jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Merasakan Perang

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 31 Maret 2003

Saya tidak menonton konser musik Slank di Bandung, tetapi terkena macet karenanya. Konser itu konon menggaungkan seruan perdamaian. Beberapa hari kemudian ada perhelatan besar antarpenyair di Tasikmalaya. Saya juga tidak sempat hadir, tetapi saya kira, pasti ada satu dua puisi yang menangisi invasi Amerika atas Irak.

Malamnya, di Rumah Nusantara, Bandung, Hidayat Mukti berkonser musik lagi, dengan judul konsisten dengan konser-konsernya yang terdahulu, yakni Konser Musik Cinta. Boleh ‘kan saya menebak, salah satu lagunya tentu adalah lagu tentang cinta kemanusiaan, yang secara implisit, mengutuk peperangan.

Dua malam yang lalu saya datang ke sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa Islam atas permintaan mereka sendiri. Paginya, beberapa wajah mereka baru saya lihat di antara antusiasme lebih dari 300 mahasiswa yang mengikuti kuliah umum dari Palang Merah Internasional.

Kuliah itu sendiri mengangkat topik hubungan hukum hak asasi manusia dan hukum perang. Dari gairah mereka kemudian keluar pertanyaan tidak terelakkan. Apalagi kalau bukan sikap yang harus diambil atas krisis Teluk II di Irak yang sekarang tengah berlangsung itu. Mereka meminta rumusan sikap yang lebih nyata daripada “sekadar” berdoa.

Saya berusaha menghindar untuk menjawab. Saya katakan, saya bisa jadi “menunggangi” mereka. Tetapi dengan yakinnya mereka menimpali, “Ya nggak apa-apalah, Bu. Kita ‘kan sesama Muslim. Kami rela, kok, ditunggangi ….”

Dengan duka, terpaksa saya mengemukakan jawaban klise bahwa kekuatan para mahasiswa ada pada intelektualitas dan moralnya. Jika hendak diformat dalam bentuk gerakan, gerakan itu, ya, jadi gerakan sosial, budaya, dan informasi, yang semuanya berbasis kepada gerakan moral. Gerakan mengirimkan diri untuk mati syahid di Irak itu adalah alternatif yang tidak dianjurkan.

Mengapa tidak dianjurkan? Bukankah yang teraniaya di Irak sana mayoritas, sesama Muslim? Lihat, kata saya dengan klise lagi, itu sukarelawan dari Eropa dan Amerika yang mau menjadi tameng hidup atas serangan negara mereka sendiri ke Irak saja sudah berpulangan. PBB saja kewalahan.

Dengan semangat yang tidak juga pudar, para mahasiswa itu lantas bertanya, bagaimana menyikapi “kaum munafik”, seperti negara-negara Kuwait dan Arab Saudi, yang membiarkan wilayahnya menjadi pangkalan tentara Amerika dan sekutunya.

Dengan pedih saya menjawab, kita tidak bisa menghakimi dengan gegabah kebijakan negara-negara itu. Bagaimana pun, itu adalah kebijakan negara-negara berdaulat. Bersyukurlah bahwa kita termasuk warga negara Indonesia yang mengecam keras invasi Amerika itu.

Lalu? Saya pulang dengan lunglai. Saya menemukan diri ditegur oleh penjaga toko yang bingung karena saya berputar-putar dari rak ke rak dengan linglung. Masuklah saya ke sebuah restoran sepi. Suapan makanan favorit saya, seperti akan keluar lagi, berkali-kali.

Untuk apa semua seruan artistik dan teori akademis yang sudah malang melintang di panggung dan forum-forum diskusi? Untuk apa saya menghabiskan waktu, usia, dan keringat, mengajarkan hak-hak asasi manusia, yang sebagian terinspirasi dari hak-hak asasi yang terdapat dalam Amendemen Konstitusi itu sang negara adidaya, yang dengan percaya dirinya lantas menggagahi negara kaya minyak yang sudah lelah oleh embargo itu?

Hampir saja saya berpikir bahwa manusia ternyata hanyalah binatang paling gila, yang suka makan sesamanya, tetapi pandai cuci tangan dengan teori-teori di kepalanya. Hampir saja saya gila, ketika sadar bahwa ternyata saya juga adalah manusia.

Comments»

1. papabonbon - Fri, 2 Feb 2007

No comment mbak, secara kita dalam keprihatinan yg sama.

saya cuman ingin mengutip dari kata kata yg biasa jadi signature saya di http://www.ikastara.org.

Democracy is a very good solution to a problem of power and its control. It’s not necessarily a solution to problems of economic development….

dengan tambahan impresi …

itu cuman berlaku di negara sendiri. kalau lintas negara, masih susah dilakukan. kita senidri kalau ada kasus kayak GAM, timtim, ambon, poso, irian, trus mengirimkan milisi antar negera, apa juga mau ?

Beberapa waktu ini melihat oprah Winfrey Show bersama Elie Wiesel ketika mengenang holocaust, mereka sendiri mengutuk kekerasan yg sama yg terjadi di negara lain.

Lalu apakah solusi, mengirimkan pasukan Amerika ke negara lain [bersama negara lain under PBB] adalah satu satunya solusi ?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.