jump to navigation

Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)

Malam Itu Purnama

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 29 April 2002

Malam itu purnama. Seorang ibu kedatangan anak perempuannya yang baru pulang dari perantauan yang jauh. Ibu itu ingat bahwa ketika akan melepas anaknya pergi, ia khawatir bukan buatan sampai keluar semua pesan: jangan pernah sendirian, nanti kesepian. Jangan pernah pergi dengan orang asing, nanti ditipu. Jangan pernah keluar malam, nanti dirampok. Jangan pernah minum suguhan dari orang yang baru dikenal, nanti dibius.

Padahal, sudah jelas anak perempuannya itu tidak akan pergi jauh-jauh hanya untuk tinggal bersama gali. Anak itu pun kemungkinan besar akan tinggal sendirian, menghadiri acara-acara formal yang diselenggarakan malam hari, dan tentu saja, sebagai pendatang, akan bersosialisasi dengan penduduk setempat untuk menangkal kemungkinan jadi gila akibat tercekik rasa teralienasi.

Syukurlah kini, ia pulang dengan baik-baik saja. Wajahnya sedikit letih, tetapi terlihat ada sinar kematangan. Ibu itu pun menyiapkan semeja hidangan khusus sebagai ungkapan paling dalam dari rasa sayang. Ia melihat anak perempuannya menghabiskan hampir semua makanan, menyeduh segelas teh rajangan bercampur melati dan gula batu dari teko tembikar, menyilangkan kaki, dan menghirup nafas panjang. Cuma suara jangkrik meningkahi ketenangan ketika kekhawatiran hilang tanpa sempat menyentuh kenyataan.

Dan anak perempuan itu pun mulai bercerita tentang sebuah malam yang indah.

Malam itu purnama. Ia telah melanggar hampir semua pesan ibunya, tetapi dengan alasan. Ia tinggal di sebuah rumah yang disewanya sendirian karena memang sulit mencari teman untuk berbagi sewa. Berpuluh-puluh kali ia pergi dengan orang asing karena orang asing itu memang menawarkan jasa baiknya untuk berpayung bersama di trotoar ketika hujan, atau mencarikan alamat di antara belantara perkantoran, atau sekadar menunjukkan tempat mengaso yang layak. Ia pun ratusan kali keluar malam karena ketika itu ia memang harus menyelesaikan tugasnya di laboratorium dan berkutat dengan buku-buku tebal di perpustakaan yang tidak bisa dibawa pulang.

Tetapi malam purnama itu, ia sempat merasa hampir melanggar pesan ibunya yang terakhir, sejenak saja, dengan segelas susu coklat di tangan karena terbius.

Terbius? Sampai tidak sadarkah? Ketika bangun kembali, masih lengkapkah bajunya? Masih lengkapkah ginjalnya? Ya Tuhan, terbius? Terbius apa?

Malam itu purnama dan seluruh kota berpesta. Di beberapa sudut bar obat bius laku terjual. Di tempat-tempat yang lebih sopan, perempuan dan lelaki membius diri dengan mobil mewah dan makan malam yang harganya tak terbilang. Tanpa sadar bahwa beberapa blok dari mereka, beberapa gelandangan tidur di gang-gang yang gelap. Sementara, banyak remaja saling membius diri dengan saling memerkosa hanya karena alasan yang terlalu sumir, yakni untuk sejenak ”berhip-hip hura”, tanpa peduli bahwa setelah itu, gegar emosi bisa merajam hati kapan saja.

”Tetapi, Bu, malam itu purnama dan pada saya hanya ada segelas susu hangat di tangan, seorang kawan berbincang, dan sebuah pertanyaan singkat tentang kebahagiaan. Kebahagiaan itu, sudah pasti bukan kebutuhan yang tidak terpenuhi, kekurangan uang, dan kebodohan. Tetapi kebahagiaan, mengapa rasanya juga bukan keinginan yang tercapai, dompet yang terisi penuh, dan misteri yang terungkap. Tak ada jawaban yang pasti, Bu. Tetapi, ada kesadaran untuk bersabar mencarinya. Saya hirup coklat susu itu. Saya hirup juga kesadaran itu. Dan saya terbius oleh kekentalan makna. Untuk keterbiusan seperti itu, boleh saja bukan?”

Comments»

1. mozamal - Thu, 10 Jul 2008

Terbius oleh indahnya purnama malam itu dengan segelas susu coklat…wah…wah….

*menerawang MODE ON*