Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Menghikmati Perbedaan
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 19 Mei 2003
Gerimis turun seperti tirai dan suhu sore itu berkisar antara 13 dan 17 derajat Celcius. Wajah lelaki pucat. Badannya kecil kurus. Kakinya bersandal tua dan berbalut kaos kaki wol putih yang sudah berubah warna, seperti seorang yang sakit demam dan tidak sembuh-sembuh. Tangannya tampak mengaduk-aduk sesuatu di dalam sebuah drum bekas minyak yang berisi abu dan sebongkah kayu yang sedang dibakar.
Ketika ditanya, bagaimana ia dan istrinya bertahan hidup jika musim dingin sudah mulai membekukan wilayah itu sampai titik nol derajat, dengan tawa yang agak ampang lelaki itu menjawab bahwa beberapa donatur telah dengan baiknya mengirimkan beberapa potongan pohon yang bisa dijadikan perapian.
Pertendaan itu sendiri bukan terletak nun di tempat persembunyian tokoh-tokoh politik anti-Uni Soviet puluhan tahun silam atau daerah kamp pengungsi, tetapi di wilayah sentral Canberra, ibu kota negara federasi Australia, yang terkenal dengan kebersihan dan keprimaan tata kotanya.
Pertendaan itu berdiri di dalam kompleks gedung parlemen Australia lama dan baru, yang sudah pasti berkarpet setebal matras dan bertatahkan lampu-lampu kristal yang salah satu bagiannya saja mungkin sama nilainya dengan ongkos makan orang-orang dalam tenda itu selama satu bulan.
Atas nama hak-hak asasi kelompok masyarakat asli, pertendaan itu dinamai Kedutaan Besar Tenda oleh penduduknya. Di situ wakil-wakil penduduk Aborigin Australia melakukan unjuk rasa, tidak hanya dalam jangka waktu berjam-jam tetapi bertahun-tahun.
Di tengah-tengah lingkaran bendera-bendera dari negara-negara yang konon telah memberikan simpati, terdapat papan hitam yang ditulis oleh cat merah, yang menyatakan bahwa Pemerintah Australia dituntut untuk memberikan kepada orang-orang Aborigin sebagai penduduk asli Australia: kekuasaan yang layak, hak atas tanah tempat situs-situs suci, penghormatan terhadap tradisi kultural, dan persamaan kesempatan dalam menikmati hak-hak sosial ekonomi yang paling mendasar, yakni hak atas air bersih, makanan, dan perumahan.
“Inilah salah satu kenyataan Australia,” ungkap seorang pengacara Australia yang baru mengorganisasi kunjungan ke tempat itu kepada saya. “Ada dunia mereka, orang-orang Aborigin, yang masih berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, dan ada dunia orang-orang kulit putih seperti saya.”
“Saya pernah ditugaskan mempresentasikan data seputar kondisi orang-orang Aborigin di PBB dan saya tidak henti bertanya, mengapa harus saya. Saya orang kulit putih dan tidak menyelami sendiri kesahihan data-data itu. Mengapa bukan wakil dari mereka sendiri yang ditugasi?”
Mungkin saya bisa saja menyakiti hatinya dengan mencurigai bahwa keluhan itu tidak tulus. Bukankah ia sendiri sesungguhnya menjadi pihak yang paling diuntungkan? Tetapi kabarnya, diskriminasi sesungguhnya tidak saja merugikan pihak yang tertindas, tetapi juga mengebiri kemanusiaan pihak yang diuntungkan. Jadi, saya diam saja.
Konon, di manapun, selalu ada yang jaya di satu pihak dan yang teraniaya di pihak lain.Tetapi, ketika simpati dan keluhan bersambut, sesuatu yang lebih baik biasanya muncul. Jika pun simpati telah berubah menjadi antipati dan keluhan berubah menjadi kemarahan, sesuatu yang lebih baik semoga masih bisa muncul.
Karena bukankah, kedua belah pihak masih ada dan jujur menyatakan sikapnya? Tetapi, tiba-tiba saja saya teringat tanah air Indonesia yang tidak henti saya rindukan. Ketika di tanah air kita, kejujuran bersikap saja sudah membingungkan maknanya, lalu apa?

Comments»
Begitulah takdir-Nya berjalan
Kadang sesuai keinginan
Kadang begitu tidak menyenangkan
yang jelas,sesuai kebutuhan-sesuai kemampuan