Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Disiplin
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 29 September 2003
Saya mempunyai seorang kerabat yang saya kagumi. Di usianya yang setengah baya, ia telah memegang jabatan yang cukup tinggi di lingkungan Pemerintahan Daerah. Tetapi, kedudukannya itu dirintis dari bawah, dengan kerja keras, tanpa sogok atau suap. Ia pun tidak lantas berkehidupan bak ningrat daerah yang otoriter dan sulit dijamah.
Sebaliknya, ia adalah salah satu anggota keluarga yang kuat, yang selalu siap bersimpuh bersama untuk melindungi keluarga besarnya. Sekali seminggu, ia masih mengantar istrinya belanja ke pasar. Kerabat saya itu lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), Bandung.
Baru-baru ini, tersiar kabar bahwa seorang mahasiswa junior STPDN meninggal dianiaya seniornya. Sejak mendengar berita itu, saya belum sempat bertemu dengan kerabat saya itu lagi. Tetapi, penghormatan saya terhadap lembaga itu membuat saya menyimpulkan, bahwa itu mungkin memang risiko terburuk dari kecenderungan pembinaan mahasiswa baru di semua perguruan tinggi di Indonesia. Perih sekali memang, dan tak ada satu pun term akal sehat yang bisa membenarkannya. Tetapi, hal itu bukan pertama kalinya terjadi.
Sebuah perguruan tinggi bergengsi lainnya juga pernah kehilangan seorang tunasnya karena dalam masa penerimaan mahasiswa baru di luar kampus, mahasiswa baru perguruan tinggi itu tidak tahan disuruh bertelanjang dada di udara yang dingin-lembab. Takut dimarahi seniornya, mahasiswa itu lantas memaksakan diri hingga penyakitnya kambuh. Ia pun meninggal disertai hujan air mata seluruh kota.
Tetapi, betulkah kematian mahasiswa STPDN itu adalah insiden dan terjadi karena kelengahan oknum mahasiswa seniornya? Kabarnya, visum dokter membuktikan bahwa mahasiswa STPDN itu meninggal dengan sebagian tulang yang tidak lagi utuh. Dan itu jelas-jelas bukan karena dia mabuk lalu tertabrak mobil, atau linglung lantas terjatuh dari ketinggian. Dia adalah mahasiswa baik dan sehat yang punya keinginan kuat untuk studi di lembaga itu. Ironisnya, ia meninggal karena seniornya, secara sadar, melakukan tindakan pendisiplinan yang maksimal. Sang senior ini juga, diduga kuat, tidak melakukannya sendirian di tempat yang gelap, tetapi secara bersama-sama, di depan banyak mata.
Saya jadi teringat bahwa pernah, ada kasus seorang siswa di Jepang juga mati karena tindakan pendisiplinan oleh gurunya. Absurdnya, ia mati hanya karena, tidak lebih dan tidak kurang: terjepit pintu. Jepit-menjepit pintu itu berakhir amat fatal karena siswa jam karet itu berlari berusaha menerobos masuk ke sekolah, sedangkan gurunya, dengan darah dingin, mendorong pintu geser yang dilewati siswa itu sampai tertutup, dengan amat keras.
Sampai pusing saya berpikir, apa sesungguhnya makna terdalam dari tindakan pendisiplinan seperti itu selain, maaf, kekonyolan? Disiplin yang esensial, saya kira bukanlah timbul karena tekanan dari luar, tetapi dari kesadaran di dalam pelaku sendiri. Seharusnya, pendisiplinan yang baik membuat si subjek dapat menemukan wibawanya, karena ia secara suka rela dapat mengekang diri melawan godaan untuk tidak menaati peraturan. Kesukarelaan untuk taat itu sendiri tidak mungkin timbul jika ia tidak pernah memahami arti taat bagi dirinya, atau tidak pernah merasakan pengalaman yang menyenangkan dalam proses berdisiplin.
Sekarang, saya ingin bertanya kepada kerabat saya itu, bagaimana pendidikan di STPDN itu sesungguhnya. Bukankah lulusan STPDN, seharusnya, dapat berwibawa dan diandalkan seperti dirinya, dan tidak masuk liang kubur dengan retak di tulangnya?

Comments»
Budaya kekeraan dan mentalitas “wajib takluk pada senior” yang nggakjelas batas-nya sebaiknya harus di bina (maksudnya: binasakan) .
Wibawa di dapat bukan dari rasa takut stadium akut, melainkan respek thd nilai2 dan kebebasan pribadi yang terstruktur
sangat disayangkan kegiatan perpeloncoan yang kelewat batas ini.
Semoga nggak terjadi lagi deh..