jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Diskriminasi Terhadap Laki-laki

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 28 Juli 2003

“Bu, apakah pakai seragam SMP menurut standar Depdiknas itu sama dengan pakai celana biru pendek yang hanya menutupi setengah paha?” tanya seorang anak lelaki yang baru berhasil masuk ke sebuah SMP Negeri favorit.

Anak itu salah satu lulusan terbaik sebuah SD Islam, yang sudah hapal di luar kepala makna aurat, termasuk aurat lelaki, dan waktu ketentuan agama itu menjadi wajib. Dengan gelisah anak itu berkata, “Saya suka sekolah di SMP ini.

Tetapi, jika teman-teman perempuan saya yang berkerudung sudah boleh pakai rok panjang seperti muslimah dewasa, kenapa saya tidak boleh pakai celana panjang seperti muslim dewasa?”

Masih banyak orang berpikir bahwa diskriminasi jender adalah persoalan perempuan. Pernikahan misalnya, masih sering dipandang memiliki dua fungsi yang berbeda. Jika yang menikah lelaki, maka ia seperti dibenarkan untuk melepaskan sebagian tanggung jawab untuk mengurus dirinya sendiri.

Sedangkan jika yang menikah perempuan, maka ia harus bersiap-siap menjadi pekerja multifokus, yang andal mengurus dirinya sendiri, suami, dan juga anak-anak yang kelak dilahirkannya. Padahal, pandangan ini tentu tidak menguntungkan kaum lelaki, karena seakan-akan, kaum perempuan jadi berkesempatan belajar dewasa lebih luas daripada kaum lelaki.

Seharusnya, perkawinan adalah ikatan kerja-sama yang luhur. Pembagian tugas antara peran mengurus rumah tangga dan mencari nafkah dilangsungkan seperti pembagian tugas profesional sebuah tim, yang punya kompetensi sendiri-sendiri.

Konsekuensinya, bantuan mencari uang tambahan dari pihak istri atau partisipasi pihak suami dalam mengurus rumah, memperhatikan istri dan membesarkan anak-anak, bukan barang tabu, tetapi nilai tambah.

Lebih jauh lagi, seorang rekanita saya yang ahli hukum pidana pernah penasaran. Ia bertanya, mungkinkah pelecehan seksual tidak hanya mengorbankan perempuan, tetapi juga laki-laki?

Sejauh ini, korban perkosaan biasanya memang kaum perempuan. Argumentasinya, “Secara fisik, jika seorang lelaki tidak mau, tentu ia tidak bisa. Tetapi, perempuan itu selalu bisa, meski pun terpaksa.”

Tetapi mungkin saja, pelecehan seksual terhadap lelaki terjadi dengan cara yang berbeda. Di negara-negara mayoritas non muslim yang tidak menekankan kesalehan seksual, banyak contoh bisa ditemukan. Dalam sebuah majalah remaja berbahasa asing, seorang gadis menulis surat tentang kecemasannya kehilangan keperawanannya, padahal ia berasal dari penganut agama yang taat.

Katanya, ia telah berpesta dengan seorang anak lelaki, minum alkohol hingga mabuk berat, dan ketika sadar, didapatinya teman lelakinya itu sesumbar telah tidur dengannya tanpa disadarinya. Jika hal itu betul terjadi, tentu telah terjadi pelecehan seksual terhadap perempuan.

Tetapi, ditemukan juga keluhan seorang lelaki remaja yang merasa terjebak oleh kemanjaan dan rayuan partner malam minggunya, hingga ia lengah, menidurinya, dan baru tersadar bahwa ia terjebak berbuat salah ketika ternyata partnernya hamil, sementara ia tidak pernah merasa betul-betul mencintainya. Mungkin, hanya sedikit orang yang bakal terima jika anak lelaki itu lantas mengeluh bahwa ia telah dilecehkan secara seksual.

Di banyak negara maju yang berbudaya kerja, banyak lelaki mengeluh karena ia tidak bisa menemani istrinya melahirkan, atau bahkan tidak bisa memiliki waktu cukup untuk bermain dengan anak-anaknya. Karenanya, mungkin sudah waktunya untuk meninjau ulang cara pandang yang hanya menjadikan perempuan sebagai objek diskriminasi.

Comments»

1. shinta - Thu, 21 Jun 2007

Saya seorang ibu yang lagi mengandung 8 bulan, yang mau saya tanyakan adalah apakah saya berhak marah jika saya minta pendapat suami terus suami saya mengabaikannya begitu saja, sekalipun hal yang sangat penting. Terus kalau saya nanya terus sampai suami saya marah, apakah saya harus berdiam saja? kalau saya balik mengomel sama suami, saya berdosa apa tidak?
Terimakasih sebelunya,



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.