jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Menutupi Rambut

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 24 Juni 2002

Suatu ketika, dalam sebuah undangan makan siang sebuah perguruan tinggi asing, saya terlibat dalam perbincangan kritis dengan seorang Cekoslovakia yang mempertanyakan kebiasaan saya yang selalu mengenakan penutup rambut di hadapan umum. Stigma irasionalitas Islam tampaknya membuat kawan yang satu ini sudah didera duluan oleh prasangka buruknya sendiri.

Syukurlah seorang Inggris yang duduk di sebelahnya menengahi bahwa kebiasaan menutup rambut yang dilakukan banyak perempuan itu sesungguhnya tidak terlalu asing hingga mesti demikian tajam dipertanyakan.

“Tidak hanya orang Islam yang menutup rambutnya,” sergah rekan Inggris ini. “Orang-orang Yahudi modestinik juga melakukan itu ….”

Meskipun telah diselamatkan dari keterpojokan, semula saya tidak tahu siapa Yahudi modestinik itu hingga penerbit Mizan mengirimkan sebuah buku karya Wendy Shalit kepada saya. Konsep modestinik dalam buku adalah konsep yang membahas sebuah etika yang percaya bahwa perempuan adalah eksistensi feminin yang unik; subjektivitasnya justru semakin mengemuka, baik bagi dirinya maupun lingkungan sosialnya justru karena ia tersembunyi. Menyembunyikan diri, bagi perempuan, adalah proses meneguhkan eksistensinya yang khusus, dicari, dan tentu saja bagi perempuan itu sendiri: yang berbeda dan terpisah dari semua hal yang jelas di hadapannya.

Tetapi, seperti Shalit juga menyatakan bahwa proses penemuan diri seperti ini mirip proses penemuan “balita yang sedang main sembunyi-sembunyian”, penyembunyian bukan cara yang cukup “matang” untuk bereksistensi jika itu dilakukan secara antisosial dan berlebihan. Sebaliknya, penyembunyian diri adalah bahasa sosial untuk menyatakan bahwa, “Saya adalah perempuan; saya adalah eksistensi yang unik karena memiliki sesuatu yang amat pribadi, rahasia, dan bermakna. Ketertutupan membuat saya berharga tinggi, aman untuk dimiliki, dan dapat mengamankan diri saya sendiri.”

Etika ini, ketika diterjemahkan dalam hubungan dengan lawan jenis, menjadi etika yang santun dan paralel dengan nilai-nilai Islam. Sekalipun sudah bertunangan, misalnya, etika modestinik tidak memperkenankan sepasang lelaki dan perempuan saling menyentuh. Ketika pasangan ini telah menikah, terjadinya persentuhan di antara mereka ditandai dengan turunnya penutup rambut pihak perempuan. Penutup rambut ini adalah tanda “kerendahatian” seorang perempuan, yang sesungguhnya berharga tinggi dan cukup dengan dirinya sendiri, untuk secara fisik, menyerahkan dirinya untuk menjadi milik khusus dari satu orang yang paling berhak.

Menariknya, dalam konteks Islam, turunnya penutup aurat ke sekujur tubuh seorang perempuan sesungguhnya bukan saja tanda dari sebuah komitmen sosial; seorang Muslimah saya kira tidak berjilbab karena disentuh secara fisik oleh pasangannya, tetapi karena disentuh secara spiritual oleh Yang Maha Cahaya. Tetapi, persentuhan ini kemudian diterjemahkan secara indah dalam bahasa sosial hingga aman pula diri, pasangan, dan lingkungan pergaulannya.

Muslimah yang telah berjilbab, karenanya, sering kemudian dipercaya sebagai figur penyimpan dan penebar kehangatan dan rasa aman. Kepercayaan ini kemudian menjadi tuntutan. Logis dan mulia memang. Tetapi, saya hanya sering bertanya sendiri; jika pun seorang perempuan memang tercipta untuk memberi kehangatan dan rasa aman, siapa yang harus menjadi transfigurasi Ilahiah baginya untuk menyalakan bara di dalam hatinya ketika rawan?

Comments»

1. isti - Thu, 31 Aug 2006

Muslimah jaman sekarang, khususnya yg pake jilbab hrs terus menunjukkan eksistensinya. Selalu percaya diri, punya motivasi yang tinggi dan pandai membawa diri di segala situasi. Pesan buat sobat muslimah yg berjilbab: jangan pernah takut untuk melangkah. Sebab kesuksesan harus kita raih. Maju terus pantang menyerah. Okey?

2. ikafaya - Thu, 7 Sep 2006

Wih, tulisannya okeh be ge te. Dah ada kumpulan essainya belum seeh?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.