jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Buih atau Setetes Air

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 28 Oktober 2002

Jika peledakan bom di Bali itu seumpama gempa di dasar laut, gelombangnya sudah meruyak ketenangan bumi jauh sampai ke seberang benua. Dunia memang sudah amat menciut oleh teknologi informasi. Kawan saya yang duduk beberapa meter di hadapan saya, di tengah kota Sydney, Australia, sudah menerima berita pengeboman itu hanya dalam hitungan jam segera setelah peristiwa itu terjadi, melalui telepon genggamnya.

Jangan tanya silang berita dan saling kutuk yang langsung malang-melintang melalui internet sehari setelahnya, yang membuat penyiar berita radio dan televisi internasional berlomba melebihi kecepatan kuda di pacuan paling terkemuka di dunia hanya untuk memastikan bahwa mereka masih menjadi pembawa berita paling aktual.

Terus terang saja, sehari setelah peristiwa itu, saya sendiri sempat jengkel ketika menemukan kegentaran asing yang tak terelakkan saat kali pertama saya harus melangkahkan kaki keluar rumah. Sungguh berisiko menjadi manusia berwajah Asia, berkerudung pula, di tengah kota orang-orang berkulit putih; orang-orang kulit putih yang biasa membuka dada, perut, dan pahanya untuk menyambut matahari musim panas, yang baru terkagetkan oleh matinya puluhan orang warganya di sebuah negara di Asia, yang mayoritas berpenduduk Muslim, dan semula cukup mereka percaya.

Saya menghibur diri dengan kenyataan bahwa di lingkungan akademis tempat saya tugas belajar, konflik biasanya ternetralisasi oleh kuatnya daya kritis dan rasionalitas. Tetapi, meskipun cukup jauh dari Sydney, apa mau dikata ketika tersiar berita bahwa telah terjadi penembakan dua orang mahasiswa Asia yang sedang belajar di kelasnya?

Konon, Rasulullah saw pernah memperingatkan bahwa akan ada saat ketika umat Islam berjumlah amat banyak, tetapi kualitasnya hanya seperti buih di samudra. Mereka-reka kapan waktunya mungkin hanya akan membuat pertanyaan bersambut dengan prasangka. Kemarin, sekarang, atau esok itu tidak penting. Gelombang ada kapan saja, di mana saja, dan bisa datang tiba-tiba saja.

Menjadi buih berarti tidak menjadi apa-apa. Ketika gelombang terjadi ke arah yang lebih baik, manusia buih tidak pernah memimpin. Ketika gelombang adalah bencana, manusia buih adalah objek yang tidak tahu apa-apa, naif, tetapi paling rentan menjadi penderita utama. Manusia buih tidak punya harga diri yang sehat karena ia tidak mengenal betul dirinya.

Jika pun ia merasa mengenal dirinya, ia tidak pernah dapat mengambil sikap yang tegas dan bijak karena pengetahuan tentang dirinya tidak berasal dari kehakikian di dalam dirinya sendiri. Manusia buih tidak kritis, mudah terombang-ambing, tidak bernilai, tidak berisi, dan rapuh.

Jika saya harus menyodorkan contoh konkret manusia buih, saya kira saya tidak perlu pergi jauh-jauh. Sama sekali tidak kompeten dan tidak etis juga jika saya menunjuk diri Anda atau orang lain sebagai contoh. Yang jelas, kualitas buih ada dalam diri saya. Setiap manusia, kata kaum pesimistis, adalah hanya buih dari lingkungan sosial yang menekan, atau bahkan struktur yang tidak adil.

Tetapi, peringatan sang rasul tentu terlalu mulia jika hanya untuk menebar mendung di hati umat. Ia sendiri, menyitir Muhammad Zuhri, adalah setetes air yang merangkum samudera: ia tidak ampang seperti buih, tidak sok kuat, dan berkhayal menjadi gelombang, tetapi bening mewartakan kehadiran Allah; Samudera hati setiap manusia yang sebenarnya. Jika ia bersama dengan mukmin lainnya, ia menciptakan gelombang kebaikan. Tinggal kemudian, siapa kita?

Comments»

no comments yet - be the first?



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.