jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Kekerasan Yang Layak

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 13 Oktober 2003

Meskipun menjadi mahasiswa tidak bisa dinikmati oleh setiap orang, mahasiswa bukan satu-satunya kelompok elitis di dunia ini yang dipastikan bakal meraih masa depan yang cemerlang. Banyak orang muda yang inovatif, optimis, dan tekun, dapat sukses tanpa harus menjadi mahasiswa. Dan, sebaliknya, banyak mahasiswa yang kemudian menjadi pengangguran terselubung setelah topi wisuda bertengger di kepalanya.Dua mahasiswa datang sore itu. Mereka pandai. Tetapi, mereka tetap orang biasa. Kekhususannya hanya, kedua mahasiswa itu adalah mahasiswa senior yang bertugas mengorganisasi program penyesuaian mahasiswa baru selama 1,5 bulan pertama masa perkuliahan.

Evaluasi memang selalu mulai dari sisi gelap; tentang berkurangnya mahasiswa baru yang ikut program, atau sulitnya mengorganisasi senior yang berperan sebagai mentor mata kuliah. Yang menarik adalah kejujuran mereka untuk mengemukakan adanya aktivitas ‘’pengkondisian’’. Itu adalah aktivitas memarahi junior yang kurang disiplin, kurang sopan, atau tidak melaksanakan tugas.

‘’Sudah bagus, tidak ada kekerasan fisik. Itu memang bukan tradisi dunia akademis. Tetapi, untuk apa ketegangan psikis dalam ‘pengkondisian’ itu sebetulnya, hingga selalu menjadi bagian dari program penerimaan mahasiswa baru di mana-mana? Apa sesungguhnya yang mau disampaikan kepada para mahasiswa baru itu?’’

‘’Rasa senasib dalam kesulitan. Supaya di antara mereka tercipta rasa kebersamaan dan kekompakan,’’ jawab mereka.

‘’Tetapi, bukankah rasa kebersamaan yang esensial dan bertahan lama tidak timbul karena tekanan dari luar, tetapi karena memang individu-individu yang terlibat ingin bersama-sama?’’

Mereka tersenyum kecut. Tetapi, matahari memancar juga di balik usaha mereka, meskipun mungkin, mereka tidak sepenuhnya menyadarinya. Dengan susah-payah, mereka telah melakukan program mentoring perkuliahan, hingga mahasiswa junior bisa dibimbing oleh para seniornya untuk lebih memahami materi kuliah dan cara belajar di perguruan tinggi. Mereka juga telah melaksanakan program pengenalan keterampilan dan etika menulis, hingga tidak mesti ada lagi tugas yang dibuat dengan mengaku isi buku orang lain sebagai karya milik sendiri, tanpa rasa bersalah.

Cara mereka membimbing tampaknya sejalan dengan rekan-rekan mereka dari salah satu perguruan terkemuka lain, yang bersama para juniornya telah sukses membersihkan dan mempercantik hamparan dinding batu di Jalan Siliwangi Bandung dengan lukisan terpanjang di Indonesia.

Diploma atau toga sarjana memang terlalu berharga untuk didapat dengan mudah. Para mahasiswa pun perlu mengalami kekerasan. Tetapi, kekerasan itu mestilah dapat mendongkrak anak-anak muda ranum itu untuk punya stamina intelektual memasuki belantara kepastian dan ketidakpastian ilmiah; stamina yang dapat membuat mereka mampu berpikir kritis, orisinal, dan bertahan dalam menemukan pemecahan persoalan pelik dalam masyarakat.

Maka, hukuman akademis bagi plagiator atau penyogok, harus amat keras. Rasa malu karena tidak dapat berargumentasi dengan baik atau tidak peka terhadap persoalan nyata di masyarakat, juga harus diciptakan. Tetapi, selebihnya, stamina intelektual itu hanya dapat menguat di atas kecintaan kepada ilmu dan masyarakat.

Jadi? Jika harus ada kekerasan yang dibudayakan, itu adalah budaya kekerasan berpikir. Sebaliknya, biarlah kelembutan hati menghangatkan sebuah institusi pendidikan. Dan ini berarti, selamat tinggal buat kekerasan lainnya, dalam segala bentuknya.

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.