Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Arti Kebebasan
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 26 Mei 2003
Pinggiran kota Sydney, Australia, Mei 2003. Sore itu, setelah hujan tengah musim gugur. Udara amat dingin. Tidak ada keributan apa pun, selain bunyi pencuci pakaian yang sedang bekerja. Lampu penginapan hidup, lalu mati, lalu hidup lagi, seakan membiarkan setiap penghuni yang sedang mencuci baju menafsirkan sendiri: apakah bola lampunya sudah soak dan minta diganti, atau memang begitulah salah satu tabiat lampu di negara maju.
Dari Indonesia, kali ini saya datang untuk kontrak kerja selama 6 minggu. Meskipun tinggal di penginapan yang penuh, hingga memasuki minggu ketiga, saya tidak mengenal siapa pun, selain pemilik penginapan itu.
Di sebelah dalam pintu kamar penginapan saya, telah tertempel peraturan yang sangat jelas. Jadi, meskipun hampir tidak pernah saling bertegur-sapa, setiap orang di situ cenderung berperilaku sama: bahwa pembayaran uang sewa mingguan diusaikan sebelum jam sepuluh pagi, tidak mencuci dan menjemur baju di dalam kamar, tidak menerima tamu, tidak membuat keributan, tidak meninggalkan peralatan dapur dalam keadaan kotor, dan tidak menggunakan air panas lebih dari sepuluh menit setiap mandi.
Dengan menaati peraturan itu, setiap orang menikmati kebebasannya untuk melakukan apa pun, dengan tidak diganggu oleh siapa pun, sekali pun oleh orang yang tinggal bersebelahan pintu dengannya. Orang bebas tidur dan bangun sesukanya; menghibur diri dengan membaca, menonton televisi, atau mendengarkan kaset di kamarnya; memasak dan memakan apa pun yang disukainya; hingga mengatur dirinya sendiri sembari membebaskan orang lain untuk menjadi subjek yang paling kompeten dari dirinya sendiri juga. Orang bebas dari intervensi orang lain, berduaan saja hanya bersama kesadarannya sendiri.
Selama di penginapan itu, hanya satu kali saya berkesempatan makan siang dengan seorang sahabat perempuan Australia, di sebuah siang di akhir pekan. Sebetulnya, ketika itu cukup banyak orang yang lalu-lalang. Namun, hanya dia yang peduli kepada saya dan sebaliknya, sehingga dalam dua jam yang terlewati bersama itu seakan hanya ada dia dan saya.
Dalam usianya yang telah beranjak tua dan kariernya yang sudah stabil, ia paling suka menceritakan saat-saatnya yang paling mengesankan ketika ia menghabiskan semangkuk sup hangat di depan televisi, memasak makan malam dengan berhasil, menghangatkan tubuh di bawah selimut listrik, dan mengecat rambut pirangnya hingga lebih coklat. Singkatnya, semua ceritanya adalah tentang dirinya dan kesendiriannya, dan bukannya dirinya dengan orang lain.
Ia simpatisan setia Partai Liberal. Namun, kebebasan bukanlah serumit pembelaan AS untuk menginvasi Irak, tetapi makna yang terkandung dari petuah bapaknya ketika ia kecil.
“Ingat,” kata bapaknya selalu, “Tidak ada yang lebih rendah di antara dirimu, adik kakakmu, atau siapa pun lainnya. Namun, di antara orang-orang lain itu juga tidak ada yang mungkin melebihi kamu.”
Jadi, “kebebasan” ternyata punya aturan yang keras, yakni kewajiban untuk menyikapi orang lain yang berbeda dengan setara, dan membuat keunikan diri sendiri terlalu berharga untuk diserahkan di bawah kontrol orang lain.
Yang pasti, kebebasan bukanlah aksi banyak orang Indonesia yang datang ke Sydney, lantas mengecat rambutnya menjadi pirang, menutup kehitaman bola matanya dengan lensa kontak berwarna biru, berhenti salat, dan minum sampai mabuk.
Kebebasan tampaknya tidak selalu sama dengan “melanggar aturan”. Bagi saya sendiri, kebebasan hanyalah salah satu cara untuk menghikmati sunyinya menemukan diri sendiri, yang berbeda.

Comments»
Kebebasanpun tampaknya tidak selalu larut dalam kesunyiian diri ditemani suara burung2, bisikan angin, gemerecik air, atau symphony no.40-Bethoven. Karena kebebasan bisa didapatkan diantara berdesakannya orang2 dipasar, himpitan para penumpang busway, dan mungkin saja kebebasan itu kita dapatkan diantara tumpukan computers and peripherals serta serabutannya kabel2 seperti benang kusut.
Kebebasan adalah saat saya membayangkan mengagumi bumi yang kita pijak dari atas gunung manglayang, semeru, gede atau bahkan dari puncak everest, kebebasan menghirup oksigen kebebasan di atas ciptaan sang khalik. Tapi itu hanya bayangan dan impian. Terkadang saya berfikir bahwa kebebasan hanya ada dalm bayangan dan impian yang hanya dpt diungkapkan dalam selembar kanvas.
Kebebasan dapat kita rasakan manakala hati kita bisa keluar dari kekangan hawa nafsu.