Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Kisah Jinnat Ara
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 04 Maret 2002
Menyitir ucapan Muhammad Zuhri, konon, beberapa penghulu tasawuf pernah memaknai kecemasan dengan definisi yang unik, yakni sebagai khayalan dari khayalan orang-orang yang berkhayal. Jika diyakini bahwa perbuatan berkhayal hakekatnya tidak produktif, produk dari kegiatan berkhayal itu, yakni khayalan, sudah tentu adalah kesia-siaan atau nonsens, betapa pun indahnya rupa khayalan itu di hadapan kesadaran.
Lucunya, khayalan yang terlalu diakrabi seringkali beranak-pinak lagi dalam kesadaran orang yang berkhayal itu, yakni menjadi serangkaian khayalan atau turunan nonsens lain, yang disebut kekhawatiran. Jadi, kekhawatiran itu sesungguhnya amat tidak produktif, setidaknya, bagi pengkhayalnya sendiri. Khayalan, termasuk kekhawatiran, menjauhkan pelakunya dari realitas yag sesungguhnya.
Jinnat Ara, seorang perempuan Bengali, dipinang dengan nama Tuhan. Baginya tidak hanya mahar yang disodorkan, tetapi juga bentangan kasih-sayang, perlindungan, dan rasa aman. Jinnat Ara sendiri mungkin adalah tipikal, salah satu contoh, muslimah salehah dari dunia ketiga yang hidup pada zaman modern. Ia pandai; sejak sekolah menengah, ia selalu mendapat beasiswa, hingga, ketika sebagian warga Bangladesh tinggal tulang berbalut kulit mesti bertahan hidup tanpa pekerjaan, tempat tinggal, dan makanan yang cukup, ia diminta mengabdi sebagai pegawai pemerintah di negaranya untuk kepentingan kesejahteraan penduduk sipil. Meskipun bekerja di kantor, tidak diizinkannya matahari mengakhiri tugasnya mendahului dirinya. Pernah ia pergi ke beberapa negara asing, tetapi selalu dengan tingkat keamanan sekualitas dinding rumahnya, yakni bertirai penutup rambut sampai lutut, dalam radius jangkauan tangan suaminya.
Tetapi, suatu kali, jauh dari angan-angannya tentang rasa aman, Jinnat harus pergi bertugas sendirian ke sebuah negara asing yang sebagian besar penduduknya bukan muslim, untuk waktu yang cukup lama. Musibah pun datang beruntun. Suaminya masuk rumah sakit. Ketika kerinduan mencekik lehernya dan ia menelepon anaknya, putri semata wayangnya itu mogok bicara. Ketika ia sedang terseok dalam kelunya kesendirian dan ditemukannya sebuah mesjid tempat istirahat, seorang tak dikenal menjambret tas berikut semua surat penting dan uangnya.
”Saya tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya,” terawang Jinnat dengan mata berkaca-kaca. ”Ketika saya pergi, saya membayangkan bahwa saya tengah menyakiti suami saya dengan meninggalkannya, lalu saya khawatir bahwa suami saya tidak bahagia, dan ternyata, ia betul-betul sakit. Saat pagi, saya membayangkan ibu mertua saya kewalahan mengurus anak saya, saya mengkhawatirkan mereka, dan di telepon, saya mendengar anak saya menangis terus. Dan saat siang suami saya mengkhawatirkan keselamatan saya, ia tentu membayangkan bahwa saya ada dalam kondisi amat terancam sendirian di negeri orang, dan … tas saya dijambret orang. ”
Bukan salah negara yang menugaskannya. Bukan salah suami yang tulus mengizinkannya. Bukan salahnya juga menjadi pintar. Tetapi, jika tidak ada yang salah, mengapa semua begitu tidak beres?
Eksotika Jinnat Ara untuk tetap tersenyum di hadapan kemelut mungkin membuat sebuah khayalan tentang muslimah yang kuat dan salehah menjadi nyata. Tetapi, yang terindah darinya adalah sebuah kenyataan, bahwa ia baru saja menemukan betapa destruktifnya kekhawatiran itu. Di dalam cinta, bayangan buruk tentang orang yang dicintai dan kekhawatiran yang menyertainya, seperti doa buruk yang dikabulkan. Wallahu’alam.

Comments»
Tanpa sadar,suatu hari atau bahkan beberapa kali dalam kehidupan saya, saya pun pernah merasa dihadapkan pada situasi dan kondisi yang menjadi nyata, yang pada awalnya hanya berupa lintasan perasaan sesaat saja.ALLAH memang selalu sesuai prasangka hamba-Nya…