jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Generasi Tanpa Kampung Halaman

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 21 April 2003

Suatu kali, dalam sebuah rapat yang kasual dengan teh manis, kacang, dan ubi rebus di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, beberapa guru besar sastra berbincang tentang isi Rancangan Undang-Undang Kebahasaan.

Seperti laiknya pertemuan para pakar bahasa, situasi informal dalam rapat itu tetap berisi lintas pendapat yang berbobot, yang dikemukakan dalam bahasa lisan Indonesia yang baik, sopan, dan benar. Ketika tengah memperbincangkan bahasa Indonesia sebagai fenomena sejarah, budaya, dan politik, seorang ahli yang sudah sepuh mengemukakan pendapatnya tentang sebuah fenomena baru.

Saya sendiri bukan ahli bahasa, tetapi hanya asisten ahli teknik perancangan naskah undang-undang, yang diajak hadir oleh seorang senior saya dari fakultas hukum, untuk membantu penulisan konsep naskah akademik rancangan undang-undang itu. Karenanya, mendengar cara mereka berbincang saja, saya sudah ternganga.

Fenomena itu adalah gaya bertutur baru, yang bisa jadi mewakili potret generasi muda “zaman sekarang”. Coba nyalakan tombol radio atau televisi, dan simak cara para presenter belia berbicara dalam bahasa Indonesia. Terutama jika acara yang mereka bawakan adalah acara-acara hiburan bagi kaum muda, bahasa yang dipakai biasanya bukan bahasa standar, yang bagi mereka, mungkin terlalu datar, membosankan, dan bahkan kuno.

Tabik-tabik seperti, “Selamat siang, Saudara” atau “Selamat malam, Pemirsa”, disampaikan dengan lebih ceria seperti, “Pa kabar, Rekan-rekan Muda semuanya!”; “Mojang-Bujang, kita jumpa lagi …”, atau bahkan, “Wah, di studio sedang panas sekalee! Di situ panas juga nggak nih?”

Beberapa presenter radio swasta bahkan sering tampak berusaha begitu kerasnya untuk tidak tampil membosankan, hingga semua hal yang tidak lucu pun berusaha disampaikan sambil tertawa-tawa. Supaya tambah “keren”, biasanya beberapa presenter pun mencampur kata-kata Indonesianya dengan kata-kata Inggris, atau paling tidak, dengan gaya berbicara seorang permanent resident dari “Aussie” (Australia), “Yukei” (Inggris), atau “Amrik” (USA) yang baru hijrah kembali ke tanah air, yang mengubah penyebutan “t” menjadi “c”, atau mengeluarkan kalimat-kalimatnya dari bibir sekaligus hidung.

Lucunya, gaya bicara sengau mereka itu terkadang masih tetap diwarnai oleh berbagai kesalahan pengucapan asli dari beberapa kata Inggris itu sendiri. Mereka biasanya punya nama sendiri bagi cara mereka berbahasa ini, yakni “bahasa gaul”. Bahasa-bahasa itu tentu saja tidak akan dipakai ketika mereka sedang berdiskusi dengan dosen pembimbing skripsi mereka, tetapi memenuhi boks pesan telepon genggam, internet, dan ruang dalam mobil atau meja kencan malam minggu mereka.

Dan tampaknya, merekalah itu; lelaki dan perempuan belia yang telah mengantungi telepon genggam, kunci tas lap top, atau bahkan kunci mobil, dan kunci salah satu rumah orang tua mereka, ketika usia mereka baru belasan atau awal kepala dua.

Lingkungan pergaulan yang mereka cari adalah lingkungan imajinatif penuh janji metropolis di layar-layar internet, gedung-gedung perkantoran atau mal-mal mewah, dan bukan lingkungan yang menyuarakan kebenaran sebagian besar rakyatnya sendiri seperti laporan-laporan penelitian yang akurat tentang ketimpangan sosial ekonomi, kawasan tergusur dan terbelakang, atau desa-desa tradisional. Mereka lapar akan buah dari kemajuan, tetapi tidak kenal akarnya.Jika Kartini masih hidup saat ini, mungkin ia akan segera memilih untuk segera menutup matanya kembali.

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.