jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Pembinaan

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 06 Oktober 2003

Dapatkah Anda atau saya menemukan sedikit pemahaman tentang kata-kata pengajaran, pendidikan, dan pembinaan?

Pengajaran. Begitu mendengar istilah itu, saya langsung membayangkan sebuah kelas, murid-murid yang duduk takzim, dan buku-buku standar sekolah atau perkuliahan yang harus dipelajari. Jika saya seorang guru atau dosen, mengajar bagi saya adalah menelisik seluk-beluk ilmu yang ada di dalam buku-buku pegangan, untuk disampaikan kembali dalam bahasa yang lebih dimengerti oleh siswa atau mahasiswa yang tengah saya ajar.

Tujuannya adalah supaya para siswa atau mahasiswa menguasai ilmu yang ada di dalam buku-buku itu. Sementara itu, jika saya adalah siswa atau mahasiswa, pengajaran adalah sebuah proses ketika angka-angka atau kalimat-kalimat yang sarat dengan ilmu tidak lagi tercetak mati di buku-buku tebal dan tak bergambar, tetapi beterbangan, membentuk gambar, menjalin hubungan, menyapa persoalan, dan kemudian, menghasilkan solusi-solusi yang menarik dan menghangatkan pikiran, dengan guru, dosen atau senior sebagai agen penghidupnya. Pendidikan bagi saya agak sedikit lebih sakral. Orientasi utama pendidikan bukanlah untuk kepandaian berpikir atau ketepatan menjawab soal ujian, tetapi kepandaian dan ketepatan bersikap. Karenanya, pendidikan selalu berlandaskan nilai; dapat nilai agama, susila, kesopanan, dan juga hukum. Pendidikan juga tidak hanya melibatkan institusi atau proses formal di dalam kelas sekolah atau ruang kuliah. Ia bisa terjadi di mana saja, sengaja maupun tidak sengaja; di pasar, di bus, di meja makan keluarga, di depan televisi, hingga di dalam buaian bayi dan bahkan rahim ibu. Lebih jauh lagi, ia juga bisa berlangsung dalam relung hati, yakni ketika seseorang menemukan diri sedang berbincang dengan nuraninya sendiri, atau berdoa kepada Tuhan. Pendidikan juga lebih menggetarkan hati, karena sebagai proses internalisasi nilai, ia memiliki sanksi. Sanksi, selembut apa pun, pasti menciptakan rasa tidak enak bagi yang diberi sanksi, karena tujuan sanksi memang untuk membuat seseorang menghindar atau kapok melakukan perbuatan yang dianggap buruk. Yang melegakan adalah, konon, sanksi yang baik bukanlah sanksi yang andal membuat seseorang jadi penakut karena merasa terancam oleh hukuman yang siap menusuk di semua sudut, tetapi sanksi yang dapat mengalihkan minat seseorang dari perbuatan buruk ke perbuatan yang lebih baik. Jadi, sanksi ini juga memberi alternatif untuk beralih sikap, dan memberi kesempatan seseorang untuk menikmati asyiknya peralihan sikap itu.

Pembinaan konotasinya paling keren dalam kesadaran saya. Kenapa? Karena pembinaan biasanya hanya dilakukan kepada siswa atau mahasiswa yang telah punya dasar intelegensi dan kepandaian bersikap yang tertentu. Siswa atau mahasiswa yang dibina biasanya telah punya kepandaian, motivasi, dan pemahaman akan nilai-nilai. Kekurangannya hanya, mereka masih terlalu polos, naif, dan tidak bijak. Karenanya, pembinaan adalah proses pendidikan lanjut yang hanya cukup mengandalkan pemberian contoh, dialog, dan paling jauh, peringatan keras.

Maka, jika ada institusi pendidikan yang para seniornya mengatakan, “Saya sudah membina junior saya sepuluh kali” dengan arti harafiah: saya sudah memukul junior saya sepuluh kali, saya semula mengira bahwa itu tentu institusi pendidikan para monster yang hanya ada di film horor terbaru. Ketika kemudian tersiar kabar bahwa itu terjadi di STPDN, saya sungguh tidak percaya. Saya kira, saya sudah gila. Siapa yang lebih dulu gila, Anda atau saya?

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.