jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Menjadi Manusia

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 4 Agustus 2003

Seorang mahasiswa aktivis ISID Siman, di lingkungan Gontor, melayangkan surat kepada saya. Tulisnya, ”… berbicara hari ini adalah berbicara realita bahwa kami, remaja seumuran 23 tahunan ke bawah, bukanlah seorang Agnes Monica, Ananda Nicolas, atau Roger Danuarta … kami juga bukan mahasiswa yang meraih IP 3,8 atau 3,9 dan memperoleh gelar cum laude atau summa cum laude …. “Padahal dikatakannya, dulu, seperti semua anak atau remaja yang baik, ia akrab dengan obsesi untuk ”menjadi orang”. Tidak, tidak harus ”orang” yang eksistensinya menjulang karena rekening bank yang berlimpah, tetapi ”orang” yang telah berprestasi gemilang atau memenangkan peperangan intelektual sehingga pendapat-pendapatnya bersinar laksana mercusuar. Tetapi kemudian, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia merasa terlalu bersahaja untuk semua itu.

Padahal, dia masih berusia cukup muda. Tidak usahlah membandingkannya dengan orang terkenal berskala regional atau nasional. Mahasiswa saya di Universitas Padjadjaran Bandung saja, pada usianya, seperti bunga matahari yang sedang mekar-mekarnya mendongak ke cakrawala dan bersiap untuk ”menjadi orang” di kantor-kantor pengacara yang mentereng di pusat kota atau ibu kota negara.

Di kota-kota besar, usia itu umumnya adalah usia ketika ”menghikmati nilai hidup yang spiritual” sebagai sebuah idealisme secara sah memang kalah populer dengan idealisme untuk meningkatkan standar hidup seprestisius mungkin. Tetapi, santri ini justru berkata, ”… yang kami pelajari selama ini adalah prinsip hidup yang bisa diterapkan ….” Lantas, apakah ini sebuah ekspresi kekalahan di usia yang terlalu dini?

Saya lalu berpikir, ke mana saja sih para bunga matahari lulusan sekolah tinggi dan perguruan tinggi di kota-kota besar itu? Sebagian orang, mungkin juga Anda dan saya, agaknya masih mengira bahwa untuk bisa menjadi orang, ya bekerjalah sedekat mungkin dengan ”pusat” kekuasaan, atau dengan perusahaan atau orang yang punya ranking paling ”tinggi” dalam prestasi akademis atau keuangan, atau di tempat yang paling ”jauh” dari tanah kelahiran. Singkatnya, yang pusat-pusat, tinggi-tinggi, dan berbau internasional itulah.

Padahal, coba simak hasil kerja institusi-institusi itu. Coba telepon bagian pelayanan reservasi angkutan umum, informasi, atau pengiriman barang di kota-kota besar, berapa kali dalam sehari informasi atau barang dikirim seenaknya atau dimanipulasi. Pergi ke apotik, berapa banyak obat yang harganya membuat pasien bertambah sakit. Datang ke pengadilan, berapa banyak hakim yang masih buruk kualitas keputusannya. Pergi ke kantor pengacara, berapa banyak pengacara yang masih cari cara main belakang dengan hakim demi memenangkan kliennya. Dan jangan jauh-jauh, datang ke institusi-institusi pendidikan terkemuka dan simak, berapa banyak kebijakan yang masih tanpa malu mengatrol siswa bodoh dan malas dengan sogokan.

Lebih baik jadi tukang sapu langgar di pojok desa yang tiap napasnya bershalawat, tiap suap makannya adalah hasil kerja jujur berbasmallah, dan tiap katanya bersama senyum berhamdallah. Tertib ruang dan kosmik yang ditimbulkannya bukankah membuktikan bahwa si tukang sapu itulah sesungguhnya seseorang yang sudah betul-betul ”menang menjadi orang”, karena ia telah berhasil bekerja bukan untuk mendapatkan segala, tetapi berbuat yang terbaik yang dia bisa, karena Allah saja? Ia telah berhasil ”menjadi manusia”, bukan sekrup apalagi hewan bertubuh manusia.

Prinsip memang bukan untuk dikesampingkan atau dibicarakan, tetapi diterapkan. Dan itu sungguh tidak sederhana.

Comments»

1. trian - Tue, 6 Mar 2007

tulisan yang bagus..!
cocok buat orang yang beranjak dewasa, melihat gemerlapnya bintang sembari menekuri kesahajaan bulan.

*and i’m 23 years for a moment

2. Sonny - Wed, 7 Mar 2007

Salah seorang pendiri gontor pernah bilang jadilah orang besar. Tapi benar, menurut beliau orang besar itu bukanlah orang-orang yang menghanyutkan dirinya ke pusat-pusat kekuasaan. Orang besar adalah orang yang mau mengajar di langgar di pelosok negeri dan mencerahkan.

Almarhum Kyai Zarkasyi sendiri dulunya bekerja di Depag, berusaha berkontribusi menggagas sistem pendidikan Indonesia melalui struktur kekuasaan. Tapi ketika gagasannya ditolak, beliau memilih pulang ke kampung halaman, Gontor, desa kecil terpencil, menerapkan gagasan beliau ke pesantren Gontor bersama kakak-kakaknya. Dan perjalanan waktu telah membuktikan bahwa dalam skala tertentu, beliau berhasil. Juga berhasil menjadi orang besar dengan caranya sendiri

3. Lia - Fri, 9 Mar 2007

Belajar menjadi manusia..
tidak mudah memang tapi kita bisa ‘belajar’

4. arya - Mon, 26 Mar 2007

Apa yang dilihat, apa yang dirasakan, apa yang dikerjakan adalah pendidikan………..
Semuanya menjadi sebuah totalitas yang tidak bisa dipisahkan….

GONTORIAN

5. ria - Fri, 6 Jul 2007

i’m 23 years..
and now, i’m in a bottom of the world
:D
tapi tulisan ini sungguh mencerahkan, termakasih



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.