Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Sebuah Berita Kegagalan
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 23 Desember 2002
Kabarnya, menteri luar negeri Australia baru saja berusaha meyakinkan prasangka baiknya terhadap Islam. Ia telah menyatakan jaminannya terhadap aktivitas kaum Muslim di negaranya dan sikapnya untuk tidak mengidentikkan Islam dengan terorisme. Sayangnya, dalam hitungan hari setelahnya, sebuah surat kabar terkemuka Australia, Sydney Morning Herald mengangkat sebuah pemberitaan hangat yang, entah benar atau tidak, mengabarkan bahwa di dalam rumah seorang penduduk Sydney yang ” … menurut tetangganya, mempraktikkan Islam … “, telah ditemukan bom.
Jika peristiwa itu terjadi di Indonesia, sekali pun si penyimpan bom itu kemungkinan besar beragama Islam di KTP-nya, keanehan hobinya untuk menjadi penyimpan bom itu tentu lebih disorot daripada komitmen agamanya atau jika saja penyimpan bom itu tidak beragama Islam, amat kecil kemungkinan si surat kabar itu akan membumbui pemberitaannya dengan hal-hal yang sesungguhnya amat bernilai pribadi itu.
Tetapi, siapa peduli? Ketidakelokan surat kabar itu sudah cukup untuk mengusir simpati para pembacanya untuk membatalkan pembelian. Putar saja radio lokal. Di situ ada satu saluran berbahasa Arab yang secara reguler menyiarkan salawat merdu hingga menjelang tengah malam.
Di lokasi China Town yang sekaligus juga merupakan salah satu obyek wisata yang menarik di jantung kota Sydney, Australia, ternyata berdiam banyak orang Cina yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan di antara mereka. Saya curiga bahwa populasi mereka ada hubungannya dengan peristiwa kerusuhan di Jakarta di awal reformasi beberapa tahun lalu, yang telah menyebabkan banyak toko hasil keringat orang Indonesia keturunan Cina hancur oleh kecemburuan sosial yang tidak terkendali. Amat mungkin bahwa diam-diam, Australia ternyata telah menjadi tanah impian lain bagi sebagian kecil warga Indonesia itu. Mulitkulturalitas dan kemajuannya, terutama di bidang pendidikan, memang cukup menggiurkan.
Tetapi, saya juga yakin bahwa Indonesia masih terlalu eksotik untuk tidak dicintai. Di pangkuan ibu pertiwi yang kini telah carut-marut oleh krisis tidak kunjung henti itu, ada produsen jajanan pasar, batik tulis, hingga kayu tropis yang keunikannya sulit untuk dicari tandingannya di Amerika sekali pun. Saya pun telah mengunjungi beberapa pantai di kawasan Sydney yang kabarnya amat digilai orang seantero Australia karena keindahannya.
Ternyata, pantai Parangtritis di Jawa Tengah, Pasir Putih di Jawa Timur atau Kuta di Bali, yang meskipun sudah centang-perenang oleh pedagang kaki lima, tetap kelihatan lebih cantik dari pada pantai-pantai bersih bestari itu.
Karenanya, cinta utama tentu tetap bagi Indonesia saja. Entahlah jika sang ibu pertiwi sudah terlalu luka hingga sensitivitas dan penyakitnya menyebabkan sebagian anaknya tidak tahan lagi untuk menetap terlalu lama padanya.
Sebelum pulang ke Indonesia, undangan makan hingga pesan simpatik dari para pengajar hingga kolega asing saya tidak terlupakan. Tetapi, diam-diam saya juga membawa sebuah berita kegagalan. Saya gagal menemukan seorang perempuan Australia yang dapat dijadikan sahabat sejati tempat memulai hubungan silaturahmi lintas kultural dan lintas hati. Beberapa kali saya hampir mendapatkannya, tetapi hubungan itu nyata meregang begitu berita bom Bali tersiar.
Banyaknya orang Cina Indonesia di Australia, dan kegagalan saya membina hubungan intens dengan orang-orang Australia mungkin sepintas tidak ada hubungannya. Tetapi, semua itu sebetulnya didasari oleh instabilitas akut sang ibu pertiwi.

Comments»
no comments yet - be the first?