Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Berakhir Pekan dengan Miranda Risang Ayu
Posted in Liputan Media , trackbackManusia, Muara Lelaki, dan Perempuan
Pikiran Rakyat, Minggu, 21 Desember 2003
SETELAH membuat janji lewat SMS, malam itu kami bertemu di rumahnya di kawasan Gegerkalong Hilir Bandung. Terakhir kami bertemu pada bulan Oktober yang lalu di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta untuk sama-sama berangkat mengikuti Kongres Kebudayaan di Bukittinggi bersama beberapa seniman lainnya. Sosok dan roman air mukanya tenang, tetapi tidak ketika ia menghadapi seorang petugas bandara yang dengan ketus menahannya menuju ruang tunggu pesawat karena menganggapnya belum check-in tiket di lantai satu. Tentu saja aneh. Maka, terjadilah sedikit keributan kecil. Untunglah K.H. Maman Imannul Haq, salah seorang anggota rombongan kami, melerainya. Ia tetap berlalu menuju ruang tunggu pesawat, meninggalkan petugas bandara yang berwajah masam itu. “Begini cara kamu melayani publik?” katanya sebelum pergi, tak kalah masamnya. Di tangga pesawat, meski tampak telah terlihat santai, ia kembali berkata dengan nada menggerutu, “Bagaimana negara mengurusi rakyatnya bisa kita lihat di bandara ini.”
Dalam Kongres Kebudayaan, setelah tampil sebagai salah seorang pembicara, perempuan kelahiran Bandung 10 Agustus 1969, penulis dan staf pengajar Fak. Hukum Unpad, serta alumni Law Faculty University of Techonology Sidney Australia ini lagi-lagi melakukan “keberanian”. Karena ingin pulang cepat, sehari sebelum penutupan, ia menukar tiketnya dengan penyair Acep Zamzam Noor. Kketika petugas bandara menanyakannya, dengan enteng ia mengatakan bahwa ia adalah istrinya. “Ya, tak apalah jika memang untuk itu saya harus jadi istrinya Acep. Yang penting saya bisa pulang,” kenangnya sambil tertawa.
Miranda Risang Ayu, putri pasangan Adri Palar dan Runi Palar. Ibu dari Muhamad Sadra Ali (13), Majma Al-Bahrani (10), dan Muhamad Nur Mahatma (7). Meski ia dikenal sebagai cerpenis (cerpen pertamanya dimuat di PR ketika ia duduk di bangku SMP), kolomnis, penyair, penulis atau seorang akademis yang banyak menggulati persoalan-persoalan hak cipta, tetapi percakapan kami malam itu lebih banyak menyangkut persoalan perempuan, anak, dan ibu. Termasuk tentang feminisme, dangdut, Inul, dan poligami. Pandangan-pandangannya lugas dan cenderung melihat persoalan dengan analisis yang ketat, seraya menghindar dari kehendak melakukan penilaian.
Seperti setiap kali bulan April, bulan Desember ini pun selalu ditandai peringatan yang ada hubungannya dengan peran dan isu tentang perempuan, terutama setiap tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Bagaimana Anda melihat tradisi peringatan-peringatan semacam itu dan hubungannya dengan isu-isu tentang perempuan?
Memperingati sesuatu itu kan mengandaikan bahwa ada isu yang akan terangkat ke permukaan, dalam hal ini mungkin isu tentang perempuan. Saya pikir sah-sah saja. Mungkin ada efeknya, tetapi sejauh apa efek tersebut tidak bisa terdeteksi, apakah kita hanya membuat kesibukan merayakannya atau tidak, itu tak bisa kita ketahui. Kita punya peringatan-peringatan khusus, ada Hari Ibu atau Hari kartini. Itu efeknya apa, ya, pada hari itu kita mengingat bahwa perempuan itu eksis, punya persoalan, punya pencapaian.
Selalu itu kemudian diikuti terangkatnya isu atau wacana tentang gender dan feminisme, yah?
(Merenung, tersenyum). Maaf, tentang feminisme, mungkin saya tidak bisa berapi-api. Bicara tentang feminisme, saya sendiri berpandangan pada tahap tertentu kita harus berhenti berpikir secara dikotomis tentang lelaki dan perempuan karena pada saat tertentu lelaki dan perempuan itu adalah manusia. Berpikir dikotomis itu saya pikir jangan dijadikan entry point. Misalnya lelaki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi di seluruh lapangan sosial, budaya, dan ekonomi. Akan tetapi, kemudian ada sejumlah perkecualian.
Nah, perkecualian itu hanya ada ketika, misalnya, dalam lapangan ekonomi perempuan boleh dong punya hak cuti hamil. Itu berkaitan dengan hak-hak reprodusksi dia yang khusus. Kita memberi dia diskriminasi yang positif dan untuk membela hak-hak dia. Isu feminisme saya pikir masih relevan jika kita bicara di tingkat, misalnya, realitas kaum perempuan yang kurang pendidikan dan kian dimiskinkan secara kultural, ekonomi, dan sosial hanya karena dia memang ada di lapisan sosial yang bawah. Akan tetapi, kalau isu-isu yang lain, saya pikir ada saatnya kita harus berhenti dikotomis semacam itu.
Oleh karena itu, penting untuk menjadikan pada suatu saat kita bisa fleksibel memandang diri kita sebagai manusia. Manusia itu kan muara dari lelaki dan perempuan. Kalau saya memilih dan memandang lelaki dan perempuan lebih dulu dalam kenyataannya sebagai manusia. Kalau ada kasus-kasus tertentu yang tidak terjadi di semua lingkungan saat kita harus melihat konteksnya, sebutlah TKW, barulah kita bicara dalam konteks yang sangat feminis.
Mungkin pandangan saya ini terbalik dari arus yang berkembang sekarang yang, katakanlah, ramai mempertanyakan mana perempuan di segi kuota di legistatif. Saya kira, dengan kita terlalu menggembar-gemborkan perempuan, perempuan itu malah menjadi objek.
Tetapi, mungkin itu berangkat dari realitas bahwa perempuan itu selalu hanya diberi hak di wilayah domestik, seraya membatasi perannya di wilayah publik?
Ketika kita bicara persoalan perempuan, kita jangan melihat persoalan itu sebagai persoalan perempuan an sich. Misalnya begini, perempuan itu sebuah subject matter persoalan yang sama dengan persoalan kebudayaan, ekonomi, dan lain-lain. Apa bedanya dong perempuan dengan itu semua? Padahal, saya pikir perempuan itu human, bukan objek. Dia yang memikirkan itu, jadi bukan dia yang dipikirkan saja. Maksud saya, dalam konteks itu harus ada cara-cara pandang tertentu. Tetapi, bukan berarti tak ada persoalan dalam konteks gender, tetapi ketika kita sadar ada persoalan maka kita harus bertanya lagi, kita mau memosisikan di mana?
Bagi saya, revolusi pemikiran yang ada itu justru kita mulai dengan tidak mendiskriminasikan perempuan. Perempuan jangan dijadikan sebuah objek. Jika ada persoalan ketimpangan lelaki-perempuan, kita jangan hanya melihatnya dari sisi perempuan. Katakanlah, ada perempuan yang demi status sosialnya rela menjadi istri ke-3 atau ke-4. Kalau dia suka tidak apa-apa, tetapi kalau dia tertekan itu persoalan lain. Persoalannya bukanlah saya yang melihatnya bahwa haknya dikesampingkan, tetapi persoalannya ada di balik itu semua. Ada kondisi sosial dan budaya yang membuat dia tak punya pilihan. Nah, persoalan sosial, ekonomi, dan budaya ini bukan hanya persoalan perempuan, tetapi juga lelaki. Oleh karena itulah, dalam konteks semacam itu kita harus berhenti bicara secara dikotomis dan sepihak.
**
PERCAKAPAN kami terpotong oleh suara HP yang lupa saya matikan. Lalu Miranda mengajak saya makan malam bersama adik dan dua kakak iparnya. “Sebelum saya berangkat ke Australia, memang ada tawaran untuk menjadi presenter sebuah acara dari dua stasiun TV, tetapi saya harus menyelesaikan S-II saya,” ujar mantan presenter acara “Tasawuf” di stasiun An-Teve ini. Usai itu, kami kembali ke ruang tengah dan melanjutkan percakapan. Masih tentang perempuan dan hubungannya dengan budaya tontonan yang diperlihatkan oleh berbagai program stasiun TV hingga menimbulkan banyak kontroversi, termasuk tentang dangdut dan lebih lagi Inul Daratista.
“Jangan menganggap remeh seorang Inul, dia punya kesadaran, lho! Dia memilih menjadi seperti itu dan saya yakin dia sadar risikonya. Dia pun punya cara untuk terus mengembangkan dirinya semacam itu. Masak itu dia lakukan tanpa kesadaran? Dia juga tahu harus mempertanggungjawabkannya pada dirinya sendiri, entah bagaimana caranya,” kata perempuan yang pernah tampil sebagai membawakan tari-tarian tradisional dalam acara-acara di Istana Negara ini. Sebagai koreografer bersama dua temannya, dia merancang beberapa tarian yang menggunakan medium gerakan lipatan kain. Semacam alternatif dari keindahan gerak dan lekuk tubuh perempuan.
Oke, Miranda, menyambung percakapan kita tadi. Lalu bagaimana Anda melihatnya dalam konteks media massa, dalam hal ini televisi, ketika perempuan banyak dianggap dieksploitasi seperti yang tampak pada acara-acara dangdut dengan frame budaya massa itu?
Eksploitasi itu kan terjadi ketika seseorang dimanfaatkan dan sebenarnya dia tidak rela. Atau dia dimanfaatkan dan efeknya tidak baik buat dia. Dari situlah dimulainya eksploitasi sehingga orang merasa teraniaya. Ambil contoh Inul, apakah dia merasa teraniaya? Rasanya tidak, tetapi masih ada problem lagi. Mungkin dia benar tak merasa teraniaya. Dia sadar punya potensi bokong yang gede, muter-muter, dan lain-lain. Dia memanfaatkan itu untuk kepentingan dia, menikmatinya, dan menjadikannya pencapaian terbaik buat dia. Justru upaya mengkritisinya itu menjadi semacam tantangan atau dia sedemikian polosnya sampai ia tak sadar teraniaya.
Itu kalau dari sisi perempuannya. Kalaupun perempuan itu tidak merasa teraniaya dan tereksploitasi, persoalan tetap belum selesai. Persoalannya mungkin dia belum sadar dan itu sulit men-judge. Dalam konteks Inul, saya tidak bisa men-judge, dia dieksploitasi atau tidak. Kalau dia senang dibegitukan, masak kita bilang dieksploitasi? Mungkin juga dia senang, tetapi tak sadar kalau dieksploitasi. Ketika nanti sadar, mungkin dia menyesal, mungkin juga begitu. Nah, kita tidak tahu dia sekarang di posisi apa.
Kalau dari sisi penonton, saya merasa tontonan-tontonan itu bukan mengeksploitasi Inul, tetapi mengeksploitasi penonton. Inul ditonton oleh saya dan Anda bukan problem. Kalau tak suka, tinggal pindahkan channel saja. Nah, kalau anak yang menonton? Inul itu kan di mana-mana. Bahkan, ada penari cilik yang megol-megol seperti Inul. Dalam konteks inilah televisi memaksakan kita mengapresiasi hal itu sehingga dikonsumsi anak-anak. Apa tidak ada yang lain? Bokong itu bagaimanapun adalah simbol yang sensual. Oleh karena itu, buat saya Inul itu bukan untuk konsumsi anak-anak. Ketika Inul dan tayangan-tayangan dangdut yang megol-megol lainnya itu ditayangkan dengan bebas dan ditonton anak-anak, itu adalah eksploitasi buat anak-anak.
Tentang anak-anak, saya jadi ingat bahwa Anda juga adalah pernah menulis buku yang banyak mengupas persoalan anak-anak. Dalam hubungan itu, tampaknya, seperti juga perempuan, anak-anak adalah realitas yang selalu menjadi objek, sejak di rumah apalagi di sekolah.
(Menghela napas berat). Kita itu sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak. Kita sudah punya Undang-Undang Hak Asasi Manusia, kita sudah punya Undang-Undang Perlindungan Anak. Tetapi, struktur sosial dan kondisi pendidikan kita belum berpihak pada anak-anak. Belum lagi kurikulum yang terlalu berat sehingga anak-anak tak punya waktu main yang banyak. Anak-anak itu apa bedanya dengan orang dewasa, punya hak untuk bermain.
Apakah Anda melihat juga kenyataan itu sebagai representasi dari pola pendidikan di rumah itu sendiri?
Saya kira, ya. Diskriminasi perempuan dan pengobjekan anak-anak itu berawal dari rumah. Begini, kita punya respek tidak pada mereka? Itu yang paling susah. Kita dibesarkan dalam tradisi bahwa anak-anak harus respek pada orang-tua, tetapi yang sebaliknya, sudah ada belum? Kita sudah tidak tahu ketulusan dan kepolosan itu apa. Hal-hal yang sebenarnya adalah kekuatan nurani. Anak-anak, diajari tidak diajari, masih punya. Dalam konteks itu kita harus melihat bahwa ada potensi anak-anak yang telah hilang pada diri kita. Kita bisa belajar pada mereka. Kita harus melihat bahwa mereka itu tidak sekecil dan tidak sesederhana yang kita kira.
Di balik itu dia punya kekuatan. Kita selalu memaksa mereka agar respek pada kita, bahkan ketika kita salah. Itu tak hanya buruk bagi anak, tetapi juga bagi orang-tuanya. Dalam relasinya dengan anak, orang tua jadi terlatih untuk membenarkan diri ketika dia salah, kan tolol!
Ya, inilah mungkin beban budaya menjadi orang tua di Indonesia ini. Mereka harus selalu tampil layaknya “nabi” yang harus penuh suri teladan, selalu bersih, pokoknya serbasempurna.
Nah, itulah. Padahal, itu tidak fair buat anak dan buat kita juga.
Selalu ada semacam psikologi kuasa dalam pendidikan kita. Semakin tua semakin merasa jadi penguasa. Baik di rumah maupun di sekolah.
Ya, itulah yang terjadi dan seharusnya tak perlu terjadi semacam itu. Kalaupun ada kekuasaan, seharusnya timbal balik. Anak pun punya kekuasaan atas orang-tua, begitu sebaliknya.
**
SERING ada istri yang merasa bahagia melayani keperluan suaminya sepanjang hari, sampai pada hal-hal yang sekecil apa pun. Sebagai lelaki, sulit sekali saya melogikakannya. Sebagai perempuan, bagaimana Anda melihat kebahagian semacam itu?
Nah, kalau ngomong gender, yang begini-begini sajalah, suka pusing saya (tertawa). Dalam konteks kebahagian, saya pikir kebahagian itu adalah ketika logika berhenti. Ia bukan sesuatu yang bisa kita rumuskan dengan pikiran, tetapi itu untuk ditemukan lewat kesungguhan. Perempuan yang berbahagia melayani suaminya itu punya kesungguhan melayani suaminya sepanjang hari selama bertahun-tahun dan dia merasa menemukan kebahagiaan. Kita sulit merasionalkannya, sebab itulah kebahagiaannya. Kebahagiaan itu tak bisa dilogikakan, tetapi dilakukan. Ketika dilakukan dia memberi nilai. Dia seperti amal. Semakin kita memberi banyak, kita justru merasa semakin kaya. Logis enggak? Enggak logis, kan! Logika amal dan cinta adalah logika yang dibalik.
Apa itu terjadi juga pada Anda?
Kadang-kadang iya, kadang enggak! (tertawa). Maksud saya begini, kebaikan itu ternyata satu step untuk mencapai keadilan. Hukum itu kan salah satu dasarnya adalah rasa keadilan, tetapi rasa keadilan itu apa, naon? Kalau dalam konteks tadi, dalam soal kebaikan, kita memberi dan kita semakin kaya, tetapi tetap ada batas. Perempuan yang merasa bahagia melayani suaminya sepanjang hari, itu mungkin dia merasa dia akan mendapat timbal balik.
Bukan berarti ada pamrih. Kalau ada pamrih, dia tidak akan menikmati prosesnya. Nah, timbal-balik itu saling memberi. Kalau hanya satu orang yang memberi terus dan dia menikmati itu, ya, tidak adil. Kebaikan itu sebetulnya baru bisa berkembang dalam relasi yang adil. Kalau tidak, itu bukan kebaikan, tetapi penyakit, dia jadi masokhis.
Dari pengalaman Anda sendiri, apa sih kebahagiaan seorang ibu itu?
Kebahagian seorang ibu itu, ketika dia merasa bahwa dari
dia yang tak berdaya itu keluar kehidupan. Kehidupan itu bahkan sering lebih besar dari dirinya. Anak, misalnya, ketika seorang ibu lemah di bawah lemah, dia bisa melahirkan kehidupan. Itu seperti mukjijat. Rasanya tidak mungkin orang dalam keadaan sakit bisa melahirkan. Melahirkan itu sakit tapi membahagiakan, tetapi ini bukan masokhis. Saya yakin semua ibu mengalaminya. Padahal, ketika itu dia sadar bahwa dia lemah. Ketika hamil, dia lemah secara psikologis, fisik, dan mental. Tetapi kok, dari kelemahan itu lahir kehidupan. Itu kan sebuah ketidaklogisan yang indah lagi. Mengapa dari kelemahan itu keluar kehidupan, bukan kematian atau kehancuran? Mengapa dari kelemahan itu muncul kekuatan?
Terakhir, beberapa waktu yang lalu banyak kalangan dibuat ramai gara-gara adanya Poligami Award. Anda sendiri setuju dengan Poligami?
(Termenung). Saya menemukan jawaban, jika ada pertanyaan, apa kamu mau dipoligami? Saya bilang, saya tidak mau karena saya punya ideal tertentu tentang pemikiran relasi perempuan dan lelaki. Tapi tidak lantas berarti bahwa semua perempuan juga harus tidak mau. Ada perempuan yang memang mau dan merasa itu sebagai bagian dari amal. Dia ikhlas, ya, tidak apa-apa. Karena memang ada satu situasi yang membuat itu menjadi pilihan terbaik dan darurat. Poligami itu ada dan realitas ada, tetapi harus dilihat itu bukan kultur dominan dan tidak boleh menjadi kultur dominan. Itu posisi saya. Masa ketika Rasulullah saw. harus dilihat dari logika yang paralel.
Rasulullah itu poligami, tetapi harus dibaca juga berapa istrinya di antara masyarakat ketika itu yang harem-nya puluhan. Buat masa itu Beliau beristri sedikit. Juga harus dilihat, bagaimana ketika masyarakat memiliki istri dan harem puluhan, dia sempat monogami, yaitu semasa dengan Khadijah. Nah, dalam konteks hari ini, poligami itu bukan kultur dominan tetapi juga bukan subkultur, kultur yang bukan dominan tetapi mudah menjadi patologis. Poligami bukan patologis karena memang ada yang suka.
Ada masyarakat saat kaum perempuannya ingin dipoligami untuk menaikkan status sosialnya, kita mau bilang apa untuk itu. Tetapi, kalau untuk saya sendiri, saya tidak mau. Boleh, kan saya punya hak untuk bilang tidak? *** (PR/Ahda Imran)

Comments»
Miiiiir…. Apa khabar ibu… saya tadi iseng googling tiba2 ajah keinget ama Mir langsung nemu ini *cihuiiiiy* asyiik bisa kontak Mir lagi dan baca2 tulisannya *lagi nyicil nih disela kesibukan kantor*
Mir masih inget aku engga? Masih suka mojok di Kanayakan? Jadi inget masa2 itu… latihan tari di Kanayakan
Mir ini yg nulis blog Miranda sendiri bukan ya?
Salam,
Eva
Saya sudah lama kehilangan kontak dengan Mbak Mir, sepertinya ketika Mbak Mir ke Australia. Info tentang pengajian Pak Muh saya dapatkan dari rekan saya Hadi yang tinggal di Gerlong. Kini rekan saya pergi ke Inggris, jadi makin ketinggalan deh infonya.
Pingin rasanya bisa kumpul-kumpul lagi kayak dulu.
Kalau boleh usul, foto keluarga Mbak Mir mbok ya ditampilin, buat tombo kangen. Sadra sudah kelas berapa sekarang, juga majma yang cerdas.
“Kamu seperti anak SMP”, katamu ketika itu di Alun-alun Yogya, tempat kita melepas kangen bersama Mas Emha. Padahal waktu itu aku udah kuliah di kampus yang sama, satu angkatan di atasmu dan satu ruang di GSSTF. Aku memang bertubuh bocah, bahkan hingga kini. Mudah terlupakan. Tak apa. Setidaknya, kau menyapaku, hi…hi….
Aku ikuti seluruh perjalananmu, sejak lama. Kolom-kolom Miranda di banyak media sungguh memberi inspirasi. Seperti membaca hidup. Teruslah jadi inspirasi dan motivator bagi banyak orang, ya! Oh ya, aku sekarang di Bogor, jadi pekerja biasa dan masih sendiri. Masih kecil, tapi alhamdulillah hidup…
Salam
Salam, apa kbr, mba? Kapan bs datang ke ponpes al-mizan di Jatiwangi?
Yup! Asyik, jadi pengin bincang-bincang. Apa kabar?