Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Duh Heryanto
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 1 September 2003
Semula saya mengingatnya dengan nama Haryanto, Yanto, atau siapa. Kenyataan ia gantung diri di kabel telepon, gara-gara tidak bisa membayar ongkos prakarya SD sebesar Rp 2.500 yang diharuskan gurunya, seakan fenomena yang terjadi nun jauh di sana, di Garut, yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat saya tinggal dan bekerja di Bandung.
Tetapi, setiap saya pulang kerja dan turun dari angkot yang melintas di depan Rumah Sakit Hasan Sadikin, saya selalu bilang pada sopir angkot, ”Berhenti di depan kamar mati ya, Pak,” tanpa terpikir bahwa mungkin anak itu masih tergolek antara hidup dan mati dalam jangkauan langkah kaki saya. Kata berita koran, Heryanto masih dirawat di rumah sakit itu. Tetapi, saya tidak tahu ruang ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin itu sebelah mana. Ada keinginan untuk melupakan fenomenanya saja, menolaknya saja, dan menganggapnya seakan-akan tidak ada.
Hingga beberapa hari lalu, Ketua Mahkamah Agung, Pak Bagir Manan, melakukan kunjungan kasual ke kantor tempat saya dan para kolega biasa melakukan pertemuan untuk membahas perkuliahan. Berbagai fenomena hukum dan sosial diperbincangkan hingga seorang kolega mencuatkan nama Heryanto. Dan kesantunan saya tiba-tiba menguap beberapa detik.
Kuku-kuku saya terasa sakit di telapak tangan ketika jari-jari saya mengepal oleh perasaan yang ikut keluar, ”Hanya karena uang dua ribu lima ratus perak, Pak Bagir ….” Dan, ketika dari bibir suhu ilmu hukum itu terlontar kata-kata nurani yang spontan, ”Ya, apalah arti sumbangan 10 juta jika ia sudah seperti itu ….” Saya baru tersadar bahwa saya pun amat terluka.
Anak saya duduk di samping saya. Di sampingnya beberapa lembar seragam baru yang masih putih bersih tergeletak, menunggu tangan saya menjahitkan bet yang harga satuannya Rp 3.000. Hari Minggu ia harus mengikuti tiga acara ekstra kurikuler, dan ia bercerita akan mengikuti acara yang lumayan murah saja, seharga Rp 8.000, yakni tadabur alam dengan kelompok kerohanian. Anak saya terbesar itu seusia Heryanto.
”Syukuri uang mingguanmu dengan mengaturnya baik-baik, ya,” kata saya. ”Heryanto gantung diri hanya karena uang Rp 2.500 yang tidak bisa didapatnya.”
Anak saya tertegun.
”Begitu miskinnya? Mungkin dia juga nggak tau bahwa gantung diri itu dosa besar, ya Bu?” katanya berusaha arif.
Sambil mengiyakan, luka dalam hati saya seperti menganga dan berkata, ”Anakmu bisa arif begitu, bukankah karena ia berkesempatan mengenyam pendidikan yang kini semakin mahal?”
Belum lama berselang, kearifan ada di mana-mana dan tidak dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi seseorang. Kearifan adalah buah dari cinta yang tulus untuk hidup dan menghidupkan, dengan nama Tuhan. Ia bisa dihikmati oleh bayi yang ditidurkan oleh senandung berpetuah dari ibunya, oleh anak-anak yang menikmati dongeng dari gurunya, hingga anggota masyarakat yang rajin berkumpul di langgar atau banjar untuk silaturahmi dengan pemangkunya, yang hanya hidup dari bertani.
Bahkan, kearifan telah lama diyakini datang bukan dari iklim metropolitan yang telah terlalu dibebani oleh obsesi material, tetapi dari hikmah tertinggi kesahajaan hidup di antara peradian.
Kini, kesahajaan yang luhur telah malih rupa menjadi kemelaratan yang kompleks dan menekan. Pelajaran prakarya yang biasanya adalah salah satu pelajaran yang paling menghibur, sudah minta korban. Salah satu rantai terlemah masyarakat, yakni anak miskin macam Heryanto, sudah melakukan percobaan bunuh diri. Di negara ini banyak orang hidup, tetapi kehidupan mungkin sudah lenyap. Apa yang harus kita lakukan?

Comments»
mbak..MRA..
saya tertegun dan akhirnya bersyukur..
terima kasih Allah..
atas semua karuniamu untuk ku…
tak kan mungkin ku hitung..
walaupun sebanyak tinta di samudra untuk menuliskannnya..
Alhamdulillah…