jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Dan Air Pun Mengalir

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 27 Oktober 2003

Bulan suci hendaknya disambut dengan suka cita, karena kebenaran dan kedamaian jiwa lebih mudah dicapai. Bulan suci hendaknya disambut dengan bahagia, karena bagi pengamal puasa, bertemu dengan bulan suci adalah seperti bertemu dengan kekasih hatinya.

Tetapi, bagaimana jika kebahagiaan, suka cita dan kesyukuran itu lebih sebagai jargon yang dikondisikan oleh pengajian, pelatihan, hingga penawaran khusus di pasar-pasar swalayan? Bagaimana jika para pelaku puasa tersenyum lebar, bersuka cita dan bersyukur, hanya sebagai formalitas orang beragama saja?

Kini, terus-terang saja, sudah sulit bagi saya untuk secara mendalam menghikmati tangan lusuh yang meminta di persimpangan jalan raya, sebagai tangan malaikat pencacah ketulusan, yang dibungkus Tuhan dengan balutan kain kusam. Beberapa waktu yang lalu, keping rupiah akan langsung keluar dari dompet dan bercahaya disambar oleh rasa ingin memberi yang menemukan wadahnya.

Kini, para peminta-minta dan pengamen itu telah terlalu banyak dan komplikatif. Semua orang tahu bahwa lebih banyak dari mereka yang jadi peminta-minta atau pengamen bukan karena terdesak oleh musibah sementara. Kemiskinan struktural sudah menjelmakan mereka menjadi kelompok pekerja baru di kota-kota besar, di samping kelompok birokrat, ilmuwan, pedagang, atau buruh, yang berkantor di sepanjang jalan raya. Mereka kerap terorganisasi, punya serangkaian teknik menyentuh hati, dan bertambah jumlahnya dari hari ke hari. Memberi mereka berarti menyetujui. Tetapi jika tidak, mereka harus makan dari mana lagi?

Ketika sebagian amat kecil orang Indonesia masih dapat mengambil bunga deposito dari uang miliaran rupiah yang tersimpan di bank-bank, dan menguasai 50 persen apartemen di pusat kota yang harga termurahnya 2 miliar rupiah sebagai rumah kedua atau ketiga, sebagian besar kaum terpelajar dan pengusaha ternganga. Mereka adalah tenaga kerja yang sudah terancam sakit jantung atau tekanan darah tinggi pada usia terlalu muda karena tekanan kerja yang tidak ada hentinya, yang tidak diimbangi oleh penghasilan yang sepadan. Mereka lalu tertawa getir sambil berkata, “Paling murah dua miliar? Saya kira dua puluh juta. Enggak boleh diangsur ya?”

Sementara itu, jangan sebut urusan itu di depan orang-orang yang biasa membunuh malam di warung kopi dengan gelas yang bersihnya hanya karena dibenamkan dalam seember air curian yang itu-itu juga. Mungkin mereka hanya berkata, “Dua miliar itu betul-betul uang punya satu orang?” Atau, sumpah-serapah puntung rokok dan kerikil langsung beterbangan, karena mereka lalu ingat penggusuran rumah bedeng di balik gedung perkantoran sekaligus tanah mereka di desa yang sudah amblas terjual.

Tetapi, coba nyalakan televisi atau internet. Nikmati semua yang ada di sana, termasuk goyang bokong, goyang dada, dan goyang kata yang meloncat dari bahasa Indonesia baku ke bahasa Inggris secara suka-suka. Istirahat rasanya bukan? Lumayan, bukan?

Mendengar adzan pertama memasuki Ramadhan, air mengalir di telapak tangan, tetapi juga di pelupuk mata. Mohon maaf jika sempat ada kedukaan yang dalam. Tepi jalan raya sudah jadi kantor orang-orang miskin. Perumahan yang marak dibangun justru dibeli tidak untuk ditinggali. Mereka yang disebut elite idealis terpelajar banting tulang memeras sumsum mengontrak rumah yang jauh dari standar menengah, sementara di sana-sini tangis korban penggusuran terdengar dan terdengar lagi. Rumah pun tinggal dunia semu di layar gelas dan layar komputer.

“Ya Allah, kami sakit. Kami ingin pulang. Kami ingin sembuh.”

Comments»

1. bd yuw - Thu, 20 Sep 2007

… orang2 yang punya kasur sangat empuk, tapi gak bisa tidur nyenyak, lebih nyenyak pemulung yg tidur beralas kantong semen.

… orang2 yang mampu beli hotdog, tapi gak bisa ‘nelen’, lebih enak penyapu jalan melahap nasi sayur ‘opyok-opyok’.

… orang2 yang pengin masuk sorga, tapi takut mati. Padahal tak ada sorga tanpa diawali dengan kematian….

… kasiaan…



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.