Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Berpikir
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 5 Mei 2003
“Tahukah Anda, mengapa hanya sedikit perusahaan yang dapat menerangkan dengan jelas etika perusahaannya, seperti: profesionalitas, independensi, transparansi, kejujuran, dan loyalitas, serta mengoperasikan perusahaannya menurut etika tersebut?”
Tanya doktor filsafat berambut pirang itu dengan serius. Para peserta forum pelatihan singkat hak asasi manusia (HAM) itu tercekat. Suasana musim gugur khas Australia di luar jendela membuat suasana semakin pucat.
Simon Longstaff, sang filsuf itu, lalu menjawab sendiri, “Karena kebanyakan pemimpin dan karyawan perusahaan bekerja hanya untuk bekerja, tetapi tidak berpikir.” Dan wajah para peserta pun terlongong. Tidak berpikir? Bukankah ketika seorang manusia baru bangun tidur pun, ia sudah segera mulai memikirkan, terlambat shalatkah ia atau akan sarapan apa ia pagi itu?
“Anda mengerti maksud saya?” tanyanya kurang yakin. Ia lalu memberi isyarat kepada saya, yang kebetulan ditugaskan mendampinginya, untuk menerjemahkan paparannya, “Tidak berpikir artinya tidak pernah bertanya, di mana dirinya, mengapa ia ada di posisi itu, ke mana ia akan membawa dan dibawa oleh posisi itu, dan sudah tepatkah dia bertindak selama itu. Tidak berpikir, artinya tidak pernah bersikap kritis.”
Usai kelas, saya jadi teringat pada suatu peristiwa yang baru saja terjadi, di salah satu perguruan tinggi di Australia juga. Ketika itu, seorang mahasiswa pascasarjana yang baru mengusaikan kuliahnya terkejut menerima surat invitasi wisudanya, karena dalam wisuda itu ternyata ia dinyatakan akan memperoleh penghargaan tertinggi.
Risetnya memang bagus dan ia menyelesaikan studinya dalam jangka waktu yang lebih cepat dari normal. Tetapi kemudian, ia menyadari bahwa sesungguhnya tidak semua nilainya A. Padahal, syarat penghargaan tertinggi itu semua nilai harus A.
Ia ingin mengonfirmasi penghargaan yang akan diterimanya itu, tetapi hampir tak ada yang mendukungnya. Mengapa keberuntungan harus dipertanyakan lagi, sehingga membuka kemungkinan penghargaan, yang tentu menjadi impian semua mahasiswa itu, terbang kembali dari tangannya?
Tetapi, ia begitu gelisah, hingga diangkatnya juga gagang telepon, “Saya akan sangat bergembira menerima penghargaan itu. Tetapi, mohon diperiksa lagi, layakkah saya?” Dan jawabannya memang adalah kebenaran yang melukai, “Kami sungguh mohon maaf telah menempatkanmu pada peringkat pertama.”
Saya tahu ia begitu limbung setelah itu. Hampir saja ia mendapatkan penghargaan tertinggi itu, tanpa seorang pun perlu tahu apakah itu keberuntungan atau keteledoran.
Puluhan orang lain di tanah airnya, Indonesia, bahkan rela membayar beberapa juta hanya untuk mendapatkan gelar master atau doktor tanpa harus bermalam di perpustakaan dan menangis kecapaian selama berbulan-bulan seperti dirinya.
Dan dia, apa yang dicarinya dengan melepaskan sebuah gelar impiannya hanya bagi sebuah nilai, yang mungkin, hanya kesunyian yang tahu?
Dengan mata basah, ia berjalan menembus malam, sendirian. Konon, hati nurani memang bukan untuk didefinisikan, tetapi untuk diikuti. Tetapi, hanya kesunyian yang memahami.
“Hati nurani itu apa? Saya tidak tahu artinya. Yang saya pahami kini hanya, bahwa hati nurani selalu tidak mengizinkan seseorang untuk terlalu gembira. Tetapi juga, adalah hati nurani yang selalu menjadi harga terakhir, ketika ia tengah tersungkur pada titik terbawah kelemahan dirinya.”
Ketika itu, tampaknya ia memang sedang berpikir. Berpikir seperti itu, yang adalah mendayagunakan seluruh kekuatan akalnya, ternyata memang tidak sederhana.

Comments»
assalaamu’alaikum mbak miranda.
kenalan ya, saya muhammad firman, aktivis aksara salman–unit penerus SKAU. kalaulah mbak belum tahu, SKAU sudah bubar sekitar tiga tahun yang lalu.
senang membaca tulisan di atas. menyentuh kegelisahan saya melihat rekan-rekan mahasiswa saat ini, ya di kampus, ya di salman, yang semakin jarang dan semakin malas untuk berfikir. dan tulisan di atas terasa menguatkan hati dan diri saya untuk senantiasa sadar ketika menjalani keseharian.
mbak, kalo ada waktu, datang lagi ya ke salman. sekre aksara di gedung kayu, lantai dua. masih di lantai yang sama dengan SKAU.
di aksara, kami juga sedang berusaha untuk terus menerus mengajak anak-anak muda itu berfikir. tentang dirinya, hidupnya, bumi di mana mereka berdiri, dan Tuhan.
dan mereka senantiasa menantikan setiap inspirasi, sesuatu yang saya yakin mbak miranda bisa memberi. kami tunggu
wassalaam.
….harus bermalam di perpustakaan dan menangis kecapaian selama berbulan-bulan seperti dirinya.
Mbak saya sangat terkesan dengan kalimat itu. Kerelaan untuk memberi pengorbanan yang besar untuk meraih sesuatu.
Saya sepakat dengan perkataan dosen itu, yang kemudian dilanjutkan oleh mba miranda. berfikir adalah bersikap kritis, kenapa kok bisa begini dan begitu dan berusaha untuk mencari jawabannya. memang filsafat mengajarkan berfikir logis, sehingga seorang filosof ideal tentu akan berusaha menjalani setiap jengkal hidupnya dengan kerangka berfikir yang kritis. kita juga sesungguhnya bisa belajar untuk berfikir kritis, karena kita dianugrahi akal, yang tentunya untuk berfikir. makanya dalam alqur’an, terdapat ayat yang artinya kurang lebih ” apakah kalian tidak berfikir (afala ta’qilun?). jadi hidup ini pake akal disamping juga pake hati. kombinasi lah. sekian dari saya.
ahmad, tki saudi arabia