Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Kisah Seorang Ibu Muslim
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 16 Desember 2002
Majalah Sydneys Child itu datang lagi. Majalah itu diterima cuma-cuma oleh semua murid sebagian sekolah dasar di negara bagian New South Wales, Australia setiap bulan. Biasanya, saya hanya membaca majalah berukuran A3 dengan kover berwarna itu sambil lalu saja. Karena pembacanya adalah para orang tua murid setempat yang sebagian besar adalah orang Australia, hampir bisa dipastikan, nilainya amat bernuansa Barat.
Tetapi, edisi Desember 2002–Januari 2003 kali ini menarik, justru karena perwajahannya bertajuk ”kedamaian dan kerelaan”, dengan hanya dihiasi foto dua orang anak berambut pirang berpakaian burung pinguin dan camar yang tersenyum lucu. Di antara advertensi dan maskot-maskot bertema Natal di halaman dalam yang memang juga bisa ditemui di setiap sudut kota, ada foto mesjid yang bagus dan seorang Ibu berkerudung rapat sedang menggandeng anaknya berjalan di antara belantara gedung megah di tengah kota Sydney. Dua foto itu adalah ilustrasi dari salah satu artikel unggulan yang langsung ditulis oleh seorang ibu muslim yang telah lama menetap di situ. Ia mengirim artikel berjudul ”Seorang Ibu Muslim Bicara” dengan permohonan agar redaksi tetap menjaga kerahasiaan nama aslinya.
Dari tulisannya, bisa disimpulkan bahwa ia adalah seorang keturunan Arab yang telah amat menguasai bahasa Inggris tulis. Apakah ia penduduk salah satu daerah mayoritas muslim di sekitar Sydney yang tersebar di Lakemba, Punchbowl atau Marickville, saya tidak tahu. Dengan anonimitasnya, ia menulis bahwa setelah peristiwa pengeboman World Trade Centre dan Bali, stigma terorisme banyak dinisbatkan kepada Islam, sehingga demi keselamatan putri mereka yang masih balita, ia dan suaminya memutuskan untuk lebih sering menyembunyikan keislaman mereka.
Dua–tiga tahun sebelumnya, ia lebih leluasa menerangkan kepada setiap orang di sekitarnya tentang alasan mereka tidak minum alkohol. Tetapi, sekarang ia harus berdalih bahwa ia tidak makan ini atau minum itu karena alergi atau pilihan gaya hidup. Diakuinya bahwa ia dan suaminya menderita karena mereka terpaksa menyembunyikan iman seperti menyembunyikan ketergantungan mereka terhadap heroin. Padahal, mereka tahu pasti bahwa itu adalah kebutuhan religius mereka untuk menyiarkan kebaikan dan rahmat yang dibawa oleh agama mereka. Diungkapkannya bahwa tahunan yang lalu, ketika sebuah mesjid diserang oleh sekelompok rasis, mereka menerima surat simpati dari para tetangganya yang asli Australia. Tetapi, kini apa mau dikata ketika kupingnya harus panas mendengar seorang temannya saling bergumam bahwa sejak peristiwa bom-bom itu, mereka membenci Islam.
Sebagai pemukim sementara di Sydney, alhamdulillah, saya punya teman-teman Australia yang tidak menyetujui pengeboman itu dengan cara elegan, yakni dengan meyakini bahwa justru jika mereka membenci Islam dan Indonesia, itu tandanya mereka mendukung efek bom yang memecah-belah hubungan baik. Tetapi, kini dalam relasi sosial yang lebih luas, senyum dan sikap ramah saya tidak sering berbalas seperti sebelumnya.
Mungkin betul bahwa pascapengeboman dan stigmatisasi tidak adil kepada Islam itu pembelian Alquran di Amerika Serikat meningkat karena banyak orang penasaran terhadap isu kekerasan yang diembuskan. Mungkin juga betul bahwa beberapa orang kemudian masuk Islam karena mereka sadar bahwa Islam itu ternyata indah dan benar.
Tetapi, sepanjang pengetahuan saya, ketaatan yang hanya didasarkan kepada rasa takut adalah ketaatan yang semu. Jika Islam didakwahkan dengan bom, apakah itu masuk akal?

Comments»
wah bagus banget nih…
saya insyaallah dalam waktu dekat akan launch “MotherhoodCenter” yang bergerak dibidang kesehatan ibu & anak
sukses selalu yah
dr. naritha vermasari