Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Nasionalisme
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 23 Juni 2003
Beberapa mahasiswa tingkat doktoral (S3) terbaik yang pernah saya temui dan hingga kini masih menyelesaikan studinya di beberapa perguruan tinggi terkemuka di luar negeri, saya kira pernah mendiskusikan kemungkinan diambilnya sebuah sikap individual yang sesungguhnya agak tabu di hadapan kaca mata nasionalisme tradisional.
Sikap itu adalah: berusaha sebaik mungkin agar dapat lulus dengan nilai optimal, dan dengan modal itu, berusaha untuk mendapatkan beasiswa riset post-doktoral atau mengajar, bukan di kantornya semula di Indonesia, tetapi di luar negeri.
Terus terang saja, ketika kali pertama saya mendengar sikap itu, timbul resistensi irasional dalam diri saya. Resistensi itu sampai pernah hampir menyulut pertengkaran tidak perlu antara saya dengan beberapa sahabat, karena semula, saya mengira bahwa ini adalah masalah nasionalisme yang paling prinsipil.
Tetapi, saya sendiri ragu dengan resistensi itu, karena ketika itu, saya masih kandidat master (S2) dan tidak merasa memiliki riwayat pendidikan internasional istimewa seperti yang mereka miliki, yang rata-rata mereka dapat beasiswa pula. Jangan-jangan, sikap sok nasionalis saya itu sebetulnya cuma cara saya untuk secara elegan menutupi keminderan.
Yang pasti, mereka bukan mahasiswa yang pergi karena kecerdasan plus tabungan, tetapi “hanya” karena kecerdasan. Kecerdasan mereka itu lantas dimanja oleh beasiswa, peralatan canggih, dan kemungkinan pengembangan diri yang hampir mustahil didapat di Tanah Air.
Memang, beasiswa, berapa pun besarnya, biasanya hanya menyentuh garis minimal standar hidup layak para warga di sana. Tetapi bagaimana pun, yang disebut garis minimal standar hidup layak itu masih memungkinkan seseorang menabung untuk menaikkan kualitas makan, dan bukannya makan tabungan.
Siapa bilang Australia, misalnya, tidak suka orang-orang kulit berwarna atau non-Kristen yang mencari penghidupan yang lebih baik di negaranya? Betul bahwa pencari suaka dan pengungsi itu amat memusingkan dan membebani anggaran nasional, terlebih-lebih jika mereka itu datang karena alasan ekonomis.
Betul pula bahwa kepusingan itu bertambah jika para pelarian itu bukan berasal dari negara berpenduduk mayoritas kulit putih, karena bahasa dan kebiasaan yang terbawa biasanya juga terlalu berbeda. Kepusingan itu mungkin juga diperburuk dengan isu terorisme internasional. Tetapi, negara-negara maju biasanya amat menyukai otak emas, dari mana pun datangnya, terlebih jika telah diasah secara meyakinkan dalam sistem pendidikan mereka sendiri. Tak terkecuali, otak para mahasiswa program doktor dari Indonesia yang hasil risetnya mungkin bisa bernilai berjuta-juta.
“Saya mencintai Indonesia dan tidak pernah berpikir untuk berganti kewarganegaraan. Di mana pun, saya sholat dan makan nasi buatan sendiri. Saya tetap menganggap bahwa kekayaan alam Indonesia, jika dikelola dengan baik, jauh lebih baik dari yang dimiliki oleh negara yang konon maju ini. Tetapi di Indonesia, penghasilan bersih saya tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok.
Daripada makan gaji buta atau korupsi, sambil frustrasi karena dibebani tugas birokrat yang tidak memungkinkan saya mengembangkan ilmu lagi, lebih baik saya pergi, bukan? Biar dunia tahu bahwa masih ada orang Indonesia yang berarti. Saya pasti kembali, jika Indonesia sudah lebih mau ‘menerima’ saya.”
Maka, dengan duka saya harus berkata, bahwa ketika korupsi sudah menjalar akut dari pejabat tinggi hingga supir taksi, sikap ini mungkin jadi semacam nasionalisme juga.

Comments»
saya minta bantuan artikel tentang post modernis
setuju dgn sikap yg diambil teman teman mbak miranda. mosok kalah ama orang china dan india yg bisa punya lab sendiri dan narik orang orang dari negaranya untuk dapat beasiswa dan akses ke luar negeri ?