Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Bersendiri
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 14 Januari 2002
Suatu malam, dalam dialog imajinernya, seorang murid menyatakan kepada gurunya bahwa ia baru saja sampai pada titik esensial femininitasnya. Titik itu didapatnya setelah serangkaian dialog yang dilakukannya, dengan pepohonan, jalanan, dan akhirnya dinding-dinding di dalam hatinya sendiri. Bukan, ia bukan tidak punya kawan. Ia sebetulnya memiliki banyak teman dan saudara, yang selalu siap menawarkan jasa yang murni berdasarkan hubungan yang tulus, atau paling tidak, hubungan saling menguntungkan, yang selama ini telah terbangun. Tetapi, yang tidak dimilikinya hanya satu, pasangan hati.
Doa Malam
Posted in Puisi , 3 commentsMiranda Risang Ayu
Malam-malam begini
semua akan segera tidur tetapi jagakan aku, Tuhanku
Jagakan aku.
Karena malam-malam begini
adalah kenyataanku
(more…)
Sukses
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 30 September 2002
Kebanyakan orang, secara wajar, mengalokasikan umur untuk mencapai standar-standar kesuksesan yang juga masuk akal, dengan peta-peta masa depan yang telah ditetapkan oleh masyarakat dan terukur. Sebagian orang bersekolah tinggi hingga mendapat pekerjaan yang layak, menunjukkan loyalitas kerja hingga mendapat kedudukan, dan mempertahankan integritas profesional, sehingga menjadi aset unggul bagi institusi tempatnya bekerja, sambil tentu saja: mendapat status sosial yang terpandang.
Merasakan Perang
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 31 Maret 2003
Saya tidak menonton konser musik Slank di Bandung, tetapi terkena macet karenanya. Konser itu konon menggaungkan seruan perdamaian. Beberapa hari kemudian ada perhelatan besar antarpenyair di Tasikmalaya. Saya juga tidak sempat hadir, tetapi saya kira, pasti ada satu dua puisi yang menangisi invasi Amerika atas Irak.
Berakhir Pekan dengan Miranda Risang Ayu
Posted in Liputan Media , 5 commentsManusia, Muara Lelaki, dan Perempuan
Pikiran Rakyat, Minggu, 21 Desember 2003
SETELAH membuat janji lewat SMS, malam itu kami bertemu di rumahnya di kawasan Gegerkalong Hilir Bandung. Terakhir kami bertemu pada bulan Oktober yang lalu di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta untuk sama-sama berangkat mengikuti Kongres Kebudayaan di Bukittinggi bersama beberapa seniman lainnya. Sosok dan roman air mukanya tenang, tetapi tidak ketika ia menghadapi seorang petugas bandara yang dengan ketus menahannya menuju ruang tunggu pesawat karena menganggapnya belum check-in tiket di lantai satu. Tentu saja aneh. Maka, terjadilah sedikit keributan kecil. Untunglah K.H. Maman Imannul Haq, salah seorang anggota rombongan kami, melerainya. Ia tetap berlalu menuju ruang tunggu pesawat, meninggalkan petugas bandara yang berwajah masam itu. “Begini cara kamu melayani publik?” katanya sebelum pergi, tak kalah masamnya. Di tangga pesawat, meski tampak telah terlihat santai, ia kembali berkata dengan nada menggerutu, “Bagaimana negara mengurusi rakyatnya bisa kita lihat di bandara ini.”
Indikasi Asal bagi Kekayaan Adat
Posted in Opini , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Humaniora, Kompas, Sabtu, 25 Oktober 2008
Cerita dari Jahab
Akhir tahun 2005. Seorang pemangku Adat masyarakat Dayak Benuaq di Jahab, Kalimantan Timur, menuturkan sebuah cerita sakral, bahwa bagi mereka, kayu-kayu hutan Kalimantan ternyata adalah leluhur dan tetangga yang harus selalu diperlakukan dengan hormat.
Jihad Bagi Irak?
Posted in Kolom , add a commentMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 14 April 2003
Spirit artinya semangat atau ghirah. Jadi, jika Anda dan saya betul-betul spiritualis, Anda dan saya seyogianya adalah orang-orang yang punya semangat atau ghirah yang tinggi juga, apalagi dalam membela sesama Muslim yang teraniaya.
