Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Mencari Kurban
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 17 Februari 2003
Iduladha baru saja lewat. Sebentar lagi kita bisa mendapat oleh-oleh dari jemaah haji yang baru saja tiba. Oleh-oleh itu tentu bukan tasbih atau sajadah yang dibeli lebih dahulu di Mangga Dua sebelum mereka berangkat ke tanah suci untuk menghindar dari mahalnya ongkos pesawat, tetapi kisah mereka ketika berdiam dari siang hingga malam di Padang Arafah. Di situlah seyogianya ibadah kelima itu akan membuahkan pengenalan tertinggi seorang manusia tentang hakikat dirinya, bahwa keberadaannya hanyalah personifikasi dari kehendak-Nya.
Konon ketika pikiran, hati, dan keseluruhan diri, telah diam dalam ingatan penuh kepada-Nya, maka kesadaran yang semula hiruk-pikuk oleh reaktivitasnya terhadap berbagai impuls duniawi itu akan berganti dengan kesadaran yang bening lagi terang. Dalam kondisi itu, mata hati seseorang dapat melihat bahwa siang dan malam, perbukitan dan orang-orang, dan butir-butir pasir dan kerikil pun semata adalah huruf-huruf-Nya yang dengan teratur menyatakan kekuasaan-Nya. Zikir yang keluar dari hati dan bibir pun bisa melantun tanpa henti hanya karena kehendak-Nya.
Muhammad Zuhri menyatakan bahwa ibadah itu tidak hanya berorientasi kepada pembangunan kualitas pribadi, seperti halnya puasa, tetapi juga kualitas struktur sosial Islami. Ketika kesadaran orang per orang telah menjadi “rumah”-Nya menyatakan kehendak, berkumpulnya orang-orang yang telah tunduk kepada-Nya akan menciptakan struktur mengagumkan, yang harmonis dengan struktur semesta dalam memuji-Nya.
Lihatlah, seperti planet-planet teratur mengelilingi matahari, para penunai ibadah haji pun berputar mengelilingi Kakbah. Keteraturannya itu membuat pembunuhan dan silang-sengketa terlarang. Perbedaan status sosial, ras, dan aliran paham pun hilang, demi mengagungkan Dia yang maha-penyayang.
Saya belum pernah pergi haji, tetapi, tentu, seperti juga Anda, ibadah itu adalah salah satu cita-cita terdalam. Ketika melepas beberapa stafnya yang hendak berangkat haji, guru besar yang juga dekan di fakultas tempat saya bekerja pun sampai berkata sembari berkaca-kaca, “Saya telah lulus jenjang sarjana strata satu, dua, dan tiga dengan hasil yang membanggakan, tetapi tidak ada yang paling indah dalam hidup saya selain menggandeng istri saya untuk berangkat haji bersama, karena nikmat haji bukan hanya nikmat duniawi.”
Hanya saja, hati saya masih rawan mencari kemungkinan agar keindahan itu bisa juga langsung mendenyarkan hati di sini, kendati cahaya itu mungkin hanya sebesar butir pasir terkecil Arafah. Beberapa hari sebelum hari wukuf saya menerima pesan singkat di telepon genggam saya dari Australia sana agar berpuasa sunah, siapa tahu keindahan itu lalu mau hadir. Jadi, kita memang bersama-sama merindukannya.
Coba, apakah Anda tidak letih dengan hidup yang semakin susah; dengan komplikasi keinginan memiliki yang seakan hendak merangkum semua isi bumi dan langit ke dalam dompet, atau dari godaan untuk berlaku dusta demi mencari aman, semena-mena terhadap anggota keluarga sendiri, berlaku curang terhadap teman demi kantong sendiri, atau dengan kebanggaan kerdil karena merasa berstatus sosial lebih tinggi? Saya letih.
Oleh karena itu, saya masih khawatir bahwa tersayatnya banyak leher hewan kurban beberapa hari lalu hanya berarti membagikan kenikmatan sesaat makan daging kambing kepada orang lain. Biar pun itu indah, seharusnya, bukankah leher binatang bandel di dalam diri kita, yang selalu protes kepada kemahaadilan Allah, juga ikut tersembelih?

Comments»