jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Sang Penulis

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 13 Mei 2002

Saya mengenalnya hanya melalui tulisan-tulisannya di buku-buku dan media massa. Tetapi, saya sering merasa telah berdialog imajiner amat intens dengannya. Kemudian, tiba-tiba tulisannya tidak pernah muncul lagi. Tentu, saya amat kehilangan. Hingga akhirnya, dalam sebuah forum diskusi tematik, ia hadir sebagai salah seorang pemrasaran.

Usai diskusi, banyak orang mendatangi mejanya untuk berbincang. Tetapi, saya tidak ingin memulai percakapan dengannya hanya sebagai pengagum. Telah saya pegang alamatnya dan telah ada sebuah rencana dalam agenda. Pada saat yang tepat, saya ingin menemuinya untuk berbincang, empat mata saja. Sungguh indah melihatnya hanya dari kejauhan saja.

Rumahnya terpencil di pojok jalan, di tepi sebuah sungai. Hampir seluruh dindingnya terdiri dari rak yang dipenuhi buku tebal dan kaset. Perempuan itu sudah beranjak tua. Rambutnya sudah memutih. Mungkin, beberapa giginya juga sudah tanggal. Hanya matanya yang tidak jerih, tidak murung, juga tidak dipenuhi bercak abu-abu senja.

Dia menerima saya di ruang tamunya, dan duduk bersama beberapa orang tamu lainnya yang telah memasang kuda-kuda untuk berbincang dengannya sebagai seorang tokoh; dengan dahi berkerut, nota dan pena, dan bahkan alat perekam suara. Saya menyurutkan diri ke belakang, tentu saja. Karena indah melihatnya dari kejauhan saja.

Ia seorang yang pandai dan bijak berbicara. Berondongan pertanyaan dari tamu-tamu dijawabnya dengan panjang lebar tetapi akurat. Ketika jam-jam lewat, diskusi informal itu diakhiri dengan salam puas dari para tetamu yang pamit pulang.

Saya lalu duduk di hadapannya. Tetapi ia mengajak saya duduk di beranda. Saya duduk di sampingnya untuk mulai berbicara, tetapi ia mempersilakan saya menikmati kue yang telah disiapkannya sendiri. Ingin saya tatap matanya untuk mengawali perkenalan yang sesungguhnya, tetapi ia melemparkan pandangannya kepada kebun kecil di hadapan.

Tetapi, sungguh aneh tiba-tiba saya hanya terhenyak saja. Sungguh aneh saya kehilangan semua pertanyaan prinsipil yang telah tersusun bahkan sejak tulisannya mulai hilang dari media massa. Sungguh aneh bahwa saya kehilangan kata-kata.

Pernahkah Anda merasa menemukan sebuah saat yang tidak pernah ada dalam rencana, jauh lebih sederhana dari dugaan, tetapi menghapus semua tanda tanya, kekesalan, dan mungkin, semua kecemasan dan komplikasi masa silam dalam sebuah saat yang amat ringan tetapi abadi dan penuh kesyukuran? Padahal, penulis itu hanya mengucapkan bismillah, menyeduh teh dalam poci, menuangkannya, dan menyendokkan gula ke cangkir saya. Laku tanpa katanya seperti mempersilakan waktu merayap menyampaikan getarnya.

Sore hangat. Rerumputan hijau berkilat. Ujung-ujung pepohonan sedikit bergerak. Suara tok-tok penjual bakso terdengar di kejauhan. Dan saya baru bisa menyuarakan niat saya, lambat-lambat.

“Mungkin saya datang ke sini sebetulnya untuk belajar menulis. Tetapi saya tidak merasa harus membawa kertas dan pena. Yang pasti, izinkan saya mengenali Anda, bukan mengenali imaji yang terbangun lewat tulisan-tulisan Anda, atau imaji saya tentang Anda yang terkontaminasi oleh harapan saya.”

Dan penulis itu menuangkan teh kembali ke dalam cangkir saya yang kosong, tepat ketika saya merasa ingin tetapi sungkan untuk meminta. “Jika pun ada pertanyaan, saya hanya ingin menanyakan, kenapa Anda berhenti menulis?”

Penulis itu mengangkat muka dan hanya berkata, “Tidakkah terlihat bahwa saat ini, saya sedang intens menulis, tentang kita?”

Comments»

1. eva handayani - Sat, 4 Nov 2006

Mungkinkah ini juga yang akan saya rasakan ketika bertemu dengan mbak Miranda? Tidak dapat berucap apa-apa… ketika sebenarnya banyak sekali yang ingin saya sampaikan… :)

2. sahrudin - Fri, 10 Nov 2006

biarlah, lewat tulisan-tulisannya saja, saya menjumpai penulisnya…

3. Lelyhana - Fri, 10 Nov 2006

Lelyhana

Mbak Miranda…saya merasa dekat dengan membaca tulisan-tulisan mbak. Saya mengenal mbak Miranda di tahun 1999, tulisan mbak di buku cahaya rumah kita sangat menginspirasi saya. Saya di buat menangis terharu ketika menemukan nikmatnya berjilbab, dan bahkan 3 tahun kemudian ketika saya memutuskan untuk menikah dengan suami tercinta tanpa proses pacaran. Sampai saat ini bahkan hingga Allah SWT memberikan dua orang anak pada saya, buku mbak selalu saya baca entah ribuan kali. Doa saya untuk mbak dan keluarga semoga Allah SWT memberikan rahmatNya. Tetap berjuang dan mencerahkan ya mbak…..



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.