Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Sebuah Obsesi Kebebasan
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 08 April 2002
Anda ingin memahami kebebasan? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Jika Anda adalah orang yang alergi untuk memperbincangkannya, perkenankan saya sekarang dengan sadar menjadi makhluk asing sebentar, yang siap mempengaruhi Anda. Kebebasan adalah obsesi saya.
Mungkin, spontanitas berpikir yang langsung mengemuka adalah serangkaian asumsi, bahwa kebebasan itu sama sebangun dengan pecahnya kejumudan. Translasi berdasarkan niat baik dari kebebasan memang adalah kebaruan. Tetapi, kebebasan yang obsesional, apakah itu bukan pemberontakan atas norma-norma, menuju keadaan tanpa norma: keadaan ketika adat, sopan-santun, sampai hukum, dan agama dihancurkan lambat tetapi pasti? Keadaan ketika kepatuhan dibenci atas nama kekritisan, ketundukan ditumbangkan oleh penyangkalan, dan pasak-pasak salah-benar di luar diri ditawar oleh sebuah kepastian hukum yang konon paling natural, yakni kemauan individu? Lalu, tanda-tanda yang paling kasat mata pun tersebar di mana-mana; perempuan-perempuan terhormat mulai memperlihatkan belahan dada dan pusarnya, lelaki-perempuan hidup bersama tanpa ikatan perkawinan, anak berseragam duduk di emperan mal dengan lintingan narkotika di tangan, dan sebagainya? Keadaan ketika rasa sungkan dan malu diartikan rasa rendah diri atau bahkan sejenis sakit jiwa?
Tidak, ruang ini terlalu bermakna untuk berbincang tentang ekses dari kebebasan.
Saya ingin mulai dengan sebuah peristiwa sederhana. Alkisah, dua orang perempuan dari Indonesia dan Afrika Selatan bertemu di perantauan dan berjanji untuk mencari sebuah tempat tinggal bersama. Mereka berdua sulit untuk saling menepati janji karena mereka memiliki jadwal kesibukan yang berbeda, hingga akhirnya, dengan berat hati perempuan Indonesia yang santun itu mencurahkan semua tenaganya hanya untuk mengatakan bahwa ia tidak bisa bekerja sama dengan perempuan Afrika Selatan itu. Ketika ia menyangka bahwa konflik langsung akan terbuka, ia jadi terpana ketika perempuan Afrika Selatan itu hanya berkata, ”Tidak apa-apa. Saya mengerti. Secara obyektif, kita memang sulit untuk mencari waktu bersama. Merasa bebaslah ….”
Dalam sebuah program pelatihan yang diselenggarakan oleh University of Technology, Sydney, Australia, bagi mahasiswa barunya, seorang fasilitatornya berkata ringan, ”Konon, Australia adalah negara maju. Di sini, fasilitas kelas, perpustakaan, dan komputer, memang memanjakan Anda. Tidak ada seorang pun akan menuntut Anda. Anda boleh tidak kuliah selama satu semester penuh. Anda boleh berpakaian apa saja ketika masuk kelas. Dan Anda bisa juga tidur di laboratorium 24 jam dengan aman kalau diperlukan. Semua dipermudah secara mekanis, dan semua mempercayai Anda. Maka, Anda bebas: bebas untuk sukses, tetapi bebas juga untuk gagal.”
Norman O Brown pun menulis, supaya mencapai harmoni jiwa, kenali kekosongan, terima kehilangan. Temukan kebebasan untuk mengolah simbol, yang datang dari kemampuan untuk mengalami kehilangan. Kebijakan ditandai dengan adanya kebebasan itu; menyimpan duka, memang, tetapi tidak membuahkan kemurungan.
Saya sendiri terobsesi terhadap kebebasan karena alasan yang sederhana, yakni, saya ingin bisa tidur nyenyak sempurna tanpa diganggu oleh kebohongan, penipuan, atau kesalahan yang saya lakukan secara sadar, atas nama kebebasan. Saya ingin bebas untuk berkata tidak bisa, bebas untuk bersahabat dengan kekecewaan dan kegagalan, dan bebas menyelami duka yang memang nyata, dengan senyum pemahaman di akhirnya.
Bagaimana dengan Anda?

Comments»
kalo yang itu mah, setuju pisan…:)