jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Menemukan Iblis

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 15 April 2002

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang murid yang sedang setengah mati merindukan guru spiritualnya. Semula saya mengira bahwa ia mengalami kerinduan yang biasa sebagai akibat dari perpisahan yang masih berhitungan bulan. Tetapi ternyata, ia telah berpisah dari gurunya tahunan lamanya.

Lalu saya mengira bahwa ia tentu rindu momen-momen indah abadi, yang konon banyak dialami oleh para murid sejati sebagai ikatan bernilai transenden yang langsung dianugerahkan oleh Tuhan. Ada pelajaran-pelajaran yang konon memang memiliki daya sentuh paling mengesankan. Justru ketika sang guru tidak sedang berpretensi untuk mengajar atau bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang mengajar, mungkin hanya sedang menyapa dengan kasih sayang seadanya. tetapi, dalam kesahajaannya itu, muridnya mendapatkan makna, yang masya Allah, tidak menyisakan apa pun selain pesona. Justru karena sang guru hanya menjadi tempat lewat-Nya saja.

Atau mungkin ia mengalami kerinduan khas seorang murid. Murid yang tercekik oleh rasa syukur, tetapi menerima reaksi sang guru yang sungguh membuatnya putus asa karena guru itu hanya mengucapkan hamdalah, terheran sejenak, lalu menyatakan, ”Makna itu milikmu.” Lalu ia berduka oleh makna yang tak dapat dimuat lagi oleh kata. Ia mengalirkan kesyukuran yang tertolak itu langsung kepada-Nya. lalu ia terhenyak mendapati dirinya menemukan intensitas dialog dengan Tuhan.

Tetapi, saya tidak tahu pasti. Teman saya itu diam saja.

”Ceritakan kepada saya kerinduanmu,” rengek saya akhirnya. ”Bukankah di antara guru dan murid yang bermajelis terbentang taman surga? Saya ingin mendengarnya.”

Ia tertawa. ”Saya rindu kepada guru saya karena ia pernah berpesan, ‘ikuti iblis, lalu pancung lehernya’.”

Saya terpana. Kerinduan macam apa itu, ya? Sungguh amat sangat tidak legit. Tiba-tiba saya pun khawatir bahwa saya telah telanjur berkawan dengan pengikut iblis. Diam-diam, saya keluarkan nota dari hati kecil saya dan saya catat semua tindak-tanduknya. Saya geli sendiri ketika sempat berpikir, apakah ia pernah membakar kemenyan atau mencoba berdialog dengan jin. Setahu saya, kawan saya yang satu ini adalah orang yang paling tidak peka dan malas mengeksplorasi hal berbau klenik seperti itu. Ia mengakuinya sebagai sebuah fenomena yang cukup dibiarkan di gudang kesadaran. Ia seorang intelektual dengan kesadaran yang terlalu kompleks dan kritis untuk tertarik pada hal-hal yang bersifat metaempiris seperti itu. Lagi pula, ia taat beribadat.

Kompleksitas dan kekritisan berpikir itu memang kekuatannya. Tidak pernah ada argumen dalam bidang keahliannya yang tidak diuji. Tidak pernah ada situasi kesehariannya yang tidak dipertanyakan. Dan bahkan, tidak ada bagian dari dirinya yang luput dari kritiknya sendiri. Kadang-kadang, saya melihatnya seperti bersimpuh di atas bara yang diciptakannya sendiri, yang seluruh kayu bakarnya terdiri dari tanda tanya.

Tetapi, dalam kerinduannya kali ini, kayu bakar itu tidak ada. Mungkin ia demam, tetapi kesejukan memancar dari matanya yang duka.

”Sudah waktunya sholat,” kata saya.

”Sudah waktunya memang,” jawabnya. ”Untuk menyaksikan iblis yang terpancung kepalanya, iblis yang baru saja marah kepada Tuhan yang disangkanya menciptakan banyak penderitaan, dengan kekuatan yang disangkanya berasal dari dirinya sendiri. Padahal, penderitaan itu telah ada pada kadarnya, dan kekuatan penyangkalan itupun ternyata bertumpu pada ampunan-Nya. Kau tahu, kawanku, aku baru menemukan iblis tidak di mana-mana, selain di dalam kesadaranku sendiri.”

Comments»

1. ruwa bineda - Tue, 12 Dec 2006

Kerinduan itu, Teh….Kerinduan telapak kaki untuk kapalan, kerinduan dahi akan matahari. Kerinduan peluh mengingat pori-pori. Kerinduan untuk menapaki jalan panjang ke surga.

2. putri gemala sari, SH - Thu, 4 Jan 2007

kerinduan itu…
ku harap nantinya juga di rasakan oleh mata2 yang haus akan ilmu itu…. semagat muda yang seakan tak pernah habis.. kreativitas yang tak pernah henti…

ku harap mahasiswa2ku membaca blognya MRA…

bukan mengharapkan pretensi apa2…
hanya untuk terjaga dari kejahiliahan
berharap di sinari fajar pengetahuan akan pentingnya belajar dan mengajar… bukan untuk mendapatkan sebuah gelar semata…



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.