jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Jihad Bagi Irak?

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 14 April 2003

Spirit artinya semangat atau ghirah. Jadi, jika Anda dan saya betul-betul spiritualis, Anda dan saya seyogianya adalah orang-orang yang punya semangat atau ghirah yang tinggi juga, apalagi dalam membela sesama Muslim yang teraniaya.

Dalam konteks ini, semua orang Islam pasti sadar bahwa salah satu semangat paling terhormat sebagai seorang Muslim adalah kesediaan dan bahkan kesempatan untuk mati membela agama. Spirit ini pula yang membuat Islam ditakuti karena mengajarkan penganutnya berani bersahabat dengan ketidakpastian tertinggi: kematian.

Namun, keadilan Ilahiah terindah bahwa setiap manusia yang beriman telah dianugerahi dengan “senjata”-nya sendiri, sesuai dengan kompetensinya. Hal ini jugalah yang membuat Islam menjadi alternatif gerakan moral yang terstruktur, ketika seorang ilmuwan berjihad dengan argumentasi akademis yang ditemukannya; seorang wartawa berjihad dengan tulisannya; seorang tentara berjihad dengan keterampilan menggunakan senjata; dan seterusnya; dalam gerakan yang tersistem, di bawah isu sentral yang sama, dan di semua lini.

Ingin mati secara terhormat dalam kompetensi masing-masing? Selain tentara yang mati dalam konflik bersenjata, setiap pemeran memiliki risiko yang sama. Seorang ilmuwan bisa juga mati karena ilmunya. Lihat itu seorang ahli yang telah mati terinfeksi ketika sedang meneliti virus SARS. Sayangnya, sejauh pengetahuan saya, ilmuwan ini bukan orang Indonesia atau Islam.

Beberapa waktu yang lalu, seorang dosen senior di fakultas hukum tempat saya mengajar, Huala Adolf, membuat saya terperangah. Ketika itu tengah terjadi perbincangan hangat tentang fenomena Irak. Karena menyitir majalah Time, mereka memamaki istilah “perang Irak”.

Mendengar itu, dosen yang terkenal rendah hati dan pendiam itu mendadak menyanggah dengan wibawa akademis yang telak, “Dalam hukum internasional, perang harus melalui pengumuman resmi dari negara yang bersangkutan. Situasi Irak bukan situasi perang, tetapi okupasi!”

Perang tentu masih lebih bagus dan adil maknanya daripada okupasi atau pendudukan. Ratusan mahasiswa dan intelektual di tempatnya mengajar dan memberikan seminar tentu terpapar juga opininya itu. Bagi saya, hal itu sudah sebuah jihad seorang ilmuwan.

Hari-hari ini, konon, Irak telah turun panas. Meriang baru memang timbul karena penjarahan di mana-mana. Namun, Amerika dan sekutunya lantas menekankan janji pemulihan. Mungkin logika politik picisan itu memang tengah berlaku lagi, bahwa Irak yang kaya minyak itu ditekan terlebih dulu sampai mempreteli kekuatan senjatanya sendiri, lalu digempur juga tanpa ampun atas dasar tuduhan yang sepenuhnya belum terbukti itu.

Lalu, ketika rakyatnya telah bersimbah darah atau sekarat oleh kekurangan obat-obatan, makanan, dan air bersih, bantuan dialirkan dari tangan yang sama.Semoga pemikiran negatif saya ini salah. Semoga gerakan sosial kemanusiaan yang mungkin juga telah membuat Anda berjihad dengan harta, tenaga, dan intelektualitas, itulah yang menopang rakyat Irak sekarang.

Semoga gerakan independen berbendera Palang Merah, Bulan Sabit Merah, dan Singa dan Matahari Merahlah, yang paling berperan.

Baku tembak mungkin telah berhenti. Namun, tampaknya “proses penjajahan” masih akan berjalan karena Irak sekarang amat rentan ketergantungan. Jihad bagi Irak masih relevan, tidak dalam arti sempit dan reaktif tentunya, tetapi dalam arti strategis, sesuai dengan kompetensi kita masing-masing.

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.