu atau belum.
Berbanding terbalik dengan penduduk Sydney yang sungguh berduka oleh bencana alam itu, di bulan Ramadhan, seorang muslim seharusnya berduka justru jika dirinya yang lemah tidak terbakar sepenuhnya. Itu karena kehancuran diri yang lemah adalah fitrah, sejalan dengan kembalinya diri yang hakiki, yang cenderung kepada kebenaran, kepada-Nya. Sungguh, pembakaran di bulan Ramadhan pasti ringan dan nikmat dibandingkan dengan siksa kubur atau api neraka.
Persoalannya, setelah bulan suci berakhir, zakat fitrah dikeluarkan, dan shalat idul fitri dilaksanakan, seperti apakah kebahagiaan lahir dan batin seharusnya terasakan dan terabadikan?
Di Indonesia, orang-orang yang tinggal sementara atau menetap di kota-kota besar untuk mencari penghasilan, ramai-ramai pulang ke kampung halaman untuk memurnikan kembali hubungan kekeluargaan dan kekerabatan. Para pelajar Indonesia yang sedang bermukim di Sydney pun banyak yang khusus pulang untuk menjadi bagian dari tradisi ini.
Telah menjadi kelaziman bahwa untuk membuat orang yang paling sederhana sekali pun dapat menikmati momentum ini, sebulan menahan lapar diimbangi dengan tiga sampai tujuh hari bulan Syawal yang tidak saja dipenuhi dengan tradisi saling memaafkan, tetapi juga tradisi saling menghidangkan. Dengan cara ini, semua orang diharapkan bisa turut merasakan kebahagiaan khas usai Ramadhan.
Sayangnya, pengabadian kebahagiaan itu bukan soal gampang, justru karena bulan Ramadhan telah lewat. Berpuasa dari makanan yang berlebihan, amarah atau nafsu seksual yang tidak pada tempatnya, hingga berpuasa dari ingatan yang terlalu berlebihan akan status, harta, atau segala hal yang halal, tetapi selain Allah, seringkali menjadi ide yang terlalu muluk untuk dilaksanakan.
Jadi, selamat bergembira. Semoga kegembiraan kita tidak terlalu meluap karena medan perang masih terbentang di hadapan.

Comments»
Selamat idul fitri 1429, mohon maaf lahir dan bathin. Widodo dan keluarga.
Minal aidin wal faidzin…..
Maaf Lahir Bathin ya, mbak Mir….