jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Ningrat Baru Penulis Perempuan Indonesia

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 03 Maret 2003

Selamat kepada lahirnya kelompok baru perempuan penulis Indonesia, seperti tertulis di Kompas 23 Februari 2003. Ayu Utami memang fenomenal. Dewi Lestari juga. Dalam novel Samannya, Ayu selalu saya ingat sebagai sastrawati yang punya kecantikan khusus dalam mengolah kata dan kejujurannya untuk menuliskan hal-hal yang tabu dari sisi lain, sebagai fakta kehidupan sehari-hari. Saya juga mengagumi Dewi yang punya rasa percaya diri ekstra dengan mencetak, mempublikasi, dan memasarkan karya-karya melalui jaringannya sendiri. Mereka begitu pandai, cantik, berani, dan mandiri.

Marissa Haque sekarang juga sudah mulai menulis. Itu sudah tentu bagus. Uniknya, belum usai novel pertamanya ditulis, ia sudah disebut bersama jajaran penulis perempuan seperti Ayu Utami dan Dewi Lestari. Tetapi, ia memang punya segalanya, artis sekaligus produser, berpendidikan, cantik, punya keluarga harmonis, kaya, spiritual pula. Saya pernah membaca harapannya untuk kelak dapat menjadi Rabi’ah Al Adawiyyah, sufi perempuan yang terkenal dengan puisi-puisi Ilahiahnya. Semoga Allah mengaruniakan semua yang diinginkannya.

Ngomong-ngomong soal Rabi’ah, biar pun sering bercadar, saya yakin ia cantik. Tetapi, kecantikan kata-katanya yang mengabadi lahir secara tidak sederhana. Konon, Rabi’ah kenyang menderita. Ia sebatang kara, pernah diperkosa dan dijadikan budak. Begitu menderitanya ia hingga ia berjanji kepada Allah, bahwa jika kelak ia dibebaskan, ia hanya akan mengabdikan dirinya kepada Allah. Setelah itu, ia menjadi spiritualis Islam sejati yang amat-sangat peka. Karena empatinya yang besar pada beratnya dosa para manusia, ia sampai bersyair supaya Allah menjadikan dirinya besar dan memenuhi neraka, hingga tak memungkinkan seorang pun lagi untuk masuk dan merasakan panas apinya.

Diah Arimbi, seorang kandidat doktor penerima beasiswa Pemerintah Australia yang sedang meneliti tentang penulis perempuan Indonesia, pernah begitu penasaran. Tidak ada yang memungkiri bahwa penerapan hukum Islam secara tradisional di Indonesia sesungguhnya banyak yang masih kurang sensitif terhadap perasaan perempuan. Contohnya banyak, dari skeptisisme terhadap kualitas rasional perempuan, keengganan menerima kepemimpinan perempuan, sampai poligami terpaksa. Ketidakpekaan normatif ini mungkin sudah banyak mengucurkan darah hati Muslimah, terutama nun di pelosok sana. Anehnya, mengapa darah itu tidak lantas mengalir menjadi karya-karya besar seperti karya Rabi’ah?

Mungkin, ketertutupan itu adalah bukti cinta para Muslimah juga, yang enggan menjatuhkan nama Islam, terlebih nama baik lelaki yang mungkin adalah bapak, suami, atau anak mereka sendiri. Atau, para Muslimah itu terlalu sederhana sehingga mereka tidak punya waktu dan uang untuk menikmati pendidikan tinggi, terbang dengan pesawat ke sana ke mari, dan menghikmati banyak waktu luang untuk kontemplasi.

Tetapi bagaimanapun, derita yang tak terelakkan, yang biasanya merupakan akibat dari ketertekanan struktural, biasanya menjadi darah kata yang sebenarnya. Saya sendiri tidak tahu, apakah aset derita ini juga dimiliki oleh para penulis perempuan yang sedang meroket itu. Jika tidak, darah kata mereka itu mungkin tidak merah, tetapi biru, yang juga didukung oleh salon kecantikan, waktu luang di kafe-kafe, dan mungkin juga tabungan uang di bank. Seperti kehadiran para ningrat, semua itu tentu sah-sah saja. Hanya, mata saya jadi agak berair.

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.