jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Konser Anak Ajaib

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 16 Juni 2003

Beberapa hari lalu saya menonton konser yang disiarkan secara langsung oleh SCTV. Konser itu disiarkan pada jam tayang prima, karena maskotnya memang bintang anak-anak: Joshua. Joshua memang bukan anak kecil lagi, tetapi suaranya masih belum berubah, dengan kelantangan dan kejernihan khas suara anak-anak, dengan aksen Jawanya yang kental. Aransemen musiknya cantik. Lagu-lagunya pun relatif bebas dari “esek-esek”. Para penari latarnya tampak punya kelenturan gestur yang tidak main-main.

Tema yang dekat dengan anak-anak pun memang mestilah tema yang universal, seperti keindahan alam, kasih-sayang antarumat manusia, dan perdamaian. Dengan pakaian seperti Satria Baja Hitam, Joshua pun sempat berbicara tentang kegelisahannya terhadap kondisi-kondisi antiperdamaian di Afghanistan atau Irak, dengan alasan yang sederhana: ia khawatir teman-temannya di sana tidak bisa sekolah dan bermain lagi.

Tetapi, bintang-bintang tamu yang bermusik, bernyanyi, dan menari bersama Joshua, adalah orang-orang yang sudah akil-balik. Mungkin sebagian dari mereka memang belum mencapai usia minimum kedewasaan 18 tahun sesuai Konvensi Hak Anak Internasional yang telah diratifikasi Indonesia.

Tetapi, tubuh mereka sudah remaja, lengkap dengan “kejujuran” penampilan rata-rata orang-orang usia kritis ini yang penuh dengan pemberontakan; baju ketat, minim, dan kadang-kadang bergelang paku tumpul, dan gantungan rantai di sana-sini. Beberapa dari mereka pun memakai kata-kata berbahasa Inggris yang fasih di panggung.

Salah? Kejujuran, saya kira tidak ada dalam wilayah benar atau salah, tetapi baik atau buruk. Para bintang selain Joshua itu tampak jujur karena berpakaian dan berdandan seadanya, sesuai usia mereka. Tetapi, saya sendiri tidak tahu apakah itu baik, terutama dalam konser bermaskot anak-anak.

Saya teringat rata-rata anak remaja di Sydney. Tingkah mereka itu mirip sekali, apalagi jika remaja kita itu sudah mengecat rambutnya menjadi coklat atau kuning. Remaja putri Australia sendiri, kini sedang suka memakai kaos lengan pendek berukuran kanak-kanak hingga pinggang dan pinggul tampak, sekalipun di musim gugur. Rok, sandal hingga tas pun kekecilan.

Tetapi saya kira, itu bukan wujud simpati kepada dunia anak-anak, tetapi justru cara lain untuk terlihat seksi. Bedanya, jika di Australia, penampilan itu adalah penampilan remaja umum, di Indonesia, hanya sebagian kecil remaja berpenampilan begitu, yakni yang punya cukup uang saku.

Ini tontonan untuk dewasa atau anak-anak? Katakanlah, konser ini adalah tontonan untuk semua. Karena itulah Joshua disebut ajaib; ia bisa menyanyi, main film, jadi bintang iklan, dan jadi maskot pertunjukan tidak saja di antara anak-anak, tetapi juga di antara orang dewasa. Ia bahkan bisa menabuh band berduet dengan orang dewasa. Tetapi, apa sih nilai positif menjadi dewasa dipercepat macam begitu?

Jika masalah eksploitasi anak-anak secara ekonomis sudah mendapat perhatian serius, mungkin eksploitasi anak-anak secara kultural perlu mulai diperhatikan juga. Betapapun, anak-anak berhak atas dunia mereka yang khas.

Hanya anak-anak yang baik akan menjadi remaja yang dapat “memberontak” dengan positif, dan akhirnya menjadi orang dewasa yang berkualitas. Dan, menjadi anak-anak yang baik bukan menjadi anak-anak yang besar dikarbit, tetapi menjadi anak-anak yang punya semua kualitas positif. Kualitas itu adalah kemampuan untuk belajar dari orang dewasa, bukan cara bergaya, tetapi cara bersopan santun dan bertanggung jawab.

Comments»

1. novi ungu - Thu, 6 Apr 2006

setuju mba

anak-anak ind sudah ‘dewasa’ sebelum waktunya, karena justru banyak didukung ortunya dan media

gimana yah nasib ind ke depan ??



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.