jump to navigation

Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)

Mengajarkan Mati

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 19 Agustus 2002

Saya melihat fotonya terpampang di sebuah majalah wanita terbitan Australia, Marie-Claire; perempuan itu tersenyum penuh harga diri di antara kain panjang yang rapat melapisi tubuh, kepala, hingga hampir sebagian wajahnya. Saya kira senyum itu hanya mungkin timbul di wajah seseorang yang demikian yakin bahwa kematian fisik itu hanya akhir dari sakitnya berkubang dalam lumpur cobaan yang bernama hidup. Maka, biar pun suaminya telah mati berkeping-keping bersama mobil berbom yang dengan sengaja ditabrakkannya kepada salah satu gedung pusat teknologi orang-orang –yang mereka yakini– kafir, suaminya itu pada hakikatnya tidak mati. Dengan tegarnya, ia pun memutar video peledakan itu di depan anak-anaknya; untuk mendidik anak-anaknya menjemput kematian dengan baik.

Anak-anaknya itu pun tampak biasa-biasa saja, sehat meskipun tampak kurus, dan semuanya mewarisi kebagusan parasnya. Yang tidak bisa saya lupakan hanya mata mereka yang, buat saya, terlalu redup untuk mata anak-anak.

Pada dasarnya, mati memang bukan pilihan. Ia adalah salah satu hukum paling objektif dari Allah terhadap umat manusia yang tidak mungkin diberontaki bahkan oleh orang paling jenius sekalipun. Menjadi Islam adalah menjadi manusia yang memiliki kapasitas untuk melihat kematian elegan, justru dengan mengakrabinya.

Lagi pula, jika telah berusaha mendekatkan diri kepada Yang Maha Hidup dan Menghidupkan, mengapa takut mati? Kematian hanya gerbang menuju kehidupan lain, yang jauh lebih baik, berhiaskan mata yang lebih jernih untuk hanya menatap kemahaindahan-Nya. Konon, kemampuan orang-orang Islam untuk mengakrabi aspek realitas yang paling misterius dan menggentarkan inilah yang membuat dunia Barat takut bukan kepalang. Orang Islam, masya Allah, mereka gila. Mereka sudah kehilangan rasa takut. Sia-sia memerangi mereka.

Sayangnya, sisi negatif dari ketiadaan rasa takut adalah tampilnya wajah Islam yang keras, dingin, dan tanpa ampun. Dan jujur saja, jika kadar keimanan saya sedang lemah hingga saya melihat Islam hanya sebagai setumpuk keharusan yang bahkan tidak akan mungkin dilakukan oleh seorang manusia yang paling tegar selama 24 jam, saya pernah berandai bahwa jika Islam itu bukan dari Allah, mungkin saya sudah akan meninggalkannya lebih telak daripada ketika saya meninggalkan agama Kristen. Apalagi, tidak sedikit juga orang yang membenarkan perlakuan tidak adilnya kepada lingkungan, keluarga, dan bahkan dirinya sendiri, atas nama agama.

Tetapi, saya juga berani bertaruh bahwa tidak ada agama yang paling kaya menawarkan pendidikan spiritual selain Islam. Banyaknya hukuman dibarengi dengan berlimpahnya pengampunan. Kematian ego diajarkan dari tingkat menahan lapar hingga menahan pandangan hati supaya hanya mencari-Nya. Dan, Allah sungguh Mahabaik karena Ia membebaskan umat-Nya yang dungu untuk mempersepsi-Nya menurut kehendak mereka sendiri. Saya sendiri? Bebas saya memprasangkai-Nya, hanya untuk terbentur-bentur sampai bonyok dan menemukan bahwa ke manapun saya berlari, hanya Dia Yang Mahatunggal sebagai akhir dari segalanya, suka atau tidak suka.

Maka, mengapa anak-anak itu tidak diajarkan untuk mempersepsi-Nya dengan baik, indah, dan optimistis saja? Persepsi yang baik kepada-Nya akan membuat semua menjadi baik, dan hubungan dengan-Nya semakin akrab. Saya kira keakraban ini akan membuat anak-anak itu terampil mensyukuri hidup seperti adanya, dan menjemput kematian seperti seharusnya, dengan mata bersinar, wajah bersih, dan hati seringan bulu angsa. ***

Comments»

1. putri gemala sari, SH - Tue, 6 Feb 2007

Tragis sekali cara Marie-claire mendoktrin anak2nya…

persepsi agama yang salah..

anak2 itu harus di selamatkan dari doktrin yang salah itu..

pertanyaan nya, berapa banyak lagi kah anak2 yang matanya redup akibat ulah ibu seperti marie-claire itu???

Nauudzubillahi minzalik

2. dydy - Wed, 7 Feb 2007

marie-claire itu nama majalah mbak :). saya yakin yang diceritakan teh Miranda di sini adalah seorang ibu dari daerah Middle East [?].

Senang sekali membaca tulisan ini.

3. Rien - Wed, 7 Feb 2007

i do love read, tp memang blm tertarik dgn miranda…mgkn akan tertarik jk udah membaca diblog anda…:)

keep up the good work…
anyway, thx for added me on FS…

saya link keblog saya ya, thx