jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Di Dalam Tuhan

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 9 September 2002

Jika badan saya pegal-linu karena kurang tidur atau gagal menghindar dari angin awal musim semi Australia yang terkenal temperamental, saya sering merindukan perempuan tua itu. Ia tukang pijat kampung di kota kecil Tasikmalaya yang tinggal di gubuk. Ia tanpa mencantumkan tarif, tetapi selalu mengawali dan mengakhiri kerjanya dengan doa bagi kesembuhan orang yang dipijatnya.

Memijat adalah satu-satunya keterampilan yang didapatnya dalam penantian, ketika saat gerakan PKI menghangat sekitar bulan September 1965, suaminya pergi mengajar ke langgar yang dibangunnya sendiri, dijemput oleh dua orang berseragam yang tidak dikenal, dan setelah berhari, berbulan, bertahun, tidak pernah kembali lagi. Ia mengakui kabut yang hampir abadi itu menyelimuti paruh hidupnya sejak saat itu. Absurdnya, selama puluhan tahun ia masih berharap akan kepulangan suaminya.

Selain memercayai dan mengasihi sesama, banyak agama besar menganggap berharap sebagai sebuah kemestian, bukan saja secara natural, tetapi juga secara spiritual. Bahkan, ada agama yang mewajibkan umatnya untuk selalu berharap.

Sejauh ini, tidak ada jawaban yang memuaskan, mengapa semua itu diharuskan. Karena bukan psikolog, saya juga tidak tahu mana yang benar: psikologi analitis yang menyatakan bahwa berharap adalah tanda pelarian orang sakit jiwa yang dikecewakan oleh realitas yang tidak adil, atau psikologi humanis yang meyatakan bahwa berharap justru adalah tanda dari kesehatan mental seseorang, yang berani kecewa, berani menyelam sampai menemukan dasar kekecewaannya, dan menjadi pemenang dengan menemukan harapan yang lebih sejati di lembah terdalam kekecewaannya. Yang pasti, setiap orang hidup agaknya dapat menemukan bahwa berharap itu refleksi jiwa, alami, dan bahkan sebuah berkah, seperti halnya bernapas.

Lucunya, setiap menghikmati kehadiran Mak Iti, saya justru seperti mau gila, bukan dia. Bagaimanapun, dia bisa terus tersenyum dengan shalawat dan tasbih dalam berharap naif seperti itu? Apakah bukannya ia sedang membiarkan diri dilukai terus-menerus oleh harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan? Mengapa ia tidak disadarkan untuk secara jujur memberi kesempatan bagi dirinya untuk terluka, dan mengganti harapannya dengan hal-hal yang lebih mungkin terpenuhi?

Tetapi, bibirnya selalu basah dengan nama-Nya. Derita itu tampaknya telah menjadi tangga rohnya untuk menggapai Allah. Saya yakin bahwa Mak Iti pasti telah pernah sampai kepada titik ketika hubungan dengan-Nya agak rumit, yakni ketika doa akan kepulangan suaminya tidak kunjung dipenuhi, tetapi ia sadar bahwa Allah tetaplah Allah, Yang Mahakuasa, yang hanya dengan mengucapkan “Kun” saja, sesungguhnya, bisa membuat yang menurutnya “harus terjadi” menjadi “terjadi”.

Tetapi Mak Iti memilih mengikuti para nabi. Para nabi yang menyitir Fromm, tidak pernah memprediksi masa depan atau membingkai kekiniannya dengan harapan di masa depan, tetapi melihat realitas di depannya dengan apa adanya, dengan bebas dari kebutaan manusiawi, prasangka buruk, bahkan opini publik dan kekuasaaan. Dengan zikirnya, ia telah masuk ke dalam paradoks harapan: ia memiliki harapan yang baik, tetapi tidak bergantung kepadanya. Ia memilih tergantung kepada sumber dari segala sumber harapan: Allah. Karenanya, sebuah realitas spiritual yang rumit telah dicapainya, ketika berharap. Ia menemukan Allah dalam diri-Nya. Ketika berzikir, ia menemukan diri di dalam Allah, dan dalam kekuasaan-Nya, Allah nyata menguatkan, meskipun tidak bisa ditunjuk dengan jari.

Comments»

1. mia - Sun, 26 Aug 2007

wonderful… :smile:

2. ikhsan - Mon, 27 Aug 2007

Indah,
Bagaimana dengan orang-orang yang tidak percaya pada-Nya?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.