jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Mencari Kebahagiaan

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 2 September 2002

Saya ingin berdiri di Bunderan Hotel Indonesia atau Kuningan, dan bertanya secara spontan kepada para pemilik kendaraan mewah yang melintas di sana dengan serta-merta, “Apakah Anda bahagia?” Kemungkinan besar, kebanyakan dari mereka akan terlongong. Menjawab pertanyaan itu tampaknya tidak semudah menjawab pertanyaan, “Apakah Anda lapar?” atau, “Apakah Anda senang?”

Kebahagiaan adalah salah satu topik paling klasik dari psikologi dan filsafat. Kebahagiaan bisa menjadi konsep yang amat abstrak, yang merujuk Einstein, termasuk sesuatu yang menghitung, tetapi tidak bisa dihitung. Atau, bisa juga menjadi sebuah fenomena aneh yang hanya bisa dijelaskan melalui metafora: kebahagiaan itu seperti kucing, kata William Bennett, jika didekati atau dipanggil akan menghindar, tetapi ketika diacuhkan karena perhatian tercurah kepada tugas-tugas yang semestinya memang dikerjakan, justru akan menggosokkan badannya di antara kaki dan melompat ke pangkuan. Tetapi, Thomas Merton menemukan bahwa kebahagiaan itu dimulai justru ketika ambisi berakhir.

Apa itu sesuatu yang menghitung tetapi tidak bisa dihitung? Suatu kualitas? Kualitas apa itu yang harus didambakan dengan “penipuan”, yang harus diundang ke pangkuan justru dengan pura-pura tidak perduli? Tetapi, bukankah tidak pernah ada kebahagiaan sejati yang didapat dari penipuan? Mungkin maksud Bennet, kebahagiaan itu hadir tidak ketika seseorang terobsesi pada kebahagiaan hingga siang-malam memikirkannya sampai sakit, namun justru ketika seseorang lebur dalam pengusaian tanggung jawabnya. Tetapi, Merton bilang bahwa kebahagiaan tidak ada ketika seseorang sedang berambisi. Lantas, bagaimana seseorang bisa lebur bekerja dalam tanggung jawab penuh, tanpa ambisi? Baru memikirkan konsep ini saja saya merasa tertantang, tetapi sekaligus pusing hingga saya merasa kurang bahagia.

Kebahagiaan tampaknya tidak selalu harus didekati secara demikian rumit hingga hanya orang-orang yang beruntung terlahir amat cerdas dan dapat melanjutkan pendidikan tinggilah yang berhak atas kebahagiaan. Rasulullah sang mahbub adalah bukti. Ia yatim-piatu sejak usia muda dan besar dari keluarga amat sederhana. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Ia pun menanggung penderitaan yang tidak terkira bagi ukuran manusia biasa: kehilangan anak lelakinya berulang kali, difitnah dan dimusuhi habis-habis oleh para kafir, dan ditakdirkan untuk merasakan beratnya penderitaan orang-orang beriman karena totalitas cintanya kepada Sang Khalik serta amanah-amanah yang diembannya.

Tetapi, kharisma dan kekuatan keimanannya dalam menyebarkan Islam hanya mungkin dimiliki oleh seseorang yang bahagia oleh totalitas cinta, yang sungguh mencintai dan dicintai oleh Allah sendiri, yang menyitir Lao Tze, kuat karena mencintai, dan berani karena dicintai. Rasulullah pasti telah mencapai kebahagiaan yang sejati, karena ia bisa bersyukur tidak saja ketika beruntung, tetapi bahkan ketika terluka. Kebahagiaannya, yakni kebahagiaan bergantung kepada Sang Khalik, sudah tidak tergoyahkan oleh suasana hatinya sendiri.

Jika kebahagiaan tidak ada dalam konsep pemikiran dan tidak tergantung suasana hati, lantas bagaimana? Kata para sufi, ingat nama-Nya dan lakukan semua pekerjaan dari yang paling sederhana sampai yang paling berat, tanpa terbebani hasil akhir yang memang hanya Dia Yang Maha Menentukannya. Kebahagiaan sejati adalah kehadiran-Nya di dalam intensitas amal.

Seperti apa, jangan tanyakan kepada saya. Saya pun amat ingin mengalaminya.

Comments»

1. buyung - Fri, 1 Jun 2007

mungkin jawabnya bersyukur teh..mencukupkan walaupun tidak cukup…



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.