jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Rasa Rahim

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 3 Nopember 2003

Sebuah legenda filosofis menyatakan bahwa seorang bayi hakikatnya lahir dan menangis lantaran terpisah dari pelukan rahim. Seorang manusia lahir tidak hanya membawa hak-hak asasinya yang tidak bisa diganggu-gugat untuk hidup dan mencapai kebahagiaan, tetapi juga membawa dukanya yang pertama.Dan duka itu menjadi kawannya. Sekudus apa pun tidurnya, tetap saja, ketika seorang bayi merasa basah, kedinginan, kesepian, atau tidak enak badan, ia akan menangis. Bayi memang tidak perlu diajari untuk bisa menangis. Manusia tampaknya juga tidak perlu bersekolah untuk bersedih, tetapi ia perlu belajar dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan mencapai kebahagiaan. Hidup ini memang dibayangi kemurungan, tetapi arti hidup adalah untuk mencerahkannya.Jadi, adalah natural bahwa tidak ada seorang pun yang mau hidup hanya untuk memperbesar kedukaannya. Tuhan tampaknya juga tidak mau membuat kehidupan hanya bermakna absurd karena makhluk sasaran pandangannya itu hanya diciptakan untuk menghabiskan umurnya berlari menghambur ke dalam kemurungan tanpa ujung, dan mati sia-sia.

Dan ketika ternyata, kelahiran dan kehidupan memang tidak pernah menjadi sebuah pilihan, tetapi kenyataan yang mesti dihadapi, adalah keharusan juga untuk belajar menghindari penderitaan.

Hidup, karenanya, adalah negasi. Semakin seseorang dewasa, ia pun semakin belajar kompleksitas menegasi atau menolak penderitaannya. Penderitaan fisik ditolak dengan upaya sistematis untuk belajar, baik melalui komunikasinya dengan keluarga, tetangga, hingga komunikasi dengan ilmu di bangku pendidikan formal.

Tetapi, penderitaan spiritual ditolak dengan cara yang berbeda. Para arif percaya bahwa penderitaan spiritual juga berakar dari keterpisahan seseorang dengan rahim ibu, karena daripadanyalah seorang jabang bayi bisa merasakan transmisi sifat rahimiah Ilahi yang paling optimal. Karenanya, untuk menghindari penderitaan spiritual, secara sadar, seseorang harus mengerahkan upaya untuk kembali kepada ‘’rasa rahim’’.

Anda ingat ketika Anda berada di dalam rahim ibu? Sungguh sayang bahwa saya termasuk orang yang tidak bisa, atau setidaknya, belum bisa sungguh-sungguh mengingatnya. Tetapi konon, rasa itu bisa didapat dengan laku negasi atau laku penolakan dunia, yang disadari.

Bulan Ramadhan ini, setiap pemeluk Islam berpuasa. Idealnya, bulan ini adalah bulan untuk menegasi refleks batin yang cepat tertarik pada segala kenikmatan dan keculasan duniawi, karena sesungguhnya, semua itu hanya duka tersembunyi saja, yang sementara enaknya. Di dalam puasa, idealnya, lantas ditemukan kebahagiaan spiritual yang sejati dengan menemukan ‘’rasa rahim’’ itu, yakni rasa dilingkupi dan dicurahi oleh sifat Kasih-Sayang Ilahi, sampai ke ujung kesadaran dan lubuk hati.

Tetapi, mungkinkah itu? Mungkinkah rasa rahim dicapai ketika sambil berpuasa, laporan tahunan pajak harus diisi, dan untuk menghindari potongan yang terlalu tinggi, seorang ahli administrasi terbaik pun terpaksa harus menjadi tukang sulap demi pengabdiannya kepada institusi?

Mungkinkah rasa rahim itu dicapai, ketika untuk membiayai temu keluarga tahunan, para pegawai negeri juga harus mengejar proyek dengan kecepatan dan kuantitas tinggi, sedemikian tinggi hingga kursi kantornya seperti diisi hantu yang hanya ketahuan jejak dari tanda-tangannya saja?

Ramadhan ini, saya amat takut bahwa jika pun saya berpuasa, saya bahkan sudah tidak kenal lagi makna puasa selain sebagai upaya penghapus kewajiban belaka. Bagaimana dengan Anda?

Comments»

1. Elfizon Anwar - Fri, 5 Dec 2008

Peristiwa apa yang terjadi di dalam rahim seorang ibu?.
1. Rahim tempat bersemainya pertemuan sperma dan ovum.
2. Rahim tempat si bakal anak.
3. Rahim tempat diadakannya ‘pertemuan’ antara jasad manusia dengan ‘roh’ dari Tuhan, Allah SWT, lalu timbul nafsu atau jiwa (QS. 7:172).
4. Rahim tempat terjadi Perjanjian Primordial antara manusia dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT (QS. 7:172)
5. Ketika si anak ini lahir atau keluar dari Rahim ibunya, dia ‘menangis’ karena takut, apakah ‘mampu’ mengemban amanat yang dibuatnya ketika dia masih di dalam rahim tadi (QS. 33:72).
6. Karena itu, rahim tidak bisa ditiru, dipalsukan tapi bisa dicangkokkan asal sesama perempuan juga.



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.