jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Pengakuan

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonasi, Republika, Senin, 15 Juli 2002

Di atas meja, tergeletak sepucuk surat. Memang hanya surat, yang mungkin diletakkan oleh merpati pos nyasar. Di atasnya tidak ada prangko ataupun kolom notifikasi pengiriman. Ia unik karena misterius. Saya tidak tahu persis apakah saya mengenal betul pengirimnya atau tidak. Tetapi, membaca surat itu tidak hanya membuat saya merasa membaca. ” … Kukirim surat ini dari seberang benua, dari seberang logika dan pembenaran, dan dari seberang pemahaman.

Aku sahabat baikmu yang mungkin telah kaulupa. Yang pasti, jika kukatakan bahwa kita telah satu-dua kali berjumpa, itu bukan di antara orang-orang yang tengah berpesta atau sibuk berbelanja di supermarket. Kita pernah berjumpa di pemakaman seorang sanak keluargamu yang kausayangi. Dalam sebuah kompetisi kemampuan akademis, pernah kau kalah dan kutawarkan segelas air putih yang mungkin terlalu hangat sehingga kurang nyaman untukmu. Yang jelas, adalah kedukaan dan kekecewaan yang mempertemukan kita, dan bukan sebaliknya.

Dukanya duka, ternyata, adalah ketika tak seorang pun mengerti karena memang tak ada kepercayaan yang cukup dapat diberikan kepada orang lain untuk mencoba mengerti. Aku kini di sini, di dalam ruang tiga kali empat meter, di negara asing yang menjunjung tinggi hak privasi, menulis sebuah surat yang mungkin akan kukalungkan di leher seekor merpati yang akan terbang ke udara antah-berantah atau mulut botol yang akan kuhanyutkan di sungai tanpa ujung, dengan telepon di sampingku lengkap dengan daftar alamat, dan kesepian yang akut. Sungguh aneh aku tidak mau bercerita kepada siapa pun, kecuali kepadamu. Sakit dukaku jangan ditanya.

Semoga kauingat aku sebagai seorang perempuan muda dengan baju menjulur dari ujung rambut sampai ujung kaki. Beberapa kali aku memang menjadi pembicara diskusi tentang cara mendidik anak dengan bayiku yang kubiarkan bergantung di dada. Ketika itu, siapakah aku bagimu?

Beberapa tahun setelah itu, aku mulai bekerja di lingkungan pendidikan. Aku menjadi asisten dosen untuk beberapa mata kuliah, dengan energi cukup tinggi untuk terlibat juga dalam aktivitas-aktivitas riset. Jika saat itu kita bertemu, aku kini ingin bertanya, siapakah aku ketika itu bagimu?

Siapa aku bagimu ketika kaudengar aku pergi bertugas ke luar negeri, dan bercita-cita memiliki sebuah rumah kecil dengan halaman luas tempat anak-anak selalu dapat bermain?

Mungkin aku bagimu, pernah, adalah seorang narasumber yang langsung mempraktikkan semua yang kukatakan, atau seorang perempuan yang telah melengkapi amalnya dengan peran sosial yang mulia untuk mendidik masyarakat, atau seorang perempuan yang menjalankan beberapa tugas peran ganda dengan keyakinan.

Dengan surat ini, aku bermaksud memohon maaf yang besar karena jika aku harus jujur, sesungguhnya semua itu hanya bohong besar.

Inilah beberapa kegagalanku yang kusembunyikan bahwa aku telah juga memberikan pengalaman perceraian kepada anak-anakku, bahwa tubuhnya penyakitan karena tidak pernah ia kurawat dengan baik, dan bahwa telah kuhabiskan sebagian waktu kerjaku hanya untuk mengantar anakku berjalan kaki ke sekolah mereka setiap pagi. Semua ketidaksempurnaanku sebagai ibu, perempuan, dan pekerja professional membuatku sungguh membutuhkan Allah. Tetapi, ketidaksempurnaan itu juga yang menghalangiku untuk mengatakan pengakuan ini di hadapan orang lain. Karenanya, maafkan aku.”

Tidak perlu surat ini dijawab, memang. Tetapi, membacanya seperti mandi bersih berguyur mata air dari kedalaman hati yang paling peka akan kehadiran-Nya.

Comments»

1. ryn - Fri, 28 Nov 2008

mba….. sy ‘dapet’ maknanya (stidaknya dg kapasitas saya pribadi)..
sejatinya perempuan… ah saya harus menata cita2 dan alur hidup..
u/ jadi perempuan yg sebenar2nya …. ah ibu

2. Elfizon Anwar - Fri, 5 Dec 2008

Ini adalah pengakuan yang tulus dari seorang hamba yang bernama manusia, seorang perempuan lagi. Tetapi, masalah ini tidak saja menimpa penulis artikel ini, juga saya, juga orang lain. Memang, masalah terbesar yang dihadapi anak manusia ialah ‘pengaruh’ lingkungan yang sangat ketat. Alhamdulillah, penulis lahir di lingkungan keluarga yang Muslim, sama dengan saya. Tetapi, bagaimanakah gerangan jika kita tidak lahir di lingkungan Muslim?. Subhanallah, sungguh terasa sangat berat ujian hidup kita, benarlah sinyal Al Quran dalam Surat Al A’raaf ayat 172-173.



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.