Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Sebuah Cerita Tentang Cinta
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 30 Desember 2002
Satu hari sebelum meninggalkan Sydney, Australia, saya sempat dibuat tertawa oleh sebuah advertensi besar baru di atas sebuah pencakar langit di jantung kota itu. Advertensi itu memuat potret seorang perempuan cantik berbikini bendera Amerika yang sedang memegang senjata. Di advertensi itu termuat tulisan yang kira-kira berarti, ” … Amerika itu gila senjata atau memang sudah gila?”
Saya tidak tahu apakah advertensi itu bermaksud menyindir sikap negara adidaya itu terhadap Irak atau hal lain. Tetapi, kejumawaan negara itu memang sudah terkenal di mana-mana. Kabarnya, PBB juga sudah dikomporinya untuk menstigma Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang menyimpan bibit-bibit terorisme dari para penganut Islam radikal.
Biarpun tetap berusaha bersikap kritis, Australia sendiri tampak sulit untuk tidak berhati-hati terhadap isu itu setelah puluhan warganya mati konyol oleh bom Bali. Dengan susah-payah, beberapa media yang simpatik berusaha meyakinkan bahwa stigmatisasi itu perlu dilokalisasi. Tetapi tetap, bagi turis Australia yang masih juga ingin menikmati eksotika Indonesia di malam Tahun Baru, diselipkan juga daftar tempat-tempat yang sebaiknya dihindari karena dikhawatirkan keamanannya. Dan, jika pun nama Indonesia selamat, bagaimana dengan nama Islam?
Satu hari sebelum meninggalkan Sydney, Australia, saya khawatir bahwa mungkin semakin sedikit orang Australia, Amerika, atau dunia internasional yang optimistis bahwa Islam itu agama rahmat. Beberapa tahun lalu, umat Islam yang anggun dan ramah dapat jelas dicontohkan oleh masyarakat Muslim di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kini, mungkinkah mereka masih peduli?
Islam identik dengan kekerasan?
Sepengetahuan saya, Islam adalah agama yang dianut oleh sebagian putra daerah Indonesia yang tidak tahu apa-apa. Di Australia, mereka rela hidup di antara keterbatasan beasiswa, barang-barang bekas, dan barang-barang pulungan, dan kerinduan yang mencekik pada orang-orang tercinta yang ditinggalkan, di negara maju dan kaya, hanya untuk mengilatkan permata kecerdasan di balik otaknya, yang mungkin kemudian, akan menjadi sebagian dari aset Australia juga.
Saya mengenal Islam Indonesia sebagai agama yang dianut oleh seorang putra daerah yang mau hidup sederhana hingga tersakit-sakit di negeri orang, hanya berbekal alat tulis sebagai senjata, untuk mempersembahkan gelar ke pangkuan ibu pertiwi dan cinta tanpa kata ke pangkuan ibunya yang tua, karena ia yakin bahwa ia dilahirkan hanya untuk cinta dan kesetiaan.
Saya juga mengenal Islam Indonesia sebagai agama yang dianut oleh para profesional yang setiap malam selalu kembali bukan ke kafe-kafe tetapi ke pelukan suami atau istrinya; suami atau istri yang telah rela mengikutinya merantau demikian jauh berbulan bertahun, menjadi tukang cuci atau tukang seterika baju-baju wangi Australia, dan berhemat menabung uang bukan untuk membeli senjata, tetapi untuk merasakan nikmatnya menangis di tanah suci.
Penghuni flat-flat sederhana di jantung kota Sydney yang kadang dicurigai sebagai sarang imigran gelap atau penyimpan bom, adalah orang-orang Islam Indonesia yang biasa terlatih tersenyum dalam kesederhanaan. Demi agama yang dituduh sebagai biang kekerasan itu, mereka biasa menjenguk atau memasakkan tetangga mereka yang sakit, dan saling menghibur relasi mereka yang sedih, tanpa diminta.
Kalau saja mereka tahu bahwa merutuki Islam Indonesia adalah seperti merutuk bayang-bayang buatan mereka sendiri.

Comments»
Islam yang digambarkan sangat indah, dalam perjuangan di tanah rantau…
yah, memang byk musuh Islam yg mencari kesempatan dalam kesempitan dg menggeneralisasi teroris = Islam. Sedih kalau membaca tindakan2 kekerasan atau pelecehan yg didasarkan pada generalisasi ngaco itu (yg bahkan pelakunya sering tdk sadar bahwa itu keliru).