Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Ketika Pertanyaan Sudah Terjawab
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonasi, Republika, Senin
Jalan Merdeka Bandung selalu ramai, apalagi menjelang petang. Jalan itu memang lebar, hingga bisa menampung empat jalur kendaraan yang leluasa melaju. Jalur itu sering bertambah dengan angkot dan taksi yang berhenti di depan mal terbesar yang memang berlokasi di salah satu sisi jalan itu. Toko buku dan makanan pun bertebaran di seberangnya.
Beberapa hari yang lalu, jalan ini bertambah padat karena waktu ajaran baru sekolah akan segera dimulai. Kemacetan kecil terjadi, sementara para pejalan kaki berdesak-desakan di antara gelaran pedagang kaki lima dan kaca-kaca spion mobil yang maju berlahan-lahan.
Para pengendara mobil tampak harus mengerahkan keterampilan ekstra untuk bisa terus menjalankan mobilnya tanpa menyenggol gelaran atau pun orang-orang yang lalu lalang, sementara para ibu memegang erat tangan anak-anaknya. Setiap celah yang tersisa di antara roda-roda mobil yang berjalan, diparkir, dan gelaran kaki lima di bibir got-got yang menganga, dipenuhi kaki manusia.
Tetapi, semua itu ternyata belum cukup. Anak gadis saya, yang terpaksa harus juga menjadi bagian dari kewaspadaan umum yang melelahkan itu, masih juga harus terpekik cemas ketika kakinya hampir menginjak sebuah tubuh yang tergolek.
Bukan tubuh kucing atau anjing, tetapi itu tubuh seorang manusia, tepatnya, tubuh seorang anak perempuan kecil. Tubuh itu tergeletak begitu saja di atas selembar kardus. Rambut, kulit dan bajunya compang-camping kumal berdebu kecoklatan, dan mukanya hitam-hitam, mungkin oleh sampah arang penjual sate yang sedang asyik berdagang hanya beberapa tindak dari dirinya. Sebuah kotak kecil tergeletak di samping kepalanya, berisi beberapa keping uang seratus perak.
“Bu, anak itu tidur atau mati?” tanya anak saya, setajam sembilu.
Dan saya pun hanya bisa menjawab dengan tolol, “Duh, ibu nggak tau ….”
Ada rasa bersalah purba yang kemudian mengusik saya. Maka, saya pun meneruskan, “Ibu nggak bisa lihat anak seperti itu. Kasihan, tetapi juga bingung mau diapakan.”
Padahal sesungguhnya, saya tidak hanya kasihan dan bingung, tetapi juga curiga dan marah. Mana itu orang tuanya, yang dengan gilanya membiarkan anaknya tertidur begitu saja menantang roda-roda mobil dan injakan para pejalan kaki? Terlalu berprasangka burukkah saya? Mungkin saja, orang tuanya sesungguhnya tinggal nun di desa yang jauh dan miskin, dan sedang bingung bukan kepalang kehilangan anaknya.
Tetapi, mungkin juga kata seorang kolega saya dalam pelatihan HAM yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kota Bandung baru-baru ini juga benar, bahwa kini, banyak orang tua yang telah terlalu miskin secara pendidikan dan ekonomi, hingga ide menaruh anak seperti itu justru menjadi salah satu ide cemerlang untuk menangguk uang. Atau, anak itu telah dijual oleh orang tuanya kepada germo yang memang telah terprofesionalisasi oleh himpitan ekonomi dan berbagai program pembinaan yang tidak juga bergigi, untuk dijadikan aset ekonomi.
Tiba-tiba saya teringat pertanyaan anak gadis saya beberapa waktu sebelumnya, ketika sedang berlibur bersama. Sehabis menciumi wajah saya, sambil tersenyum cerah dia bertanya,
“Bu, kasih-sayang itu bagaimana? Kok nggak terasa ya?”
Saya balik bertanya, “Kamu sekarang merasa sayang dan disayang, nggak?”
“Ya. Tetapi, terasanya seperti nggak sadar, begitu.”
Dan saya pun menjawab lagi, “Karena kasih-sayang kadang-kadang hanya terasa kalau dia hilang.”
Ketika melihat anak kecil itu, dengan getir hati saya pun bergumam, sesungguhnya, kehilangan kasih-sayang itu tidak perlu ada contohnya.

Comments»
Kami jadi heran juga? Kenapa comments-nya baru kami yang menulis? But, it's OK-lah. We don't care with it 2 much. Btw, we would like 2 say that we're one of your great fans. Kami "jatuh cinta" pada tulisan yang pertama kali kami baca di kolom "RESONANSI"-nya Republika Senin 12 Mei 2003. Then the goes by…. we're still looking if u [Mrs. Miranda] had any notes r such thing you wrote before or you'll write next.
Alhamdulillah, setelah lama kucari, akhirnya ketemu lagi. Terakhir kali kubaca tulisan Ibu di Resonansi, tentang pertemuan ibu dgn teman lama yang “cuma” S-1, lagi hamil, tapi sudah berbuat sesuatu, jadi guru di kampung tempatnya mengabdi. Waktu itu, saya lagi di bis dari Jakarta ke Bandung (juli 2002), mau studi S-2 di Jatinangor. Kini saya lagi di South Australia. Kalo tidak keberatan, saya mau membaca tulisan itu, sekali lagi. Please… Semoga semua aktivitas Ibu menjadi ibadah, berguna bagi ummat. Amin.
Selalu ada yang datang dan pergi dalam hidup ini ya mbak … SELALU