jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Menakar Keberanian

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 3 Februari 2003

Lelaki itu ditahan. Namun, wajahnya tidak menunjukkan perubahan. Tampak sekali bahwa ia yakin penuh bahwa semua yang dilakukannya benar. Ibunya, yang dalam kemiskinan, telah tahunan membesarkannya bersama saudara-saudaranya hanya dengan kekuatan sendiri itu terus mengalirkan doa. Ia juga punya istri yang setia. Ketika ia ditanya, apa keinginan terakhirnya, lelaki itu menjawab bahwa dia ingin ibunya mendoakan agar bisa mati demi perjuangan yang diyakininya benar itu.

Anda pernah melihat film Braveheart yang dibintangi Mel Gibson? Film ini mengisahkan seorang pemimpin rakyat Skotlandia yang berjuang melawan kekuasaan raja yang mereka anggap lalim dan memeras rakyat. Sang tokoh pun ditahan. Ketika menolak menyerah, ia dijatuhi hukuman potong tubuh sampai mati. Namun, kematian itu diterima dengan keberanian hati karena keyakinan bahwa perlawanan itu benar.

Lelaki yang saya ceritakan itu bukan tokoh sejati film Braveheart. Ia tidak hidup di Eropa sana ratusan tahun lalu. Secara jujur saya harus mengatakan bahwa, kabarnya, lelaki itu bernama Imam Samudra.

“Bagaimana coba,” keluh teman saya yang tahu betul kisah itu. “Kita menganggap bahwa hukuman mati itu hukuman maksimal. Namun, orang seperti dia sudah tidak takut mati ….” Di depan orang semacam Imam Samudra, fungsi hukuman mati sebagai hukuman terkeras untuk menakut-nakuti itu jadi kehilangan gigi. Para pemain bom itu tidak takut mati. Mereka menginginkannya.

Sudah bosan saya bertanya sendiri bahwa mengapa harus dengan bom. Bom itu keji. Apalagi, pengeboman itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Di depan moralitas keberanian hati, cara sembunyi-sembunyi itu banci. Orang boleh saja tidak sabar dengan kondisi sosial ekonomi nasional dan global yang tidak adil dan tidak benar. Namun, jika ketidaksabaran itu hendak meledak, kenapa tidak di sudut kamar yang sunyi dengan lengkingan doa tulus saja, tanpa menyakiti orang lain yang belum tentu bersalah. Keberanian hati memang jadi kehilangan pamornya sama sekali jika dikemukakan tanpa kesabaran.

Jika saya bisa berhadapan dengan Imam Samudra, saya ingin menyatakan duka terdalam saya, pertama-tama, dengan menampar mukanya. Saya tidak kenal dia. Saya tidak tahu Jamaah Islamiah itu apa, tetapi mereka pasti shalat juga pada waktu-waktu yang sama. Bagaimana saya bisa tenang menyebut nama Tuhan yang mahasayang dalam sembahyang, jika di tempat lain, ada orang yang juga sembahyang seperti saya, sambil menyembunyikan pedang di balik perangainya? Ia mungkin berkilah tidak akan membunuh sesama muslim, tetapi ketajaman pedangnya telah turut mengoyak sarung dan mukena saudaranya sendiri.

Keberaniannya untuk mati atas nama kebenaran yang diyakininya mungkin layak dihormati. Ia bukan pengkhianat agama. Namun, sadarkah dia bahwa ia telah mengkhianati nama baik agama dan pemeluk-pemeluknya? Saya merasa bahwa kekecewaan kepadanya lebih sakit daripada kekecewaan kepada orang kafir yang bodoh itu justru karena ia saudara seiman.

Lalu, jika Imam Samudra tidak balik menampar saya, saya ingin istigfar bersamanya. Semoga istigfar bisa membuat semua kekerasan dan kemarahan mencair. Seorang bijak berkata kepada saya, “Berhentilah mengadu: Allah, saya punya masalah besar.” Namun, mulailah berkata, “Hai masalah, saya punya Allah yang mahabesar.” Maka, kepada Imam Samudra saya pun ingin berkata, “Jika merasa kuat bersama Allah, mengapa harus memecahkan persoalan dengan bom selundupan. Tidakkah cukup dengan keberanian otak dan hati saja?”

Comments»

1. Asliani - Mon, 29 Jan 2007

Tulisannya Ok banget..

2. papabonbon - Thu, 1 Feb 2007

karena imam samudra adalah veteran perang. dan tidak ada proses remediasi sebelum dikembalikan ke masyarakat.

ibarat kecanduan rokok atau narkoba, ketika masalahyg sama dan beban hidup menggumpal, cara yg dulu ditinggalkan dilakukan kembali. dan bom bali lah jawabannya.

bom bali, hanya masalah kesempatan !!!. :(



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.