jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Beda Api dan Cahaya

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 01 April 2002

Suatu hari, seorang anak perempuan yang sedang beranjak besar ingin protes kepada ibunya. Ia sering melihat ibunya berurai air mata ketika bapaknya bersikap terlalu keras kepada perempuan itu. Ketika bapaknya berlaku keras kepadanya dan saudara-saudaranya, ibunya juga hanya menangis saja.

Ia ingat, ketika masih berusia empat tahun dan tidak ada orang yang cukup besar untuk melindungi hatinya dari kenakalan saudara-saudaranya yang lebih besar, perempuan itu bisa membuatnya merasa aman tidak dengan membelanya mati-matian, tetapi dengan mengajarkan keadilan dalam melerai konflik. Tetapi, ibunya sendiri tidak pernah membalas ketika disakiti. Kenapa perempuan itu selalu saja hanya diam, berurai air mata, dan mau menjadi objek dari perlakuan tidak adil?

Tetapi, anak perempuan itu kesulitan merancang kata-kata. Ayahnya juga punya ketegasan yang dikaguminya. Dan dalam hal ini, ia tidak bisa melawan kekagumannya sendiri. Pertanyaan kepada ibunya jadi disimpannya sendiri saja.

Sayangnya, itu tidak lama. Suatu saat dilihatnya ibunya berurai air mata sekali lagi, dan ia tahu persis bahwa itu bukan karena ayahnya. ”Ibu, kenapa menangis?” tanya anak perempuan itu akhirnya, untuk pertama kalinya.

”Ibu sakit hati,” jawab ibunya.

Gadis itu melihat butir-butir air keluar dari sudut mata perempuan yang amat disayanginya itu.

”Ibu selalu menangis,” kata-katanya seperti mendakwa, tetapi dengan mata yang juga membasah.

Ibunya menyodorkan sepiring nasi berlauk yang ia tahu persis diberikan dengan ikhlas oleh ibunya kepada seorang anak kampung tetangga yang amat miskin sehari sebelumnya. Ternyata, nasi berlauk itu dikembalikan oleh ibu si anak tetangga itu, sungguh dengan semena-mena, karena setelah si anak makan nasi itu, anak itu lalu, dikabarkan, kejang-kejang. Tuduhan langsung saja dilayangkan bahwa nasi itulah yang menyebabkan kekejangan si anak. Kemungkinan, si nasi dibubuhi guna-guna. Untuk apa? Ya, untuk apa ya? Untuk tumbal menjadi kaya, mungkin. Soalnya, siapa sih orang di zaman sekarang yang terlalu baik hingga mau sering-sering memberikan nasi dan baju baru kepada para tetangganya tanpa alasan apa-apa?

Gadis itu merasa api menghangat di dadanya yang kecil.

”Mengapa ibu hanya menangis?” protesnya. ”Ini tidak adil.”

Tetapi di sela-sela air mata, tampak senyum samar di wajah perempuan itu. Senyum itu membuat api semburat tidak lagi di dada, tetapi justru di dalam kesadaran gadis itu. Ya, tidak adil. Ibunya adalah seorang muslimah yang sungguh taat. Ibunya berbuat baik karena ia ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang lain. Jika rumahnya sedikit lebih baik dari beberapa tetangganya, itu karena ibunya pandai berusaha dan menabung. Mengapa kebaikan dibalas dengan keburukan?

”Terima kasih untuk marahmu, Sayang,” kata ibunya. ”Itu cukup.”

Cukup. Rasanya tidak cukup. Demi api yang menghangat secara objektif di dada dan kepala ini, itu tidak cukup.

Tetapi, ibunya menepuk-nepuk pipi gadis itu.

”Ibu ingin kaya. Bukan kaya uang, tetapi kaya hati. Dan hati itu aneh, ia menjadi kaya semakin ia banyak memberi dan mengerti.”

”Tetapi, kata Ibu dan kata guru agama, bukankah keadilan lebih utama daripada kebaikan?” protes gadis itu.

”Ya, tetapi keadilan yang tidak ditegakkan di atas api. Cahaya Keadilan Allah, Ibu rasa …, bukan hadir dari api, ‘kan?”

Dan titik air mata pun berhenti. Hangat api itu pun mereda. Sesama saudara kadang-kadang memang menjadi cobaan antara yang satu dan yang lainnya. Keadilan akan datang dengan sendirinya, ketika kesabaran telah menjadi satu-satunya harta. Demikiankah? ()

Comments»

1. eva handayani - Fri, 1 Dec 2006

Menghadirkan cahaya dalam hati berarti menghadirkan sejuta maaf dalam diri, mengikhlaskan seluruh derita hanya kepada-Nya, lalu tersenyumlah…. :)



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.