Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Ketika Matanya Berkaca-kaca
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 06 Mei 2002
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan sudut-sudut gedung itu telah lengang dari langkah manusia, kecuali beberapa mahasiswa yang berkutat dengan tugas susulan di beberapa unit komputer. Gadis berhidung mancung bermata bulat itu memegang setumpuk materi perkuliahan yang di-print dari internet, untuk dibaca. Ketika ia melihat saya bergegas, matanya yang selalu berkaca-kaca bersinar, dan dengan serta-merta, mengajak saya untuk menemaninya. Sebetulnya rumahnya bisa dicapai dengan jalan kaki lima belas menit. Sebetulnya saat itu baru awal perkuliahan. Di laboratorium komputer 24 jam itu, jika ia tertangkap basah tertidur dan bukannya bekerja, maka petugas keamanan pasti akan menghardiknya dengan serta-merta. Tetapi, ia tidak mau pulang.
Kepada saya ia berkata, ”Jangan pernah katakan saya rajin. Kau salah. Saya sangat mencemaskan waktu sebulan mendatang yang akan segera lewat, ketika kau akan melihat saya tidak akan membaca apa pun sampai semuanya terlambat.”
Anehnya, saya batalkan juga rencana saya untuk mengejar bus. Saya membiarkan diri terperangkap di dalam gedung dingin itu untuk membuka-buka web akademik sampai tersengal-sengal. Saya tidur secara sembunyi-sembunyi dari mata kelelawar petugas keamanan, sampai jerih seluruh tubuh. Jangan dikira si perempuan bermata berkaca-kaca itu juga lalu duduk di sebelah saya. Dia pergi ke sudut lain, sibuk dengan internet. Ketika menjelang subuh, ia membangunkan saya. Kaca-kaca di matanya berkata bahwa ia tidak bisa membaca dengan baik. Dan pulanglah saya untuk mengejar waktu sembahyang dengan keletihan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Si perempuan India itu, untuk apa ia menyiksa diri jika ia tahu bahwa sebulan lagi, yang akan ditemuinya hanya kehancurannya sendiri? Saya sendiri, untuk apa menemaninya? Hal itu hanya menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk menghikmati cerita kegagalan yang bahkan seperti sudah, maaf, direncanakan? Sungguh, kecemasan dan pesimismenya seakan-akan sudah membuat kegagalannya menjadi nyata, sekali pun mungkin, ia tidak menyadarinya.
Tetapi, saya tidak bisa melupakannya. Matanya memang indah dan selalu berkaca-kaca. Jika saya menemuinya di siang bolong pun, semua cerita kecemasannya membuat dunia seperti gelap seketika itu juga. Ia berdarah India, dibesarkan di Hongkong, dan menetap di tengah kota paling metropolis di Australia. Ia akrab dengan tradisi spiritual Hindu, tetapi ingin berjilbab. Ia tipikal gadis ”masa depan”, yang tanah airnya bisa di mana saja. Kepalanya bisa berada di dunia nyata, tetapi hatinya di dunia maya. Ia lebih banyak berhadapan dengan layar komputer daripada wajah manusia. Ia menghayati spiritualitas sebagai wacana antikepastian yang berada di luar term salah atau benar. Kenyamanan membuatnya bosan, dan keberlebihan membuatnya tidak seimbang. Jadi, diciptakan oleh dia kecemasan sendiri, diancamnya diri sendiri dengan kegagalan yang dibayangkannya sendiri, lantas disiksanya diri sendiri di lab komputer pada saat semua orang berhak terlena dengan nyaman. Untuk apa?
Dan saya tanyakan kepadanya, ”Untuk apa?”
”Untuk menjawab kecemasan saya. Tidak ada yang pasti bahkan satu detik ke depan, bukan? Dan ketika saya sadar tentang itu, saya hanya ingin memastikan bahwa saya telah berbuat sesuatu. Akhirnya, saya hanya bisa kembali kepada perbuatan saya sendiri. Saya ingin … apa itu istilahnya? Bersyukur?”
Dan matanya berkaca-kaca. Saya sungguh tidak bisa melupakan keindahan sekaligus kepedihannya.

Comments»
Bersyukur..
mengapa kita selalu harus diingatkan dahulu,
mengapa tak terjadi otomatis?
karena mungkin saya terlalu rendah..