jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Membalas Surat Seorang Janda

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 7 April 2003

Suatu kali, saya menemukan sepucuk surat baru di internet. Penulisnya seorang perempuan muda dengan empat orang anak. Seperti surat-surat lainnya, ia mengajak saya berkenalan. Dikemukakannya bahwa ia ingin berbagi. Ia harus membesarkan keempat anaknya itu sendirian, dan ia butuh kawan.

Jika ibu muda yang punya tempat bergantung yang menulis surat, kata-katanya biasanya seperti tercurah dari langit biru muda. Bahasa dan pilihan hurufnya semburat dari sebuah rumah kecil hangat di atas awan. Jika ada perselisihan kecil dengan suami, atau tegang urat syaraf dengan anaknya yang beranjak besar, dialog akan menjadi akhir yang bening, dan kebahagiaan akan muncul lagi dari napas anaknya yang pulas dalam malam yang hening.

Seorang ibu dari keluarga yang utuh, bagaimana pun pusingnya, tetap masih memiliki semua potensi untuk merasa cukup dan bahagia. Surat dari ibu muda seperti ini, walau pun berisi kecemasan atau keluhan, biasanya diakhiri dengan keceriaan dan kehangatan juga: salam sejahtera, semoga berkat Allah tetap tercurah, semoga kebahagiaan tetap bersemayam, dan semacamnya.

Surat ibu tunggal ini lain. Ditutupnya tulisannya dengan kalimat, “Semoga Allah mempertemukan kita dalam kondisi yang baik.” Sapaannya sederhana, seperti akar-akaran yang berusaha menguat mencari air. Ia tentu ingin jadi pohon yang kokoh buat anak-anaknya bernaung. Tetapi tanah tidak selalu gembur.

Dan akar-akarnya harus berjuang diam-diam mencari air dengan melewati bebatuan dan bahkan cacing-cacing. Ia tentu telah pernah mengalami kondisi yang berat, hingga menemukan bahwa sebuah pertemuan sederhana pun, hanya bisa menjadi baik jika Allah menghendakinya.

Ia telah bercerai. Bapak anak-anaknya kini telah punya keluarga lain. Dan katanya, ia telah bersepakat dengan bapak anak-anaknya itu untuk tetap menjaga hubungan baik dan menutup masa lalu mereka yang kelam.

Ia tentu telah pernah mengalami sebuah periode sulit yang tidak dialami semua orang, yang konon, merupakan salah satu penyebab depresi terberat bagi manusia normal; duduk di muka sidang pengadilan perceraian, dan merasakan bahwa orang yang dulu pernah berbagi cinta dan mungkin bersumpah setia dengannya, menjadi pihak lawan secara terbuka. Dua orang baik pun memang belum tentu bisa selalu bertemu dalam kondisi yang baik dan menyenangkan. Hanya Allah lah tumpuan harapan.

Dalam sidang pertamanya, mungkin perempuan itu juga akan ditanya, “Mengapa masih muda sudah berpikir untuk bercerai?” Ya, apa enaknya menjadi janda, dalam masyarakat yang mengagungkan kegadisan dan keluarga? Menjadi janda adalah menjadi bekas. Apalagi, ada empat anak yang bergelayut tanpa boleh menerima keringkihannya.

Saya bingung menjawab suratnya. Tetapi saya ingat ketika seorang sahabat saya, yang juga menjadi ibu tunggal dari seorang anaknya, tetap berusaha memeluk anaknya dengan ceria. Ia masih menuntut ilmu di Australia sana, ditemani beberapa sahabat perempuannya yang setia mengulurkan tangan saban ia rawan. Seorang lelaki pernah mendekatinya, dan dengan tawa ia berkata, “Ingat ya, seperti saya sungguh beruntung bertemu denganmu, saya juga adalah keuntungan buatmu.”

Melalui tawa sahabat saya itu saya kini ingin menjawab surat itu. Bahwa hidup adalah pembelajaran. Gelap terang sedih gembira hanyalah bungkusnya. Jika menjadi janda adalah suratan yang tidak enak, mestinya ada juga hikmah yang menyertainya: bahwa kesalahan akan menunjuk perbaikan, kesendirian akan mengajarkan kemandirian, dan air mata akan membuahkan kesabaran dalam sujud-sujud panjang.

Comments»

1. Ann - Thu, 14 Aug 2008

Dia sungguh mentari



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.