jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Kisah Sebuah Lorong

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 18 Maret 2002

Lorong itu letaknya sekitar lima meter di bawah permukaan tanah. Ia menjadi satu serabut saja dari salah satu simpul terbesar pemberhentian bus dan kereta di tengah kota metropolitan itu. Tetapi, ia begitu dicintai pejalan kaki. Ditawarkannya jalan pintas bagi pengguna bus yang datang dari pinggir kota untuk mencapai pusat pendidikan, perkantoran, dan pertokoan tanpa harus menyeberang jalan raya atau rel kereta, hanya dengan modal sepasang sepatu. Hampir tidak ada apa pun di dalamnya, selain lengkung tembok bercat yang menyisakan ruang bagi grafiti. Sebagian tembok itu belum terisi, sedangkan sebagian yang lain dipenuhi lukisan yang memuntahkan isi perut manusia, dan mungkin juga, isi kesadaran sebuah komunitas metropolitan, yang rindu sembari bingung menata diri di tengah semua yang ada atau berlebihan untuk ada.

Lorong itu begitu dicintai pejalan kaki, bukan untuk disinggahi, tetapi untuk dilalui. Di situ sering duduk cuma dua lelaki bermata sipit berkulit kuning. Mereka punya beberapa jenis bekal yang tersimpan dalam tas punggung, yang tidak lebih besar atau lebih panjang dari gitar dan seruling yang mereka peluk. Jika duduk mereka berbicara riuh sekali, menyelinap di antara semua jenis irama alas kaki yang kadang sampai menggemuruh di lorong itu, merekatkannya dalam sebuah syair auditif yang dimulai di mulut lorong dan selesai di penghujung lorong, tanpa sepatah kata pun selain petikan gitar dan tiupan seruling.

Mungkin mereka pernah tinggal di sebuah negara dan terusir oleh dengki politik, atau ada di situ karena memang dengan sadar telah menjadikan diri mereka orang yang terusir dari negara mereka sendiri dengan menolak untuk terikat oleh ideologi politik, uang, atau bahkan cinta. Tidak ada yang tahu. Mereka berdua bertemu di mana, akan ke mana, dan masih akan bersama sampai mana kala, juga tidak ada yang tahu. Dalam lorong itu pun tidak bakal ada orang yang berhenti hanya untuk menanyai mereka. Tetapi, di situlah justru, agaknya, kenyamanan mereka teraih ketika ketidaktahuan orang lain memberi ruang bagi mereka untuk mendengungkan makna-makna mereka sendiri, hanya untuk mengabarkan dengan amat sederhana, bahwa mereka ”masih” ada.

Sayangnya, mereka berdua tampaknya tidak pernah tahu bahwa mereka juga demikian layak dicintai. Musik mereka adalah tawaran paling sederhana untuk bersyukur, dan seorang perempuan berkulit sawo matang pejalan kaki yang mungkin datang dari negara tempat mereka terusir, menemukan diri enggan melempar receh karena bahasa itu dirasanya terlalu sederhana. Tetapi, perempuan itu juga tidak pernah berhenti untuk mendengarkan karena apa alasannya? Dalam benak perempuan itu pun ada sedikit kekhawatiran bahwa perbedaan warna kulit bisa jadi membuat semua lagu justru hancur sehancur-hancurnya. Dan sapa-menyapa itu akhirnya terjadi hanya dalam kebisuan dan ketidaktahuan. Ketika suatu saat, perempuan itu memutuskan untuk berbuat lebih, dua lelaki itu raib.

Ini adalah cerita sebuah lorong, lima meter dari permukaan tanah. Lorong itu begitu dicintai oleh pejalan kaki bukan untuk disinggahi, tetapi hanya untuk dilewati. Pada dindingnya, asam isi perut bumi menjadi indah dalam warna. Ia jalan terdekat menuju pusat kota, yang melindungi pelintasnya dari sambaran mobil, kereta, sampai kekosongan dompet. Tawarannya adalah jalan lurus yang amat sederhana, tanpa cinta yang sempat menjadi bunga. Ia begitu ikhlas didatangi sekaligus ditinggalkan, dan menyampaikan pelintasnya menuju ”tujuan” yang sebenarnya.

Lorong itu, adakah personifikasinya?

Comments»

1. Arwi Ridho - Wed, 27 Sep 2006

Mungkin aku menemukan lorong itu… ketulusan ayah. Aku begitu mengenal bahasanya, aku sering singgah kerumah hanya untuk menemaninya nonton liga inggris :-) namun aku juga begiru enggan untuk sepakat dengan beliau. Sampai akhirnya ayah telah menghantarkanku pada lorong yg harus kutempuh menuju tujuan yang sebenarnya. Ayah..Kakung Agus.. Yudhi begitu sayang pada Ayah (walau itu belum pernah kukatakan padamu).



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.