jump to navigation

Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)

Sebuah Penemuan Hati

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 27 Mei 2002

Telah terpisahkan oleh benua yang berbeda, perempuan itu justru menerima sepucuk surat elektronik yang membuat hatinya telak terhenyak.

Surat cintakah yang diterimanya? Yang jelas, berbincang itu pasti sesuatu yang biasa. Saling mengerti adalah keindahan yang juga dapat ditemukan dalam banyak hubungan. Bagaimana dengan saling mengerti yang dalam? Mungkin itu cinta. Tetapi penulis cerita anak Antoine de Saint-Exupery menyatakan bahwa cinta tidak terdapat dalam keadaan ketika kedua pihak sama persis atau selalu bersama, tetapi ketika keduanya memiliki pandangan keluar dengan cara yang sama karena kesamaan tujuan.

Cinta, karenanya, tidak harus berwarna jingga. Ia bisa putih; dilandasi tawa dan derita yang berbeda tetapi sama kualitasnya, dan dipenuhi ide yang saling berdialog karena tujuan luhur dan jujur yang sama. Cinta ini universal, bisa memapar segala tingkatan usia dan segala jenis kelamin, dan memiliki kelezatan utama dari maknanya.

Surat elektronik itu jadi bisa diartikan sebagai surat cinta juga; tetapi melulu dipenuhi oleh perihnya pergulatan berusaha mendekati Yang Maha Mencintai. Di dalamnya tidak hanya ada usaha untuk tunduk, tetapi juga kejujuran untuk berontak.

“Saya yakin ada saling pengertian yang dalam di antara kita. Saya ingin melepas jilbab saya. Sungguh maafkan saya. Saya merasa jilbab ini selalu menarik saya ke belakang ….”

Perempuan penerima surat itu sungguh merasa seluruh energinya terkuras habis hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa persahabatan spiritual yang telah dijalinnya demikian lama sungguh tidak akan berakhir dengan sebuah kenyataan menyakitkan, ketika kebersamaan mereka ternyata hanya bermakna untuk saling menyaksikan bahwa keduanya sudah sedemikian jauh dari Tuhan.

Mereka bertemu dalam sebuah forum diskusi fasilitator anak-anak pengajian. Mereka mengalami hujan menderas dan guntur menggelegar di luar serambi masjid sebagai tasbih yang mendirikan bulu roma, pada saat yang sama. Mereka berjanji saling menerima kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan belajar mencintai Tuhan, juga dalam saat yang sama.

Ketika mereka seia-sekata; perdu-perdu di luar pun seperti ikut merundukan kepala, dan ketika mereka berbeda; tak ada upaya saling paksa. Tidak ada juga perlombaan untuk menjadi lebih suci. Bukankah semua itu terlalu bermakna?

Tetapi, perempuan itu sungguh mengerti. Sahabatnya itu kini menjadi reporter sebuah media massa internasional. Untuk mengejar berita, ia bisa tidak pulang berhari-hari. Jika jilbab berarti kesantunan feminin tradisional yang menabukan perempuan bekerja, pulang larut, berani, aktif, bersaing, dan terlibat dalam jaringan kerja yang luas, sahabatnya itu memang sudah seperti tidak berjilbab lagi, meskipun kain persegi empat itu masih terulur rapat menutupi dadanya. Jadi, bagaimana ia harus menjawab?

Akhirnya, yang hanya bisa ditulisnya sebagai balasan hanya sebuah inti yang terlalu singkat, “Jadilah dirimu sendiri, dengan nama-Nya. Pada prosesmu, saya selalu percaya.”

Lalu sepi. Tiga hari kemudian, diterimanya sebuah surat elektronik lagi. “Ketika tak cukup dialog dengan siapa pun, semula saya sungguh panik. Tetapi ternyata, itulah cara-Nya menghalangi siapa pun berdialog dengan saya. Proses ini memperkenalkan saya kepada jilbab yang esensial, ketika penghalang diturunkan, kesendirian terasa hampir sempurna, dan hanya kepada-Nya saya berseru. Kini, saya sungguh mencintai jilbab saya.” Dan perempuan itu terhenyak lagi. Penemuan itu. Betapa indahnya.

Comments»

1. Arwi Ridho - Thu, 21 Sep 2006

Ya Allah sungguh aku ingin bersyukur saja…

2. Arwi Ridho - Mon, 25 Sep 2006

Allah adalah puncak kerinduan penemuan hatiku

3. Arwi Ridho - Wed, 27 Sep 2006

Allah adalah puncak penemuanku..
Allah sungguh Engkau maha tahu siapa aku..
ampuni yang Allah, HANYA TANGANMULAH YG BISA MEMPERTEMUKANKU PADAMU.

4. Arwi Ridho - Wed, 4 Oct 2006

Aku menemukan hati yang benderang di hati mbak Miranda, sungguh pertemuan dengan beliau saat itu terlalu berharga hanya untuk dikenang, tapi harusnya menginspirasiku untuk mengahayati cinta dan spiritualitas dalam benaku.

5. papabonbon - Fri, 2 Feb 2007

jadi tetap pakai jilbab ndak ? yg aku tangkap tersirat kok, pakai jilbab hati …

6. Wirahman - Mon, 16 Apr 2007

Merinding bacanya. Tetap menulis ya, banyak dan makin banyak.

7. IriEn - Wed, 10 Sep 2008

aq suka karya2 mu,,,,

8. IriEn - Wed, 10 Sep 2008

bakat terpendam ni………..