Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Pesan Nenek
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 04 Februari 2002
Ayu kecil hanya mengenal neneknya dari cerita ibunya. Kabarnya, usianya sudah di atas 60 tahun. Sebetulnya, Ayu takut orang yang sangat tua. Mereka keriput dan jika berjalan terbungkuk-bungkuk seperti mau roboh. Ketika mereka meninggal, seisi rumah menggetarkan semua perabotan dengan tangisan. Tangisan mengerikan itu, anehnya, konon karena sayang.
Tetapi kini, Ayu berada di salah satu kamar di rumah neneknya yang jauh terpencil di desa pegunungan untuk berlibur. Sementara ibunya pergi berbelanja di pasar tradisional, Ayu duduk di beranda, menyaksikan perempuan tua berambut abu-abu itu bergerak-gerak di antara pot-pot bunga. Matahari pagi selalu menyamarkan keriput kulitnya, dan jika sore dan hujan datang, usia tua tidak menghalanginya untuk berlari kecil mengangkat jemuran. Sama sekali jauh dari gambaran orang tua sakit-sakitan yang tinggal menggenapkan keputusasaannya dengan ajal, Ayu melihat nenek itu selalu melakukan sesuatu. Uniknya, semua sering dilakukannya dengan begitu asyiknya sehingga seakan-akan, tidak ada seorang manusia pun yang eksis di sekitarnya.
Ayu melihat seekor ulat yang amat menjijikkan menempel di lipatan baju perempuan itu, hingga ia merasa punya cukup alasan untuk menyapa.
“Nek. Tuh ada ulat di baju Nenek.”
Neneknya menoleh, dan seketika tatapan sebening mutiara membuat mata gadis kecil terpana.
“Euh, saya jatuhkan dan saya injak ulat itu, ya, Nek ?”
Neneknya menggeleng. Diambilnya selembar daun, disisipkannya di bawah perut ulat itu, dan dipindahkannya ulat itu ke sebuah celah bongkol pohon tua yang sudah ditebang.
Mengapa tidak dibunuh saja ulat itu? Lihat buruknya, dia selalu berjalan dengan perutnya. Hanya untuk berjalan saja, ia membutuhkan energi yang begitu besar hingga semua hijau pucuk daun, semua rona wangi bunga, dan semua ranum manis buah dari sebatang pohon bisa habis teraniaya bersujud paksa di depan mulutnya.
”Ulat ini sudah mau jadi kepompong, kok,” desis nenek itu seperti kepada dirinya sendiri. ”Ia tak membutuhkan apa-apa lagi, selain tempat yang tepat.”
Angin berdesir menyalakan bara ingin tahu.
”Dari mana nenek tahu?”
Dan bening mutiara menerpa mata Ayu lagi.
”Ulat itu baru bicara,” jawab neneknya tersenyum.
”Mana suaranya?” Ayu protes.
”Ada. Tidak terdengar dengan telinga biasa, tetapi tertangkap di sini.” Dan nenek itu menunjuk dadanya sendiri, tepat di tengahnya, lalu juga dada Ayu, tepat di tengahnya.
Mana suaranya? Mana? Ayu penasaran. Dan pertanyaan itu seperti bergaung kian kemari. Riuh sekali. Nenek itu mengusap kepala Ayu seakan berkata, nanti juga kau bisa mendengarnya. Sebetulnya suara itu ada. Ia hanya terlalu lembut untuk didengar jika diributkan oleh berbagai suara lain dan tanda tanya.
Tetapi, bukankah menjengkelkan jika sebuah pertanyaan tidak dijawab? Atau jika jawaban kepenasaran yang memuncak adalah kediaman? Atau jika tuntutan akan kepastian justru sebuah misteri? Dan Ayu masih amat muda, hingga ia amat berhak untuk jengkel.
Dan neneknya itu lalu ganti bertanya,
”Hei, Sayang, bagaimana kau bisa tahu bahwa ada ulat begitu besar di baju Nenek, yang pasti akan membuat Nenek gatal-gatal jika dibiarkan, padahal kau nun duduk di pojok itu?”
Ayu diam, mengangkat bahu, dan hanya bisa menjawab, ”Ndak tahu. Ayu ya …, tahu begitu aja.”
”Kau sayang nenek, kan?” tanya neneknya lagi.
Ayu mengangguk.
”Nenek juga tahu suara ulat itu, begitu saja. Sama kok. Dan Nenek juga sayang ulat itu, seperti bunga-bunga itu. Sayang membuat kita mengerti yang kita sayangi, seperti mengerti diri kita sendiri.”

Comments»
no comments yet - be the first?